Oleh: Dominikus Oktavianus Obi (Mahasiswa Unitri Malang)
Jam 2 pagi, kamu masih melek. Buka HP, scroll marketplace. Lihat ada diskon 50%. Terus klik “Beli Sekarang,” pilih varian sampai checkout. Waktu notifikasi “Pesanan telah diterima” muncul, kamu merasa lega karena barang idaman sedikit lagi sampai di tangan.
Besoknya. Iseng-iseng cek saldo rekening, ternyata isinya menipis. Terus langsung nyesel, “Gue ngapain sih semalam?”
Lah?
Familiar dengan kondisi kayak gitu? Kalau kamu atau orang di sekitarmu pernah, bahkan sering mengalaminya, itu cocok dengan istilah doom spendingyang lebih bahaya dari doom scrolling.
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending itu kebiasaan belanja impulsif yang muncul bukan karena kebutuhan, tapi karena rasa cemas, bahkan putus asa terhadap masa depan. Jadi, ini beda dengan orang hedon.
Orang hedon belanja karena senang dan mampu. Doom spending belanja justru karena nggak senang dan karena ngerasa nggak bakal mampu.
Nah, kalau nggak senang dan nggak mampu, ngapain malah belanja?
Soalnya, otak manusia cenderung milih kepuasan jangka pendek daripada keamanan jangka panjang. Kimberly Palmer, pakar keuangan dari Nerdwallet, bilang doom spending adalah dorongan untuk belanja sebagai cara menenangkan diri dari kecemasan dan stres.
Sementara itu, Courtney Alev dari Credit Karma bilang, “Berkali-kali kita lihat orang belanja untuk mengatasi emosi mereka dan meredakan stres. Meskipun bikin lega jangka pendek, ini bisa berdampak negatif jangka panjang pada keuangan mereka.”
Proses belanja ngasih ilusi bahwa kita punya kontrol. Kita bisa milih produk apa yang mau dibeli, variannya, harga berapa, lokasi di mana, dan lain-lain. Sementara di luar, banyak banget hal yang susah dikontrol atau dikustomisasi segampang itu. Ini mengalihkan otak dari kekhawatiran yang lebih besar.
Realitas yang Bikin Cemas, Bahkan Hopeless
IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025. Menyampaikan hasil survei mereka terhadap 1.500 responden. Di mana, 52% dari mereka dapat rumah lewat warisan atau bantuan keluarga. Artinya, “Bagi banyak warga Indonesia, kemampuan untuk membeli rumah secara mandiri masih berada di luar jangkauan finansial,” tulis IDN Research Institute dalam laporannya.
Coba bayangkan fakta ini, harga properti untuk tempat tinggal di Indonesia naik 10,38% dalam kurun waktu tahun 2019-2024. Sementara, upah rata-rata nasional pada 2019 sekitar Rp2,79 juta, cuma naik jadi Rp3,04 juta pada 2024, sekitar 8,93% saja.
Artinya jelas. Harga rumah naik lebih cepat dibanding peningkatan jumlah gaji. Jadi, kepemilikan rumah mandiri yang masih di luar jangkauan finansial, bukan berarti karena generasi ini malas atau kerjaannya kurang mapan. Kalau melihat fakta pertumbuhan harga properti versus kenaikan gaji tadi, bisa jadi kondisi ekonomi memang lagi nggak jelas. Generasi ini jadi yang pertama menghadapi kenyataan bahwa hidup mereka mungkin nggak akan sebaik orang tua mereka.
Kalau kamu tahu bahwa tabungan kamu nggak akan cukup buat beli rumah. Kerja keras tahunan pun tetep aja, nggak bisa afford uang muka. Akhirnya ada pikiran, “Toh nabung juga percuma. Mending beli sesuatu yang bisa bikin seneng sekarang.” Nah, itu dia.
Cuma, masalahnya, kesenangan belanja yang semacam itu efeknya singkat. Euforia biasanya muncul sampai beberapa hari setelah barang sampai. Bahkan kalau di konteks ilustrasi paragraf awal, pengguna sudah langsung nyesel esok harinya.
Doom Spending vs. Pelit Ekstrem
Menariknya, doom spending muncul bareng sama fenomena yang berlawanan total, yaitu loud budgeting dan extreme frugality.
Selain flexing harta, media sosial juga banyak konten soal finansial. Seperti, gimana bertahan dengan budget minim. Atau orang yang dengan bangga posting, “Aku nolak ajakan nongkrong karena lagi hemat.” Ada yang bikin konten makan sebulan cuma 500 ribu, dan lain-lain.
Belanja impulsif dan penghematan obsesif ini pemicunya sama. Dr. Brad Klontz, psikolog keuangan dari Creighton University, menyebutnya sebagai “respons trauma finansial” perilaku ekstrem yang muncul ketika seseorang nggak merasa aman secara ekonomi.
Yang pertama terkesan nyerah, “Toh, nabung juga nggak akan cukup, mending nikmati sekarang.”
Sementara yang kedua berjuang dengan kontrol ketat, “Harus survive apapun yang terjadi, setiap rupiah harus diitung.”
Tapi, keduanya sama-sama melelahkan dan menguras mental.
Baik doom spending maupun extreme frugality muncul sebagai bentuk coping mechanismyang beda buat menghadapi rasa nggak aman itu. Kalau doom spending ngasih ilusi kontrol dan kepuasan instan. Extreme frugality, di sisi lain coba bikin rasa aman lewat kontrol penuh atas pengeluaran.
Kedua strategi ini sama-sama ekstrem karena dasarnya sama-sama ketakutan, dan itu bikin mental capek.
Otak terus-terusan waspada. Yang satu waspada jam flash sale habis, satunya waspada dengan mengalihkan perhatian biar sama sekali nggak tergoda.
Doom spending kelihatannya santai. Checkout tengah malam, diskon, dopamin naik. Tapi di balik itu ada pikiran berat yang sengaja dilupakan, dengan mengambil kesenangan yang bisa diraih sekarang.
Extreme frugality juga kelihatannya rasional. Hemat, disiplin, terkontrol. Tapi kalau setiap ajakan nongkrong terasa seperti ancaman finansial, setiap pengeluaran bikin kebingungan, itu juga kebangetan. Jadinya bukan hemat, tapi lebih ke mode survival.
Klontz nyebut kondisi macam itu sebagai trauma finansial. Soalnya, tubuh dan pikiran bereaksi kayak lagi ketemu bahaya. Dan ketika otak merasa terancam, ia nggak bisa mikir moderat. Cenderung milih ekstrem kayak biasanya, fight or flight.
Kondisinya Real
Oktober 2024, platform keuangan dan skor kredit, Intuit Credit Karma menyurvei 1.001 orang dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya, sebanyak 27% warga sana memang belanja impulsif buat mengatasi stres. 37% Gen Z dan 39% milenial ngaku melakukan hal yang sama. Dan dari 1.001 responden, 40% bilang mereka lebih sering doom spending saat ini dibanding setahun lalu.
Di Indonesia, memang nggak ada survei yang sama persis kayak di atas. Tapi sejumlah studi akademik nunjukin kalau fenomena doom spending juga happening di sini. Kayak pas Ramadan tahun 2025, di mana Mandiri Institute mencatat, “Masyarakat terindikasi melakukan doom spending, di mana belanja yang bersifat gaya hidup dan impulsif seperti sport, hobby, entertainment, dan handphone tumbuh lebih tinggi.”
Kalau menurut penelitian Mutia Cahyani Putri dari Universitas Negeri Semarang. Salah satu yang dia temukan adalah doom spending banyak dipengaruhi oleh jumlah pendapatan seseorang. Makin tinggi pendapatan seseorang, semakin fleksibel buat dia belanja impulsif sebagai pelarian emosional.
Media sosial, terutama konten promosi yang masif, algoritma, atau desain UI/UX dan fitur platform media sosial dan e-commerce yang disusun sedemikian rupa, biar orang betah lama-lama mengaksesnya. Semuanya bisa bikin kita cenderung semakin impulsif berbelanja.
Sementara, bahaya doom spending yang menanti agak lebih mengerikan dari yang dibayangkan. Kayak yang dibilang Bola Shokunbi, penulis buku finansial. Katanya, “Merasa cemas, belanja untuk merasa lebih baik, merasa cemas tentang belanja… dan terus berputar.”
Jadi kamu mencemaskan masa depanmu yang suram secara ekonomi. Lalu belanja impulsif. Itu dilakukan berkali-kali, terus menerus tanpa kontrol ketat. Akhirnya, pada suatu hari di masa depan, kondisi keuanganmu benar-benar rusak. Masa depanmu benar-benar suram, dan penyebabnya nggak lain adalah kebiasaan belanja impulsif itu sendiri.
Kalau itu kejadian beneran, pasti akan sangat konyol.
Sayangnya, pelaku doom spending bukannya orang yang nggak bisa mikir atau kurang disiplin.
Kalau dilihat lebih dalam, polanya justru natural dan masuk akal secara psikologis. Manusia memang punya kecenderungan survival mode, cuma kali ini arahnya agak melenceng. Maunya menghapus kecemasan saat ini, tetapi nggak sadar kalau itu justru bikin masa depan lebih mencemaskan.
Dan kalau memang begitu kondisinya, maka mengatasinya nggak cukup dengan nasihat, “Ya sudah, lebih disiplin aja.” Atau motivasi, “Kamu harus bisa kontrol diri.” Tapi, dengan cara meningkatkan kesadaran.
Terus Gimana?
Nggak ada solusi instan. Sebagai generasi yang lagi sama-sama cari pegangan, kita jelas nggak punya solusi besar. Tapi ada beberapa hal yang masuk akal untuk dicoba.
Psikolog keuangan dan perencana keuangan sering ngasih saran untuk bikin jeda 24 jam sebelum beli sesuatu yang nggak penting-penting amat. Bukan pelit, tapi maksudnya biar emosi turun dulu, sampai kita benar-benar sadar kalau memang butuh banget.
Kimberly Palmer dari NerdWallet menyarankan hal yang lebih sederhana lagi tapi konkret. “Kamu benar-benar perlu keluar rumah kadang-kadang. Berada di alam dan mengingatkan diri sendiri bahwa ada dunia di luar layar,” katanya.
Langkah-langkah kecil ini mungkin tidak mengubah sistem. Tapi seenggaknya bisa melambatkan lingkaran setannya.
Menambah literasi keuangan juga nggak ada salahnya untuk dicoba. Pertama, dia bisa ngasih pemahaman buat mikir jangka panjang. Orang yang paham konsekuensi finansial bisa lebih gampang sadar kalau doom spending mempercepat risiko terjadinya hal yang ditakuti.
Kedua, dia bisa membantu mendeteksi pola. Kalau kamu rajin mencatat pengeluaran, pola-pola belanja yang nggak masuk akal bisa lebih cepat diidentifikasi. Dan yang ketiga, literasi keuangan bisa ngasih kamu rasa kontrol yang lebih sehat dan stabil, mulai dari perencanaan, menyiapkan dana darurat, sampai nyari strategi paling pas buat menuhin kebutuhan yang sesuai sama kondisi finansial sekarang.
Tapi jujur saja, ini bukan cuma urusan individu. Kalau terlalu banyak orang yang merasa nggak aman secara ekonomi, kemungkinan besar memang ada masalah struktural. Misalnya, upah stabil sementara biaya hidup terus naik, pasar perumahan yang makin sulit dijangkau, dan algoritma yang terus mendorong konsumsi. Jadi mungkin juga butuh perbaikan dari level yang lebih besar.
Soalnya, kalau sistem terus-terusan bikin orang merasa nggak aman, pasti perilaku ekstrem akan selalu muncul dalam bentuk apa saja.







