Pernahkah kamu kepikiran dan khawatir berlebihan akan bagaimana nasibmu nanti di masa depan? Karier masih gitu-gitu aja, hubungan asmara berantakan, cicilan nggak kunjung lunas, dollar dan BBM naik, pemerintah korup.. Ah, masalah hidup kayak numpuk jadi satu gunung yang nggak mungkin sempat dilewati dalam satu hari. Belum tahu apa yang ada di puncak sana, tapi rasanya sudah ingin menyerah saja.
Kamu pasti tidak sendirian. Secara naluriah, manusia akan selalu memperhatikan hal-hal atau situasi yang dianggap berpotensi bahaya. Makanya, begitu ada kemungkinan buruk yang muncul di kepala, otak otomatis fokus ke situ terus. Memikirkan ancaman yang mungkin terjadi akan memunculkan rasa kendali.
Tapi, otak nggak didesain buat mikirin banyak ancaman sekaligus dalam waktu lama. Bisa-bisa, sistem waspada yang tadinya niatnya melindungi malah balik jadi bumerang. Otak kewalahan, energinya habis buat mikir skenario terburuk, dan ujung-ujungnya lumpuh. Stress.
Sebenarnya otak bisa dilatih agar nggak gampang kewalahan menghadapi tekanan. Nggak perlu jauh-jauh lari, atau berusaha sekuat tenaga menyelesaikan semuanya, atau bahkan malah menyerah. Dalam psikologi, konsep ini disebut psychological flexibility (fleksibilitas psikologis).
Kedengarannya seperti istilah dari buku self-help yang tebalnya bikin males baca, ya? Ini sebenarnya konsep yang sederhana: seberapa luwes kita bisa menyesuaikan cara berpikir dan bersikap begitu keadaan berubah dari yang dibayangkan.
Dan salah satu bahan utama dari fleksibilitas ini adalah kemampuan buat benar-benar hadir di hari ini, alih-alih sibuk lompat ke skenario masa depan yang belum tentu kejadian.
Apa Itu Psychological Flexibility?

Psychological flexibility diartikan sebagai kemauan dan kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi yang berubah-ubah, sambil tetap bisa mengubah cara berpikir atau bersikap kalau cara lama justru bikin hidup makin runyam.
Simpelnya, ini soal seberapa lentur pikiran kita saat menghadapi hal-hal di luar rencana.
Kata psikolog trauma dari Yale, US, Joan Cook, fleksibilitas ini ibarat versi mental dari fleksibilitas fisik. Orang yang badannya kaku gampang cedera pas dipaksa gerak tiba-tiba. Sama halnya, pikiran yang kaku gampang patah begitu kenyataan nggak sesuai skenario di kepala.
Coba jujur sama diri sendiri. Berapa kali kamu melek sampai jam 2 dini hari, memikirkan lima tahun ke depan, karier gimana, apakah hubungan ini bakal bertahan, apakah kamu berhasil sesuai standar yang orang lain buat?
Pikiranmu terus melompat ke masa depan yang isinya cuma ketidakpastian, padahal yang bisa benar-benar kamu kendalikan ya cuma yang terjadi hari ini.
Psychological flexibility jadi komponen penting buat kesehatan mental karena bisa membantu menurunkan stres, kecemasan, dan depresi karena berlebihan memikirkan masa lalu dan masa depan.
Kemampuan ini yang bikin seseorang lebih gampang beradaptasi sama perubahan di sekitarnya, dan bisa merespons dengan cara baru yang lebih sehat, tanpa harus mengorbankan nilai atau tujuan yang dia pegang.
Orang yang lebih fleksibel secara psikologis biasanya juga lebih percaya diri, dan hubungannya dengan orang lain jadi lebih sehat. Sebaliknya, orang yang kaku gampang terjebak pola pikir serba hitam-putih.
Belum sukses sekarang, ya berarti gagal selamanya. Putus sekali, ya berarti nggak akan pernah nemu yang cocok lagi. Padahal hidup tidak begitu. Ada banyak ruang abu-abu di antaranya, dan di situ juga ruang buatmu bernapas sebenarnya berada.
Menerapkan Psychological Flexibility
Kamu bisa mulai belajar fleksibilitas psikologis dengan menerapkan beberapa hal berikut:
Pertama, hadir di masa sekarang (being present). Psikolog klinis Rachel Goldman dari NYU School of Medicine bilang, inti dari psychological flexibility itu sebenarnya soal tetap berada di masa sekarang.
Kalau kamu malah sibuk memikirkan masa lalu atau khawatir soal masa depan, kamu jadi mengurusi hal-hal yang sebenarnya di luar kendali, dan itu bisa membuatmu bertindak dengan cara yang justru nggak sejalan sama niat awal.
Kedua, tetap terbuka (openness). Bersedia menerima pengalaman dan sudut pandang baru, biar nggak terjebak di pola pikir dan kebiasaan lama yang justru bikin stuck.
Ketiga, menerima emosi apa adanya (acceptance). Bukan menekan atau menghindari perasaan yang berat. Tapi mengakuinya dulu, lalu mengambil pelajaran dari situ buat berkembang.
Perlu juga untuk menghadapi kegagalan. Saat dihadapkan dengan kegagalan besar, misalnya kena layoff atau ditolak kerjaan yang diincar, kamu perlu berusaha cari langkah berikutnya tanpa harus terjebak lama di rasa putus asa.
Konsep “Jalani Satu Hari Saja”
Di sini letak kekuatan psychological flexibility yang paling kepakai buatmu yang sedang merasa mentally exhausted. Kamu nggak perlu menang hari ini. Cuma perlu berhasil melewatinya.
Bayangkan kamu sedang belajar surfing. Saat ombak datang, kamu nggak bisa melawan atau menyuruhnya berhenti. Tapi kamu bisa menyesuaikan posisi tubuh, ikuti arah gerakannya, terus bertahan sampai ombak itu lewat.
Begitu juga dengan emosi berat yang muncul hari ini. Kamu nggak perlu denial atau berusaha menghilangkan perasaan itu. Cukup akui ia ada, terima, lalu jalani harinya pelan-pelan sampai selesai.

Seperti dijelaskan tadi, salah satu unsur inti dari psychological flexibility kan adalah being present. Menurut peneliti James Lucas dan Kathleen Moore, dalam studi mereka soal fleksibilitas psikologis dan kepuasan hidup, ini kaitannya dengan kemampuan terhubung penuh dengan momen sekarang, lengkap dengan segala pikiran dan perasaan yang muncul di dalamnya, tanpa perlu menghindar atau membela diri secara berlebihan.
“Jalani hari ini saja” memang salah satu cara yang mantap buat melatih fleksibilitas psikologis.
Studi yang sama juga menyebut bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan itu justru ciri khas kecemasan, dan minimnya fleksibilitas psikologis diduga jadi hal yang bikin kecemasan itu terus berlanjut.
Secara statistik, psychological flexibility punya pengaruh nyata terhadap kepuasan hidup seseorang, dan sebagian besar pengaruh itu berjalan lewat kesehatan mental yang membaik lebih dulu.
Besok Gimana? Ulangi Lagi
Setelah kamu berhasil melewati satu hari yang berat, jangan langsung lompat mikirin apa yang selanjutnya akan terjadi besok. Berhenti sebentar. Bersyukur dan validasi diri bahwa kamu berhasil bertahan hari ini.
Masih bisa bangun dari tempat tidur, mandi, berangkat ke kampus atau kantor, sarapan, ngobrol dengan teman-teman. Itu semua sudah jadi kemenangan kecil yang layak disyukuri.
Besok gimana? Ya ulangi lagi saja persis kayak hari ini.
Nggak perlu buru-buru menyelesaikan semuanya sekaligus. Nggak perlu langsung dapat kerjaan impian minggu ini, nggak perlu langsung move on total dari hubunganmu yang kandas kemarin, nggak perlu langsung punya semua jawaban soal masa depan. Hiduplah hari ini, terima apa pun yang muncul, lalu rayakan kalau berhasil melewatinya.
Sama juga dengan cara kerja kebiasaan pada umumnya. Satu hari nggak akan mengubah banyak hal, tapi rangkaian hari yang dijalani konsisten pelan-pelan bakal membentuk sesuatu yang lebih besar tanpa kamu sadari.
Kalau sekarang kamu sedang di fase merasa putus asa soal karier, percintaan, atau hidup secara umum, coba turunkan dulu ekspektasi ke ukuran paling kecil: hari ini saja.
Besok, lakukan hal yang sama. Begitu terus, satu hari demi satu hari, sampai suatu titik kamu sadar sudah melewati lebih banyak hari berat daripada yang kamu kira.
__
*Tulisan ini bersifat edukatif dan bukan pengganti bantuan profesional. Kalau perasaan berat terus berlangsung dan mengganggu keseharianmu, nggak ada salahnya bicara dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental, ya.
