Mindfulness Bisa Bikin Kamu Selfish, Kalau Caranya Keliru

Lionita Nidia
Mindfulness

Sore ini, sepulang kerja, kamu bergegas rebahan di kasur empukmu. AC menyala, stok makanan di kulkas penuh, saldo rekening berkurang belum separuh. Kamu bisa pilih untuk tidak buka sosmed, karena negara sedang keos-keosnya. Capek melihat bad news. Fokus ke diri sendiri dulu, menjaga kewarasanmu, mindfulness.

Sementara itu, di waktu yang sama, di belahan kota lain, seseorang lagi struggle menerjang asap karhutla, seseorang bahkan nggak bisa lagi menikmati kasurnya karena rumahnya runtuh kena gempa, seseorang luntang-lantung bingung mau kemana setelah kena PHK. Bagi mereka, bad news bukan lagi konten yang bisa di-skip. Mereka sedang mengalaminya.

Hanya orang-orang ber-privilege yang bisa membatasi diri dari kabar buruk, memilih kabur dari krisis. Konsep menjaga ketenangan batin lewat mindfulness akan terasa abstrak bagi sebagian orang.

Tidak salah, tidak ada yang melarang. Tapi, mindfulness yang kelewatan bisa bikin kamu menjadi self-centered sampai mengabaikan aspek sosial. Nggak peduli lagi dengan sesama, selfish.

Studi Ilmiah: Mindfulness Memang Bisa Bikin Egois

mindfulness become selfish

Michael Poulin, profesor psikologi dari University at Buffalo, melakukan studi yang diterbitkan di Psychological Science (2021). Beliau ingin tahu apakah mindfulness selalu bikin orang lebih baik, atau ada kondisi tertentu di mana ia justru bikin egois.

Hasilnya tergantung bagaimana kamu memandang dirimu sendiri (self-construal). Ada dua tipe:

Interdependen: Kamu melihat dirimu sebagai bagian dari “kita”. Kalau ditanya “siapa kamu?”, jawabannya mungkin “anak dari…”, “teman dari…”, “bagian dari komunitas…”

Independen: Kamu melihat dirimu sebagai individu tunggal. Kalau ditanya “siapa kamu?”, jawabannya lebih ke sifat pribadi: “aku pintar”, “aku humoris”, “aku mandiri.”

366 mahasiswa diajak meditasi fokus napas selama 15 menit. Setelah itu, mereka ditawari kesempatan membantu mengisi amplop amal untuk tunawisma.

Peserta dengan self-construal interdependen yang meditasi jadi 17% lebih banyak membantu dan 40% lebih mungkin volunteer. Peserta dengan self-construal independen yang meditasi justru jadi 15% lebih sedikit membantu dan 33% lebih enggan volunteer.

Kata Poulin, “Mindfulness can make you selfish… It’s a qualified fact, but it’s also accurate.”

Meditasi yang fokusnya cuma ke napas dan ke “peace-ku” membuat orang independen makin tertarik ke dalam dan lupa ke luar. Mereka jadi lebih tenang, iya. Tapi juga lebih cuek pada orang lain.

Mindfulness Kayaknya Nggak Gitu

Kalau kamu merasa mindfulness yang sekarang-sekarang ini digembar-gemborkan beda dari yang dulu diajarkan, agaknya itu benar.

Sebenarnya kan, mindfulness itu mengajak buat living in the moment. Menyadari sepenuhnya kondisi tubuh, pikiran, perasaan, dan lingkungan, tanpa terlalu overthinking akan masa lalu dan masa depan yang belum kejadian.

Tapi, sekarang orang menyandingkannya dengan pendekatan stoikisme, atau mencari ketenangan batin dengan menghindari hal-hal yang nggak bisa kamu kontrol. Ya kayak komentar orang lain, hasil akhir, cuaca, kejadian di luar sana. Praktik dan interpretasinya jadi macam-macam kalau rentetan peristiwa sedang kejadian di depan mata.

Ada juga yang memandang mindfulness sebagai teknik self-help untuk meningkatkan produktivitas diri.

Ronald Purser, profesor manajemen dari San Francisco State University, menulis buku berjudul McMindfulness: How Mindfulness Became the New Capitalist Spirituality (2019). Ia mengkritik keras bagaimana praktik meditasi Buddhis yang awalnya dimaksudkan untuk menyadarkan keterhubungan antarmanusia, sekarang sudah dicabut dari etika aslinya.

Purser bilang mindfulness cuma jadi alat untuk merasa baik sendiri tanpa perlu mengubah apa pun di luar diri. Perusahaan-perusahaan besar senang mengadopsinya karena ia memindahkan tanggung jawab masalah struktural ke pundak individu. Misalnya, kamu dianggap stres karena kurang meditasi, bukan karena sistem di sekitarmu bobrok.

Thomas Joiner, profesor psikologi dari Florida State University, lebih keras lagi. Ia menyebut praktik ini sudah dibelokkan jadi self-focused, self-glorification mechanism, atau mekanisme memuja diri sendiri di tengah budaya narsisme.

Spiritual Bypassing: Lari dari Realitas dengan Dalih Spiritual

spiritual bypassing

Ada nih istilah lain yang relevan: spiritual bypassing. Konsep ini dicetuskan oleh psikolog klinis John Welwood untuk mendeskripsikan kecenderungan memakai ide atau praktik spiritual untuk menghindari menghadapi masalah nyata dan emosi yang nggak nyaman.

Manifestasinya bisa macam-macam:

  • Penekanan berlebihan pada positivitas (pilih energi baik saja)
  • Penyangkalan terhadap penderitaan (semua ada hikmahnya)
  • Mengklaim sudah melewati emosi yang sebenarnya belum diproses
  • Memakai meditasi untuk menghindari konflik atau tanggung jawab sosial

Dalam konteks kekinian, spiritual bypassing bisa terlihat seperti: “Nggak ikut demo ah. Aku sedang menjaga kewarasanku” atau “Log off dari berita buruk deh, merusak vibes-ku.”

