Aku sih, yes. Masa melewatkan artis idola cuma gegara nggak boleh pakai kamera? Tapi, bisa nggak ya, nonton tanpa update postingan, story, atau share ke teman-teman? Jadi nggak punya video kenang-kenangan yang bisa ditonton ulang. Ada wristband, sih, tapi kureng.
Kalau nemu sesuatu yang bagus, disuka, atau memorable itu, meski aslinya nggak ada tuntutan juga, rasanya ada urgensi untuk nge-share. Entah kenapa. Tapi kalau manusia dibilang makhluk sosial, berarti perilaku berbagi, termasuk berbagi konten itu terbentuk secara alami, nggak, sih?
Iya.
Menurut teori Sharing of Mental States (Psikologi Perkembangan), katanya manusia adalah satu-satunya spesies yang punya dorongan kuat buat melakukan Joint Attentionatau perhatian/peduli ke hal yang sama.
Sejak bayi, kita merasa perlu mastiin orang lain lihat apa yang kita lihat. Suatu hari pas kita lihat pelangi muncul, buru-buru kita panggil orang terdekat buat ngasih tahu mereka. Dan unggahan medsos adalah bentuk modern dari kebiasaan itu. Menurut pakar psikologi Michael Tomasello, berbagi perhatian menciptakan rasa kebersamaan (intersubjectivity) yang penting buat manusia sebagai spesies sosial.
Baca-baca hasil studi New York Times Consumer Insights Group berjudul “The Psychology of Sharing”. Ada lima motif utama kenapa orang suka membagikan sesuatu di platform online. Karena ingin nyebar info (84%), tetap terhubung (78%), merasa lebih terlibat (69%), menampilkan citra diri (68%), dan ngasih hiburan (49%).
Cuma ya gitu. Insting berbagi yang awalnya organik, belakangan mulai berubah. Rasanya seperti ada ‘tuntutan’ untuk ngasih asupan info ke sirkel pertemanan, apalagi kalau momennya langka. Dan kalau memang ‘tertuntut’, jadinya ya kayak kerja keras, effortful. Hadir di venue, tetapi malah cari pengakuan dari luar, bukan menikmatinya dengan full.
Terganggu Akibat Ulah Sendiri
Pengalaman nonton konser dan keganggu akibat hp orang di depan menghalangi pandangan ini sudah lumrah terjadi di mana-mana. Brand minuman beralkohol, Heineken pernah riset soal ini tahun 2024 lalu. Mereka meriset 2.000 responden Gen Z dan Milenial di Inggris dan Belanda buat nyari tahu gimana perilaku penonton acara musik.
Hasilnya agak mengejutkan, soalnya lebih dari separuh responden (55%) ngaku kalau mereka memang lebih suka ambil foto/video di konser yang mereka datangi, daripada benar-benar menikmati artisnya langsung. Bahkan sepertiga responden masih sempat ngecek gambar yang baru diambil. Berarti kalau kurang sreg, mungkin ya ngerekam lagi. Padahal, belum tentu besok-besok mereka kepikiran nyetel rekaman itu lagi.
Meskipun gitu, mayoritas responden (77%) setuju kalau ‘lautan’ layar hp yang nyorot panggung konser itu mengganggu pengalaman menonton. Berarti, yang bilang gitu, ya termasuk 55% orang yang suka ambil foto/video di tengah konser tadi. Agak kontradiktif.
Setahun sebelum Heineken, platform riset daring, YouGov juga pernah studi soal topik serupa. Tapi kali ini lebih umum, yaitu tentang seberapa sering penonton konser, pertandingan olahraga, atau bioskop, ngecek hp mereka di tengah-tengah acara.
Dari seluruh responden YouGov–yang jumlahnya antara 512 sampai 2005 orang di rentang usia 18 tahun ke atas–di seluruh dunia, 14% ngaku sering banget ngecek hp di tengah konser. Itu bisa berarti lihat notifikasi, pesan, atau sejenisnya, meskipun bisa juga berarti ngecek sudah ambil gambar atau belum, lalu buka kamera.
Sementara kalau dilihat per negara, Indonesia masuk 3 besar yang paling sering cek hp pas konser. Jumlahnya 28%, di bawah Uni Emirat Arab (38%) dan India (33%). Jadi, kalau kamu pernah ngerasain yang dialami sama 77% responden Heineken tadi, nggak heran.
Konser Dilarang Bawa HP
Sebenarnya munculnya lautan layar hp di tengah konser itu nggak cuma mengganggu penonton lain. Tapi, ternyata juga annoying bagi artis yang lagi manggung, juga promotornya.
Di konser-konser K-Pop, terutama di Korea dan Jepang, fans nggak boleh bikin fancam (video amatir bikinan fans) sama sekali.
Jepang punya aturan “Nol Toleransi” soal merekam konser. Mereka sangat serius. Kalau ketahuan, hp-mu bisa dirazia, foto/video dihapus, dan kamu diusir dari venue. Sebagian penonton di sana bahkan menganggap merekam itu tindakan nggak sopan dan merusak momen live yang seharusnya dialami bersama.
Sementara di Korea, aturannya nggak kalah ketat. Agensi raksasa seperti SM, JYP, atau HYBE punya kebijakan resmi untuk melindungi hak siar dan eksklusivitas konten. Alasannya simpel, duit. Mereka ingin kamu beli DVD/Blu-ray konser resmi yang harganya jutaan rupiah, bukan nonton rekaman gratisan di YouTube dengan audio yang pecah.
Tapi, nyatanya masih banyak fancam yang bertebaran. Biasanya itu bikinan fans level pro max yang punya peralatan high-end dan izin nggak resmi dari promotor atau agensi, jadi dibiarin aja. Atau, video direkam pas konser di luar Korea-Jepang, misalnya pas tur ke Indonesia atau AS. Di luar negeri, promotor merasa mustahil ngelarang hp sama sekali, karena budaya penontonnya jauh beda.
Makanya, lautan lightstick pas konser Seventeen di JIS tahun lalu akan kelihatan nggak rapi kalau dibanding yang di Jepang atau Korsel. Soalnya, yang di sini cahayanya campur sama layar hp penonton yang update story.
Artis-Artis juga Gerah
Dulu, di era 60-an sampai awal 2000-an, penonton konser nggak pakai hp atau lightstick, tapi korek api atau lilin pas lagunya cocok atau minta encore. Maksudnya buat ikut ngerasain musiknya, hadir di momen memorable itu.
Sekarang? Sejak tahun 2000-an jalan, dan hp jadi makin umum, posisi korek dan lilin digantikan sama flashlight hp. Makin ke sini, flashlight-nya malah lebih jarang dipakai dibandingkan kamera.
Tahun 2018, Steve Knopper nulis di Rolling Stone berjudul, “Artists to Fans: Put Your Phones Away!” Isinya tentang fenomena pelarangan hp di konser karena musisinya yang gerah dan keganggu. Salah satu yang diwawancara adalah gitaris kondang Jack White.
“Cara mereka bereaksi menentukan apa yang saya lakukan selanjutnya. Dan kalau mereka nggak benar-benar hadir di situ, saya nggak tahu harus ngapain,” katanya.
Kemudian didukung tegas oleh manajernya, Ian Montone, “Nggak ada yang mau berdiri di belakang 1000 ponsel yang merekam seluruh pertunjukan.”
Jack White adalah salah satu pioner musisi pengguna Yondr Pouch–kantong pengunci hp–di konsernya. Cara pakainya begini, penonton masuk venue, hp-nya masuk ke kantong Yondr yang langsung dikunci dan tetap dipegang sendiri. Sepanjang pertunjukan kamu bawa hp, cuma nggak bisa dipakai. Kalau butuh karena darurat, tinggal ke area khusus di venue dan minta kantongnya dibukain ke staff yang ada.
Yondr dirilis tahun 2014 oleh entrepreneur Graham Dugoni. Inspirasinya datang setelah dia lihat orang mabuk joget di Treasure Island Music Festivaldan direkam tanpa permisi sama orang lain. Peristiwa itu bikin dia mempertanyakan etika penggunaan hp, sampai akhirnya punya ide bikin kantong Yondr.
Dimulai dari Jack White, beberapa artis lain pun mengadopsi area bebas hp di konser mereka dengan kantung Yondr. Antara lain Alicia Keys, The Lumineers, Bob Dylan, sampai komedian Dave Chappelle, Chris Rock, dan Tracy Morgan. Sabrina Carpenter dan Taylor Swiftkatanya juga nimbang-nimbang untuk ngelakuin konsep serupa.
Pada dasarnya mereka cuma ingin penonton lebih ‘hadir’ daripada ke-distract sama hal-hal di luar pertunjukan.
Sayangnya, niat baik itu nggak selamanya berjalan mulus waktu ketemu hal-hal teknis. Misalnya pas konser Ghost di Birmingham, Inggris tahun lalu. Penggunaan Yondr Pouch malah jadi bikin penonton gerah, karena terpaksa antri 90 menit lebih buat masuk venue gara-gara proses ngunci hp kelamaan. Penonton jelas menggerutu, emosi. Momen ini pun sempat ramai jadi bahan omongan di X dan Reddit.
Berarti, jadi dilema, dong? Apa demi “kehadiran” atau “full-experience”, kenyamanan penonton harus dikorbankan? Atau memang kitanya saja yang sehaus itu sama eksistensi dan pengakuan, jadinya seolah kesiksa banget pas dilarang ngerekam.
Terus Kamu Gimana?
Annie Leibovitz, fotografer legendaris yang pernah di Rolling Stone dan Vanity Fair, serta motret ikon-ikon dari Madonna sampai Hillary Clinton, pernah ngomong sama temannya, penari balet Mikhail Baryshnikov.
“Ini yang benar—di sini—kita,” lalu dia nunjuk kamera di tangannya,”Ini, ini nggak benar.”
Namanya fotografer maestro, sudah malang melintang, kenyang pengalaman, biasanya memang punya pikiran filosofis tertentu terkait bidang yang digeluti. Di percakapan itu, Annie Leibovitz jelasin paradoks dirinya sebagai fotografer yang senjata utamanya kamera. Dia sadar betul bahwa lensa kamera dari awal, masih, dan akan tetap jadi penghalang antara realitas dan pengalaman.
Menurut dia, pas kita sibuk nyari komposisi yang bagus waktu ambil foto/video, sebenarnya kita lagi “absen” dari momen yang sedang terjadi di depan mata. Di konser, kita dapat audio yang jauh lebih baik dari dolby-stereo, dan video yang entah berapa K resolusinya. Tapi, nggak sadar kita tukar pengalaman HD itu, demi bikin file .jpg atau .mov yang sebenarnya berkualitas rendah, biasanya juga “kotor” karena kesenggol atau suara kita sendiri/penonton lain yang bocor.
Jadi, kalau balik ke pertanyaan awal, gimana dengan kamu? Kalau penonton dilarang foto-video, apa kamu masih mau datang?
Diplomatisnya gini, jawabannya tergantung apa yang kamu cari. Kalau demi status dan validasi digital, konser tanpa hp pasti rasanya hambar, kayak nggak pernah kejadian. Tapi, kalau kamu datang karena pengen full menikmati, tentu larangan itu akan jadi kemewahan. Bisa fully-presentsambil merem-merem fantasizing, bisa sambil inget-inget momen paling memorable dari lagu yang dinyanyiin, bisa merinding, dan yang lebih lagi, pandanganmu nggak kehalang tangan dan lautan layar, apalagi bau ketiak.







