Main Character Syndrome (Level Negara): Ego Jadi Sutradara, Empati Di-cut dari Naskah

Lionita Nidia
Main Character Syndrome level pemimpin negara

Bayangkan kamu sedang menonton sebuah film blockbuster beranggaran triliunan rupiah. Bercerita tentang seorang pria yang berambisi menjadi superhero di sebuah negara yang kaya. Tapi, ambisi tersebut membuat sang tokoh utama buta, lupa diri, sampai nggak sadar kalau dunia di sekitarnya perlahan-lahan runtuh.

Di kepalanya, dia sedang bekerja keras dan merasa sangat berjasa, padahal justru dia yang bikin damage dan membuat semua orang di sekitarnya menderita. Sepanjang film, kamu akan dibuat sebal dengan tingkah laku dan tutur katanya. Jiwa kepahlawanannya nol. Yang penting tampil eksis dan terlihat gagah.

Masih mau lanjut nonton?

Kalau di dunia psikologi dan budaya pop, fenomena ini sering disebut sebagai Main Character Syndrome (MCS) atau Sindrom Tokoh Utama. Pengidapnya akan merasa hidup mereka bagaikan film biopik dan orang lain cuma figuran.

Fenomena Main Character Syndrome bisa lebih mudah dipahami lewat cuplikan adegan-adegan di ilustrasi film superhero yang lagi dibahas ini.

Apa Itu Main Character Syndrome?

Main Character Syndrome sebenarnya bukan diagnosis medis resmi seperti NPD (Narcissistic Personality Disorder) yang ada di buku manual psikiatri DSM-5. MCS lebih kepada istilah pop-psychology untuk mendeskripsikan seseorang yang memandang dirinya sebagai sorotan atau tokoh utama, dan semua orang di sekitarnya adalah NPC (Non-Playable Characters/karakter latar).

Ciri-ciri utamanya haus validasi, gemar meromantisasi situasi, kurang empati, dan yang paling fatal hilangnya kesadaran diri (self-awareness).

Sang tokoh utama sering kali tidak sadar bahwa adegan “heroik” yang mereka mainkan sebenarnya merugikan, atau bahkan melukai, orang-orang di sekitarnya. Mereka pikir sedang save the world, padahal merekalah sumber masalahnya.

Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian

Ciri pertama pengidap MCS adalah dia harus selalu jadi sorotan. Nggak boleh ada satu pun momen yang luput dari wajahnya.

Misalnya, di film, ada satu adegan saat rakyat sedang berkumpul merayakan hari kemerdekaan dengan haru. Si superhero wannabe itu merasa jasanya perlu diabadikan di hamparan langit biru. Ia memerintahkan sekumpulan orang terjun dari pesawat sambil menerbangkan bendera raksasa bergambar wajahnya.

Scoring musiknya dibuat patriotik dan megah, supaya fokus penonton tertuju padanya.

Membesar-besarkan Cerita dan Overclaim

Ciri kedua: pengidap MCS cenderung membesar-besarkan narasi pribadinya. Hal kecil digambarkan seolah peristiwa besar yang penuh emosi. Tujuannya tentu menarik perhatian, mendapat empati, atau mencari pengakuan.

Nah di film itu tadi juga, sang tokoh utama doyan sekali naik podium buat berpidato. Isinya klaim-klaim yang membuat rakyat cuma bisa geleng kepala dan elus dada.

Bagi para NPC yang masih waras, klaimnya terdengar seperti glitch di dalam matrix. Tapi bagi sang tokoh utama yang terjebak dalam MCS, data fiktif yang dia sampaikan valid karena mendukung naskah bahwa “dia telah berhasil membawa perubahan dan mensejahterakan rakyat”.

Mengabaikan Perasaan Orang Lain

ilustrasi pemimpin negara main character syndrome

Ciri ketiga, dan yang paling berbahaya, pengidap MCS sering mengabaikan perasaan orang lain. Fokus yang berlebihan pada diri sendiri bikin mereka kurang peka terhadap kebutuhan dan emosi orang di sekitarnya. Tragedi orang lain cuma B-roll atau latar belakang dramatis untuk menunjukkan betapa sibuk dan hebatnya sang protagonis.

Adegan di film kira-kira bisa dibuat begini:

Setting lokasi negara itu sedang kacau. Bencana kebakaran, gempa bumi, melanda berbagai wilayah. Tapi alih-alih langsung terbang memadamkan api atau mengevakuasi korban, sang tokoh utama lebih memilih untuk berpesta pora dan mengadakan jamuan makan malam mewah di istana.

Empati? Oh nggak dulu. Itu konsep yang terlalu abstrak untuk dimasukkan ke dalam naskah.

Lalu ketika dia akhirnya sudi menengok lokasi bencana, rakyat yang mendukungnya sudah menyiapkan spanduk raksasa bergambar wajahnya di tengah-tengah puing-puing dan lokasi pengungsian.

Itu cuma cara sutradara memastikan framing kameranya pas, kok.

Terus di tengah korban bencana yang lagi trauma, kalimat yang meluncur dari mulutnya bukanlah doa atau janji pemulihan, melainkan pertanyaan defensif tentang citra dirinya.

Tapi ya namanya juga tokoh utama: pengakuan itu penting, perasaan orang lain dipikir nanti (atau nggak perlu sama sekali).

Mudah Tersinggung dan Anti-Kritik

Ciri keempat, pengidap MCS mudah tersinggung jika tidak mendapat perhatian atau mendapat kritik. Respons yang biasa saja dari orang lain kerap dianggap sebagai bentuk penolakan. Respons yang terang-terangan menolak dianggap penghambat.

Nggak setuju? Nyenyenye.. Ndasmu! Pindah negara saja sana.” Dialognya begitu.

Tokoh utama nggak mau introspeksi. Kritik justru dianggap sebagai serangan dari kekuatan asing.

Tapi kayaknya, kalau film ini diunggah ke Rotten Tomatoes, kritikus internasional dan media asing pasti memberinya skor merah. Superhero mana yang otoriter begitu, ya?

Faktor Penyebab MCS

Kenapa seseorang bisa mengidap MCS separah ini?

Situs Alodokter merinci, faktor pemicunya adalah pola asuh masa kecil yang tidak konsisten, pengalaman trauma atau kehilangan, lingkungan sosial yang kompetitif, pengaruh media sosial, harga diri yang rendah atau tidak stabil, kebutuhan validasi yang tinggi, hingga faktor biologis seperti ketidakseimbangan zat kimia otak.

Kalau buat film itu, ada alasannya juga kenapa tokoh utama sampai berakhlak buruk begitu. Ceritanya dia sudah sejak lama mendambakan posisi sebagai seorang superhero. Tapi bertahun-tahun, rakyat tidak pernah meliriknya.

Dalam psikologi, ada istilah narcissistic injury (luka narsistik). Ketika ego seseorang mengalami penolakan atau kegagalan berulang, lukanya tidak hilang, malah menumpuk dan menuntut kompensasi.

Ketika akhirnya mendapat panggung di percobaan terakhir, luka penolakan selama belasan tahun itu tidak serta-merta sembuh. Sebaliknya, ia meledak menjadi obsesi pembuktian. Negara tidak lagi dilihat sebagai entitas yang harus dilayani, tapi panggung raksasa untuk memvalidasi bahwa dialah sang The One yang selama ini salah ditolak.

Majalah Superjump pernah mengulas bagaimana MCS sering kali beririsan dengan kekuasaan ekstrem (The Billionaire Quest). Ketika seseorang punya kuasa absolut dan ego yang terluka, realitas di sekitarnya akan membengkok mengikuti naskah di kepalanya. Kebenaran menjadi subjektif. Data menjadi fiksi. Dan rakyat cuma dianggap sebagai properti panggung yang wajib mensyukuri jatah makan siang–gratis–nya.

Pemberontakan Para NPC

Karena muak dengan naskah yang nggak masuk akal ini, para NPC akhirnya mulai sadar. Mereka merusak fourth wall (dinding keempat).

Selebriti, musisi, dan idola yang posisinya sudah tinggi ikut turun gunung buat membela rakyat. Kompak mengajak penonton melontarkan sarkasme pedas untuk sang tokoh utama.

Tapi kan kalau kritik saja nggak mungkin didengar ya. Jadi NPC mulai bergotong royong melakukan gerakan boycott, menggelar aksi, dan donasi langsung ke korban bencana.

Sebenarnya cara terbaik menghadapi orang dengan Main Character Syndrome ya begitu itu. Melatih empati secara mandiri, menjaga batasan (boundaries), dan tidak ikut terseret dalam delusi mereka. Kamu nggak bisa menyembuhkan narsisme seseorang, tapi kamu bisa melindungi kewarasanmu sendiri.

Btw, ending filmnya sejauh ini belum terbayangkan sih. Kalau menurutmu, baiknya gimana nasib tokoh utamanya itu?

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan