Alkisah tersebutlah seorang cewek di ulang tahunnya yang ke-30. Hari istimewa itu dia rayakan di sebuah resort tepi pantai di Pulau Bintan, Riau. Pemandangan pesisir di kepulauan tropis, ya pasti cantik. Apalagi di akomodasi mewah dekat pantai pasir putih yang pasti terjaga kebersihannya. Bukan cuma karena pengunjungnya sadar lingkungan, tapi lebih pasti soalnya ada staf kebersihan yang tanggung jawabnya memang ngurusin itu
Hadiah liburan itu benar-benar berkesan buat si cewek. Oh iya, namanya Sena Zaro, dia keturunan campuran Afrika Utara dan Tionghoa.
Harinya dimulai dengan cake ultah surprise dari staf resort, bikin dia ngerasa spesial. Habis nyicip sepotong dan bagi-bagi ke orang dekatnya, dia lanjut request layanan massage. Nyaman, pijat relaksasi sambil denger debur ombak dan kena angin sepoi-sepoi, sampai ngantuk. Baru agak sorean dia pergi ke pantai, main ombak sambil ketawa-ketiwi dan canda-candi bareng kawannya yang ikut nginep.
Sampai malam datang. Dan di situlah semuanya berubah.
Lanjutan ceritanya nggak horor, kok. Bukan juga enlightment spiritual yang menggugah jiwa. Tapi karena kedatangan sang nenek. Elodie, yang datang dari luar negeri nyamar jadi tamu resor, cuma buat ngasih hadiah spesial berupa warisan. Bucket hat dan sebuah jurnal berisi peta, sketsa, dan cerita perjalanan milik mendiang sang kakek, Farid. Warisan yang buat Sena benar-benar istimewa, soalnya itu jadi momen inspiratif banget buat dia. Bahkan sampai bikin dia ambil keputusan paling besar dalam, bahwa hidupnya bakal dihabiskan buat melanjutkan perjalanan sang kakek.
Dan sejak itulah, Sena Zaro benar-benar menjelajahi dunia.
Berikutnya dia jadi sering sharing di akun instagram @sena.zaro. Bintan, Yucatan (Meksiko), Douz (Tunisia), Mauritus (Afrika Timur), sampai foto bareng unta di Gurun Sahara. Sah, dia akhirnya jadi influencer travel.
Kisah yang Keterlaluan Indahnya
Ibu Sena Zaro seorang Chinese, ayahnya asli Tunisia (Arab-Afrika). Nggak heran kalau sosok Sena begitu eksotik, cocok banget kalau mau jadi model. Unik.
View this post on Instagram
Momen ultah ke-30, 2 April 2024 yang bikin hidupnya berubah itu juga skenario sempurna. Bikin haru sekaligus inspiratif, orang nggak nyangka ceritanya bisa seindah itu.
Dan lebih nggak nyangka lagi, waktu tahu kalau Sena Zaro itu sebenarnya nihil, nggak eksis.
Karena, saudara-saudara sekalian, Sena Zaro bukanlah manusia sungguhan. Dia hasil olahan prompt panjang buah tangan content strategist yang jago narasi dan storytelling. Mungkin bikinnya sambil kurang tidur, karena kebanyakan ngopi sambil dikejar KPI.
Betul sekali. Sena Zaro itu produk AI. Karakter bikinan yang diceritakan seolah kayak manusia asli. Pembuatnya adalah Finn Christian Arctander dari BRACAI, perusahaan konsultan strategi bisnis pakai AI dari Jerman. Sena Zaro di-generated oleh BRACAI buat promosi jaringan hotel dan resor mewah, Cenizaro.
Dia digambarkan sebagai storyteller yang sering jalan-jalan. Meski di kontennya, sejauh pengamatan hipmin, hampir nggak pernah storytelling yang kayak gimana-gimana. Dari tiga pinned-content, salah satunya reels, isinya video highlight interior estetik dan fasilitas sebuah penginapan di Marrakesh, Maroko. Dengan overlay teks ‘elegancia’ dan caption:
“I love the riads of Marrakech
The charm of hidden gems never ceases to amaze me
Who else adores the elegance of traditional riads?
Tag someone you’d share this with!”
Storytelling banget, nggak sih? NGGAK!
Naratif, sih. Tapi nggak bisa dibilang storytelling. Soalnya serba mendadak. Tiba-tiba di hotel, POV cameraman, alurnya kurang jelas, plus tanpa tokoh utama yang jadi pencerita.
Dan agak aneh juga, ‘elegancia’ lebih terdengar Spanyol daripada Maroko. Sementara si Sena nggak ada Latin-Latin-nya sama sekali, kecuali mungkin waktu itu lagi kursus bahasa Spanyol. Orang Maroko pun—meski banyak kena pengaruh Spanyol karena dijajah—sebenarnya lebih pakai bahasa Arab dan Berber. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba bisa bahasa Spanyol aja nih bocah.
Gapapa, Sih, Cuma Absurd
Sebenarnya gapapa juga, sih. Tapi ya gitu, absurd. Absurd-nya sampai bisa bikin mikir. apa benar ilusi bisa lebih dipercaya daripada kenyataan, meskipun berantakan?
Soalnya, si Sena Zaro ini jadi AI travel influencer. AI. Travel. Influencer.
Dia punya cerita hidup lengkap dengan drama, momen inspiratif, dan perkembangan karakter. Tapi dia nggak pernah benar-benar mengalami apapun. Sena bisa ‘cerita’ soal pijat relaksasi, tapi apa dia benar tahu rasanya punggung ditekan tangan-tangan mbak terapis? Dia juga bilang senang main ombak di pantai, padahal nggak pernah kebasahan.
Lagian kalau sampai kena air, apa nggak korslet tuh GPU?

Bayangkan, manusia yang mau liburan pasti butuh persiapan, sekalipun dia konglomerat. Paling nggak, mastiin tanggal berangkatnya kapan.
Sementara buat kelas menengah, selain cari hari baik masih harus nabung dulu, atau cari teman kalau nggak mau solo travelling. Itu belum persiapan menjelang berangkat, kayak urus paspor, izin cuti, cari kolega yang rela dilimpahi kerjaan, booking transport dan akomodasi, milih outfit plus packing, bikin itenerary, nentuin berapa cash dan berapa di rekening, belajar budaya lokasi tujuan, sampai mikirin oleh-oleh buat yang di rumah. Banyak banget dan kayaknya ribet.
Sebagian malah sampai perlu apply paylater, yang kalau nggak di-acc nggak jadi berangkat.
Lah, si influencer satu ini? Januari di Mauritus, Februari di Mexico, Maret di Tunisia, April sampai Mei di Pulau Bintan, sekarang? Ilang.
Persiapan? Nggak muncul sama sekali di postingan.
Ilusinya Kebangetan
Dan, semua aktivitas itu dijalani tanpa satu pun pengalaman unik. Semua konten dikurasi biar feed-nya cantik sempurna. Nggak ada cerita soal penerbangan tertunda, struggle pas naik sampan, jajan dirampas monyet liar, kesandung artefak Suku Maya, kepanasan tapi topinya ketinggalan, nego keras pas beli craft di perajin lokal. Nggak ada. Adanya cuma foto-video estetik, bahkan nggak storytelling sama sekali.
Si Sena Zaro ini baru salah satu dari beberapa influencer di niche travel yang AI generated. Contoh lain yang cukup nyolok, Emma bikinan Departemen Pariwisata Jerman, dan Radhika Subramaniam buatan India yang baru rilis kemarin banget. (12/6/2025)
Setiap posting konten, isinya selalu soal destinasi travelling. Tapi, para influencer AI ini nggak pernah benar-benar berkunjung ke lokasi. Pengembangnya pakai teknologi, misal Dall-E dan Midjourney buat bikin gambar dan narasi yang mirip kenyataan, padahal sebenarnya simulasi. Atau mungkin bakal menyuntikkan model paling baru Veo-nya Google yang katanya super canggih itu, dalam beberapa waktu ke depan. Nggak tahu lagi.
Misalnya, Emma promosi Brandenburg Gate Jerman tanpa pernah meluk pilar-pilar kokohnya. Atau Sena yang ambassador The Residence tapi nggak pernah tahu seberapa empuk kasur di kamar resornya.
Absurd-nya Total
Menurut hipmin fenomena ini kok agak absurd. Soalnya, bukannya liburan itu konsepnya cari pengalaman fisik dan emosional? Sementara AI nggak punya itu, kan? Atau jangan-jangan sekarang sudah punya?
Harusnya nggak bisa disebut travelling kalau si influencer ini nggak pernah kemana-mana. Selama ini dia cuma ada di server. Dia pakai data dari berbagai sumber buat nyusun narasi yang terkesan sebagai pengalaman. Konten-konten terkait, hasil riset, review, dan lain-lain. Lalu narasinya dibikin sesempurna mungkin. Nggak ada cerita-cerita unik yang manusiawi. Hasilnya kayak foto atau ilustrasi di pusat suvenir tempat rekreasi. Serba flawless dan cuma nunjukin kenyataan positif sesuai prompt, nggak ada yang lain.

Buat orang yang perhatian sama detail, ke-flawless-an ini sebenarnya bisa patah dengan sendirinya. Contohnya di teks ‘elegance-nya’ Sena tadi, atau cerita soal Emma yang katanya mahir 20 bahasa, tapi jawaban-jawabannya masih robotik.
Natalie B. Compton dari Washington Post pernah tanya ke dia, “Apa Jerman aman buat solo traveller jalan malam-malam?”
Terus sama Emma dijawab, “Please phrase the request a little bit differently,’ with a link to fill out a contact form.”
Entah karena data yang diberikan kurang detail. Atau memang pengembangnya nggak bikin si AI bisa auto cari sumber kredibel buat nemu jawaban objektif. Nggak tahu juga.
Tapi yang jelas. Si AI kayak Emma, Sena, dan Radhika memang super dalam berinteraksi. Interaksinya memang masih bau-bau mesin. Kaku tapi sempurna, soalnya mau ngeladenin pertanyaan seputar travelling apa saja. Kalaupun dia nggak bisa jawab, masih mau coba bantu dengan ngasih solusi, “Tanya di sana aja, pak.”
Lebih supernya lagi, mereka ini kayak nggak ada capek-capeknya. Ya, tentu saja.
Travel Influencer yang Aneh
Selain jadi traveller yang meng-influens, mereka juga punya passion tersendiri di bidang relasi pelanggan, layanan servis pelanggan, dan semacamnya. Bisa dengan sabar nge-reply atau like hampir setiap komentar yang mampir di post mereka. Ada juga yang bisa di-chat lewat DM, juga siap siaga 24 jam sehari dalam seminggu. Tanpa ngeluh capek dan kelihatan ngantuk atau emosi, selalu ramah dan kayak punya mood yang bagus terus.
Layanan pelanggan jadi fitur yang sangat menarik buat sebuah maskot atau brand ambassador, meningkatkan trust pelanggan ke sebuah brand. Tapi kalau judulnya travel influencer, apa bukan fitur ini yang bikin semakin otentik absurd-nya? Kayaknya iya, deh.
Bayangkan ada travel influencer. Dia dikit-dikit liburan. Nggak pernah sekalipun posting selain tentang perwisataan. Setiap hari, masih sempat upload beberapa story yang seringnya soal kunjungan ke suatu destinasi. Di tengah-tengah itu, dia masih kuat ngasih respons komentar dan DM ke followers, terus-terusan tanpa mengeluh kelelahan.
Nah, kalau gitu, berarti kapan dia liburannya? Kalau dia standby 24/7 yang artinya nggak pernah libur, gimana bisa disebut liburan? Itu baru liburannya, lho. Belum influence-nya.
Gimana ceritanya, tokoh yang nggak pernah ada, nggak pernah kemana-mana selain di dalam jaringan, bisa memengaruhi orang buat pergi ke destinasi tertentu yang nyata? Dan, bakal lebih absurd lagi kalau ada yang sampai terpengaruh, sih.
Tapi mungkin justru itu tujuan akhirnya. Di zaman algoritma, nggak peduli nyata atau nggak, yang penting berpengaruh. Karena ternyata yang kita cari dari liburan bukan lagi pengalaman, tapi feed yang tampak seperti pernah berpengalaman.

