Pernah nggak, pas perut keroncongan, kamu malah nggak ambil nasi atau pergi beli makanan berat, tapi makan kerupuk atau sebungkus ciki? Karena rasanya enak, kamu senang, tapi perutmu tetep kosong. Ngemil sebungkus lagi, lapar belum ilang, sekarang malah haus juga. Kalaupun adanya cuma ciki, butuh berbungkus-bungkus sampai kenyangnya bisa kayak makan sepiring nasi.
Nah, yang semacam itu bisa juga terjadi ranah hubungan sosial. Ketika koneksi kita sama orang lain cuma sebatas interaksi singkat, kayak nyapa tetangga atau senyum ke orang lewat. Intinya, interaksi sosial kecil dan praktis yang biasa kita lakuin sehari-hari. Fungsinya sebagai “camilan emosional” yang bikin kita merasa masih jadi bagian dari komunitas, nggak kesepian, mood booster, dan ngasih asupan emosional singkat pas lagi butuh koneksi mendalam.
Kalau social snacking terjadi di dunia fisik, seenggaknya masih ada nilainya. Minimal masih ada kontak mata, nada suara, dan kehadiran yang bikin interaksi kecil terasa lebih bernilai. Tapi kalau sudah pindah ke ranah digital, bahkan nilai minimnya itu ikut berkurang drastis.
Social snacking di platform digital bukan soal nonton video atau scroll konten. Ini lebih spesifik tentang usaha kita memenuhi kebutuhan sosial lewat interaksi yang dangkal dan cepat. Kayak nge-like foto teman lama, balas story dengan emoji love, atau nulis “Haha bener banget!” di kolom komentar. Memang, semua itu adalah bentuk-bentuk interaksi, tapi nilainya kecil banget.
Balik lagi ke ciki tadi. Yang bikin camilan itu enak dan mungkin adiktif itu rasanya. Soalnya, ada kandungan micin yang memang dirancang biar konsumen terus pengen nambah. Dan cara kerja media sosial, seperti kita semua tahu, logikanya nggak jauh beda sama micin di ciki tadi. Setiap notif yang masuk, komentar atau balasannya, bikin otak kita melepas sedikit dopamin.
Social Snacking: Micin Versi Digital
Studi dengan fMRI (pemindai otak dengan medan magnet dan gelombang radio) yang dipublikasikan Brown University nemu kesimpulan bahwa waktu kamu dapat likes di media sosial, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan hadiah, yaitu nucleus accumbens, bikin kita ngerasa kayak dapat hadiah beneran semacam kado atau undian. Likes ini bisa bikin senang sesaat, tapi nggak mampu bikin emosi kita ‘kenyang’.
Efeknya? Kita terus balik lagi, ngemil lagi. Berharap kali ini cukup, padahal nggak pernah. Inilah yang bikin social snacking digital beda dari sekadar hiburan biasa. Meskipun bukan nutrisi, dia juga nggak terasa kayak sampah. Rasanya kayak makan sesuatu, padahal perut masih kosong.
Ada alasan biologis kenapa interaksi digital rasanya kurang memuaskan. Otak manusia butuh sinyal biar benar-benar merasa terhubung, bentuknya bisa nada suara, kontak mata, atau ekspresi wajah. Elemen-elemen itu memicu pelepasan oksitosin, hormon yang bikin kita merasa aman dan dekat dengan orang lain. Sementara di medsos, semua itu dipangkas jadi teks atau gambar, cuma representasi dari seseorang, bukan orangnya sendiri yang hadir.
Ini juga yang jadi akar dari hubungan parasosial. Kamu rajin lihat story seorang kreator tiap hari. Sampai tahu kebiasaan paginya, makanan favoritnya, bahkan tahu dia lagi hepi atau susah.
Rasanya intim. Padahal, kayak hasil riset terbitan jurnal Scientific Reports(2024) kepada 3.000 partisipan lebih, hubungan parasosial kerasa kayak memenuhi kebutuhan emosional. Tapi, nilainya tetap kalah jauh dibanding koneksi nyata ke orang-orang terdekat kita. Interaksi sama publik figur di media itu seringnya cuma satu arah, juga nggak cukup dalam untuk bisa bikin orang bisa puas secara sosial.
Dan, yang bikin social snackingdi medsos lebih bahaya dari versi offline-nya adalah kecenderungan untuk membanding-bandingkan.
Pas nyapa tetangga di jalan, kamu nggak pernah disuguhi highlight reel aktivitas hidupnya. Tapi di Instagram atau TikTok, setiap interaksi kecil yang kamu lakukan adalah reaksi atau respons dari tampilan hidup orang lain yang sudah difilter, dikurasi, dan diedit. Snacking yang harusnya netral, jadi campur sama rasa kekurangan dan atau ketinggalan.
Ngemil yang Nggak Berujung
Masalah jadi makin runyam karena social snacking di medsos jarang bisa dikontrol. Misalnya kita berencana scroll 15 menit, tapi coba diingat apa selalu bisa sedisiplin itu?
Niatnya mungkin cuma mau cek notifikasi atau balas komentar, tapi tahu sendiri kan cara kerja platform yang mau kamu selalu on-screen. Sehingga, kamu nggak sadar lagi ngemil terus tanpa tujuan, melenceng dari rencana awal.
Dan hasilnya ketebak, bukannya lebih konek, malah justru kerasa makin hampa. Itulah kenapa, kalau sebelum tidur kamu asyik menyalakan cahaya ilahi dengan scrollingTikTok, nonton video lucu sambil senyum-senyum sendiri, ngasih respons ke konten teman-teman. Tapi kemudian, sesaat setelah ngunci layar dan naruh hp, mendadak muncul rasa kesepian. Seakan-akan keramaian yang kamu konsumsi barusan cuma ilusi yang hilang tanpa jejak.
Seperti Data Cigna Resilience Index 2020 yang menyurvei lebih dari 10.000 responden di Amerika Serikat. Mereka dapat data bahwa sekitar 73% Gen Z ngaku merasa kesepian sesekali. Bukan karena kekurangan interaksi digital, tapi karena kualitas asupan sosial yang mereka konsumsi tiap hari rendah, kebanyakan camilan.
Jadi, mending inget-inget lagi kalau media sosial pada dasarnya adalah alat. Selayaknya alat, fungsinya tergantung kita pakainya gimana. Kalau kamu pakai IG atau TikTok buat jadi alat bantu sosialisasi yang lanjut ke dunia nyata, itu masih bagus. Tapi, kalau kamu jadiin medsos sebagai pengganti sosialisasi fisik, kayaknya itu nggak oke kalau dibiarkan lama-lama.
Sebenarnya, punya satu-dua orang teman yang bisa dikontak pas perasaan lagi kosong itu anugerah banget. Nilai dan rasanya pasti jauh lebih besar dari ratusan atau ribuan likes dan komentar yang kamu terima di postinganmu. Apalagi kalau engagement itu berasal dari akun yang entah siapa, yang bahkan nggak tahu nama panggilanmu.
Social snacking mungkin juga sudah jadi kebiasaan yang nggak bisa dihilangkan sepenuhnya dari keseharian, mungkin juga nggak perlu diilangin. Tapi, kalau perut lapar diisi camilan terus, ya nggak akan kenyang. Lagian, nggak sehat juga, kan?