Niatnya mungkin benar menjaga diri. Tapi akhirnya terkesan nirempati. Kamu nggak hidup sendirian di Indonesia ini.

Tanda Kamu Salah Praktik Mindfulness

Biar lebih konkret, coba cek dulu tanda-tanda mindfulness-mu mungkin sudah melenceng:

1. Kamu Pakai Mindfulness untuk Menghindari Emosi yang Nggak Nyaman

Meditasi bukan untuk menekan marah, sedih, atau frustrasi. Kalau kamu meditasi supaya tidak perlu merasakan sesuatu, itu bukan mindfulness, tapi pelarian.

2. Kamu Merasa Lebih Superior dari Orang Lain

Kalau kamu merasa lebih berkembang dari orang lain, lalu mengajak mereka untuk mempraktikkan apa yang kamu lakukan dengan klaim hal itu berhasil mengubah dirimu, ada yang salah. Meditasi seharusnya bikin kamu rendah hati, bukan sombong.

3. Kamu Jadi Kurang Peduli pada Masalah Sekitar

Kalau praktik meditasimu bikin kamu makin cuek pada ketidakadilan, penderitaan orang lain, atau krisis di sekitarmu, itu bukan mindfulness yang sehat. Terlalu fokus pada penyembuhan diri sendiri kadang bisa membuatmu lupa bahwa kamu masih ada di dunia ini untuk membantu orang lain.

4. Kamu Terobsesi dengan “Vibes” dan Menghindari Kenyataan

“Aku cuma mau dikelilingi orang-orang dengan energi positif.” Bro, hidup itu kompleks. Menghindari semua yang negatif berarti kamu juga menghindari bagian penting dari menjadi manusia.

Jadi, Apakah Mindfulness Itu Buruk?

Sama sekali nggak. Masalahnya bukan pada praktiknya, tapi caramu memakainya.

Tania Singer, direktur di Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences, melakukan studi selama sembilan bulan yang menunjukkan bahwa nggak semua mindfulness sama.

Ada teknik yang fokus pada kehadiran (presence) seperti meditasi napas. Ada juga teknik yang fokus pada kompasion dan keterhubungan. Kayak Loving-kindness meditation: sengaja memikirkan rasa terhubung dengan orang lain, teman dekat, orang asing, bahkan orang yang sulit disukai; Mindful listening alias mendengarkan orang lain dengan perhatian penuh, tanpa buru-buru merespons atau menilai.

Teknik-teknik ini meningkatkan kompasian secara signifikan dan juga menurunkan respons stres.

Kata Singer, “Kamu belajar mendengar dengan empati, dan membuka kerentananmu sendiri”. Ini bikin kamu menyadari bahwa perasaan positif dan negatif adalah bagian dari pengalaman manusia yang dibagi bersama.

Cara Mindfulness yang Tepat di Era yang Nggak Baik-Baik Saja

meditation mindfulness

Kalau kamu tetap ingin praktik mindfulness tapi nggak mau jadi selfish, ini beberapa cara yang bisa dicoba:

1. Gabungkan Mindfulness dengan Kesadaran Sosial

Sebelum meditasi, luangkan waktu untuk membaca berita atau memahami konteks sosial. Jangan sengaja meditasi untuk lari dari informasi, tapi untuk memprosesnya dengan lebih sehat. Kamu bisa tetap tahu apa yang terjadi, lalu memberi dirimu jeda untuk bernapas sebelum bertindak.

2. Praktik Loving-Kindness Meditation

Daripada cuma fokus mengelola napas, coba luangkan waktu untuk memikirkan orang-orang yang sedang kesulitan. Kirimkan harapan baik dalam hatimu: “Semoga mereka aman, semoga mereka kuat, semoga mereka menemukan jalan keluar.” Afirmasi ini bisa benar-benar meningkatkan empati.

3. Mindful Action, Bukan Mindful Inaction

Mindfulness bukan berarti diam. Ia bisa berarti bertindak dengan kesadaran penuh. Ikut donasi, ikut aksi solidaritas, atau sekadar mengecek kabar teman yang sedang kesulitan. Semua itu bisa dilakukan dengan mindful. Yang penting, kamu hadir, (sekali lagi) bukan lari.

4. Kenali Privilegemu

Kalau kamu punya kemampuan untuk log off dari berita buruk, sadari bahwa itu adalah kemewahan. Pakai kesempatan itu buat membantu mereka yang tidak punya pilihan yang sama.

5. Jangan Takut Merasakan Emosi yang Tidak Nyaman

Marah, sedih, frustrasi, semua itu valid. Jangan gunakan meditasi untuk menekan emosi itu. Proses perlahan, lalu ubah jadi tindakan yang bermakna (maknanya harus positif ya).

Mindfulness itu sejatinya hanyalah alat. Ia bisa bikin kamu lebih tenang, lebih fokus, lebih waras. Tapi kalau kamu memakainya untuk bersembunyi dalam bubblemu supaya tidak terpapar panasnya dunia luar, itu namanya egois.

Menjaga kewarasan di tengah krisis itu penting. Tapi menjaga empati juga sangat perlu. Level tertinggi dari mindfulness bukan sekadar menceramahi orang untuk ikhlas menderita, tapi berani menapak tanah untuk ikut menghancurkan sumber penderitaan itu sendiri.

Silahkan meditasi, tapi jangan lupa buka mata setelahnya. Dunia masih butuh kamu yang waras, bukan kamu yang cuek.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan