‘Bloc-Bloc-an’ Sudah di Mana-mana, Mungkin Ini Saatnya Move On dari Jakarta

Ovan Obing
bloc placemaking

Sebelum kemana-mana, mungkin sebagian kamu ada yang belum tahu apa maksud “Bloc-bloc-an” di sini. Ini adalah gerakan reaktivasi ruang kota, istilahnya placemaking, alih fungsi bangunan lawas yang terbengkalai jadi ruang kreatif.

Memang, pertama kali konsep ini muncul di Jakarta dengan M Bloc Space-nya. Waktu itu sekitar tahun 2019, almarhum Glenn Fredly bareng Handoko Hendroyono, Jacob Gatot Sura, Lance Mengong, Mario Sugianto, dan Wendi Putranto punya inisiatif untuk bikin ruang kreatif. Mereka dirikan perusahaan legal buat memperkuat niat bangun ekosistem ini, pakai nama PT Radar Ruang Riang (RRR). Proyek pertamanya memugar kompleks gedung tua yang sudah berdiri sejak 1955. Bekas gudang cetak uang milik Perusahaan Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), di Jl. Melawai No. 37, Jakarta Selatan.

M Bloc diresmikan 26 September 2019. Dengan tampilan yang dari luar tetap lawas tapi bersih, sementara bagian dalamnya dipoles cemerlang biar fresh. Kompleks itu punya dua area, pertama adalah tempat mangkal berbagai brandUMKM lokal, dari FnB sampai clothing-an. Ruangan ini dulunya rumah pejabat Peruri, sekarang jadi lokasi bazaar permanen. Sedangkan yang kedua, bekas gudang, jadi venue pertunjukan yang muat buat 300-an orang lebih, bisa buat konser atau aktivitas penampilan lainnya.

Nah, ternyata M Bloc ini jadi magnet anak muda. Ya, karena berbagai aktivitas di dalamnya memang disukai anak-anak muda. Lalu dia sukses, dan jadi semacam proyek percontohan yang akhirnya diekspor ke kota-kota lain.

Konsepnya sama, pakai gedung tua milik negara, BUMN, atau bangunan cagar budaya. Lalu tampilannya sedikit diubah biar kesan historisnya masih kerasa, tapi dengan gaya yang disukai anak muda. Di dalamnya diisi gerai-gerai UMKM lokal, toko-toko skena, coffee shop, dan ruang pertunjukan. Nggak ada brand korporat besar sama sekali. Singkatnya, ruang ini jadi one-stoptempat nongkrong buat anak-anak kreatif dan penggemar subkultur urban. Soalnya semua elemen pendukungnya sudah lengkap.

M Bloc Jakarta - dok: 99.co
dok: 99.co

Ternyata Kerennya Menggurita

Yogyakarta jadi yang pertama menjajal konsep serupa M Bloc. Tahun 2021, RRR yang juga dikenal sebagai M Bloc Group kolab sama Yayasan Jogja National Museum (JNM) buat reaktivasi ruang pameran itu. Maka jadilah JNM Bloc yang gayanya instantly artsy, di Jl. Prof. DR. Ki Amri Yahya No. 1, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Ini nggak mengherankan, sebab Jogja memang pusat budaya. Selain tradisional Jawa, skena seni rupa, musik independen, dan komunal di sana memang sudah aktif dari lama.

Habis Jogja, Bloc-bloc-an balik ke ibu kota. September 2021 dibukalah Pos Bloc Jakarta yang pakai Gedung Kantor Pos Besar Pasar Baru yang berdiri sejak zaman Batavia. Isinya juga relatif senada, ada UMKM kuliner dan tenant produk kreatif lokal, ruang pameran dan pertunjukan.

Setahun kemudian, bloc ekspansi keluar Pulau Jawa, meski baru di Sumatra. Bloc cabang Padang dan Medan sama-sama diresmikan Oktober 2022. Kalau di Kota Padang namanya Fabriek Bloc, karena pakai bekas pabrik seng milik swasta. Medan memilih bangunan kolonial yang jadi Gedung Kantor Pos Besar, sehingga namanya juga jadi Pos Bloc. Sama juga, dua-duanya langsung jadi spot nongkrong favorit muda-mudi kreatif di kota masing-masing.

Belum stop sampai di situ, proyek ruang Bloc ini malah “menggila” karena sukses gandengan sama ikon budaya kreatif kebanggaan Indonesia di Solo. Ya, yang mana lagi kalau bukan Lokananta. Studio rekaman musik milik negara, lewat Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), yang pertama, tertua, dan tentunya bersejarah. Ini vibe-nya jadi semakin kental karena fungsinya nambah jadi ruang kreatif. Selain tetap melayani rekaman, juga punya ampiteater, dan pusat gerai UMKM lokal.

Sukses di Solo, tentakel RRR akhirnya sampai juga di Surabaya. Karena sering partneran sama PT Pos Indonesia, mereka lanjut dengan milih Gedung Kantor Pos Besar Kebonrojo jadi target permak berikutnya. Bangunan cagar budaya rancangan arsitek Belanda, G.P.J.M. Bolsius, juga sempat dipakai sama sekolah Hogere Burgerschool (HBS), sekolahnya Bung Karno. Ini pun disulap juga jadi lebih meriah tapi nggak kampungan, demi bisa dipakai bersosial dan berkreasi anak muda setempat atau sekitarnya.

Liat sebaran yang udah kayak gitu, kemungkinan besar ekosistem kreatif Indonesia bakal semakin top. Bahkan bisa saja ekosistem di kota-kota selain Jakarta hidup mandiri. Maksudnya nggak harus tergantung sama pusat, meski perputaran uang di sana memang jauh lebih gede.

Diakuisisi Gurita Besar

Ramalan receh soal ekosistem menggurita, nggak lagi perlu “dekengan pusat” itu bisa jadi nyata. Tapi, tantangan utamanya justru datang dari peristiwa besar barusan yang arahnya masih nge-blur.

kantor pusat idn group - dok: idn.media
dok: idn.media

IDN, korporat media dan teknologi hiburan yang dibangun Utomo bersaudara, Winston dan William, sudah resmi mengakuisisi M Bloc Group awal Mei 2026. Mereka umumkan sendiri langkah itu di laman instagram sendiri, plus rilis resmi ke berbagai platform media, termasuk Tempo.

Di instagram IDN Times, disebutkan nama-nama ruang kreatif yang sebelumnya masuk jaringan M Bloc Group. Seperti M Bloc Space, Pos Bloc Jakarta, Pos Bloc Surabaya, Pos Bloc Medan, sampai Lokananta Bloc Solo. Semuanya bakal tetap dikembangkan jadi rumah para kreator, komunitas, brand, dan audiens buat berkarya, kolab, dan saling konek.

Tapi di rilis resmi itu nggak disebutkan Fabriek Bloc Padang. Entah karena masih pakai bangunan milik swasta, sehingga perjanjiannya jadi agak beda. Atau cuma gara-gara nilai jualnya kurang representatif buat brand IDN, meskipun sudah dimiliki juga. Toh, di portofolio orang pun sering cuma nyebutin proyek-proyek top tier aja biar praktis.

Apapun alasannya, yang jelas sekarang Bloc-Bloc ini sudah jadi milik korporat besar. Asal tahu aja, IDN Group sekarang menaungi JKT-48, platform live streaming Saweria, Boss Creator yang promotor festival, sampai marketplace kreator ICE. Itu belum termasuk jaringan media IDN Times yang sudah lama jadi pesaing nama-nama besar di berbagai niche yang mereka sasar. Plus, lini-lini bisnis kreatif dan hiburan lain yang jumlahnya belasan.

Kalau begitu, berarti ada kemungkinan kalau ekosistem kreatif di Indonesia bakal lebih masif perkembangannya. Kita juga nggak bisa naif, soalnya sejak awal M-Bloc memang bukan lembaga amal. Mereka bikin bisnis buat cari untung lewat passion dan subkultur. Nah, masuknya IDN jelas jadi suntikan yang bagus buat sustain-nya inisiatif mereka. Selain modal uang, jaringan milik IDN jelas punya jangkauan lebih luas.

Cuma ya gitu. Sebelumnya M-Bloc jadi favorit anak muda karena kurasinya yang saklek, nggak masukin brand korporat besar. Dia nyebar ke berbagai kota biar ekosistem di daerah juga ikut hidup. Sekarang, setelah diakuisisi korporat besar, apa kurasi saklek itu bakal tetep jalan? Apa jaringan Bloc di daerah cuma akan jadi ladang panen orang-orang Jakarta, atau sebaliknya menghilangkan ketergantungan dari pusat? Atau jangan-jangan nanti malah diubah jadi franchise? Dan kalau ternyata akhirnya nggak sesuai ekspektasi penggemar subkultur alternatif, apa dia bakal urung berkembang?

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan