Sudah 10 Film + Spin-off Masih Mau Dibikin Serial, Fast And Furious Wajib “Ditertibkan”

Ovan Obing
ilustrasi franchise film The Fast and the Furious

Vin Diesel, Senin (11/5/2026) kemarin bikin pengumuman kalau film The Fast And The Furious (TFATF) bakal diadaptasi ke layar lebih kecil. Rencananya TFATF mau ditayangkan di Peacock, platform streaming milik Universal. Saat ini Vin Diesel dan tim lagi proses menggarap empat serial dengan plot cerita yang masih dirahasiakan.

Tahun ini sudah 25 tahun sejak film pertama TFATF rilis. Dan waktu itu nggak ada yang membayangkan kalau perkembangannya bisa seagresif ini. Sampai 2026 TFATF sudah punya 10 sekuel, spin-off live-action dan animasi, sekarang mau dijadikan serial tv. Itu belum termasuk satu judul layar lebar lagi, Fast Forever yang dijanjikan jadi sekuel terakhir, terbit Maret 2028 nanti.

Jumlah sebanyak itu diperoleh dari inspirasi awal yang sangat simpel, jadi bisa dibilang tim produksi TFATF kreatifnya kebangetan.

Coba cek film franchise populer lain, kayak James Bond, Harry Potter, Lord of The Ring, atau Marvel Cinematic Universe. Semuanya didasarkan dari buku (dan komik) yang cerita aslinya memang panjang dan berliku. Tapi TFATF? Dia “cuma” terinspirasi dari artikel Ken Li di majalah Vibe berjudul “Racer X” yang terbit tahun 1998. Kreatif banget, bukan?

Artikel Ken Li sendiri mengulas tentang eksistensi subkultur balap mobil liar di New York akhir ‘90-an. “Ditemukan” oleh Neal Moritz (produser) dan Rob Cohen (sutradara) yang kemudian menggarapnya jadi film action bermodal 38 juta dollar. Di luar ekspektasi, film aksi berbumbu komplet itu meledak. Belum genap seminggu tayang di bioskop, sudah balik modal.

Dominic Toretto, yang sosoknya mirip sama Rafael Estevez, tokoh ril dalam artikel Racer X yang kebetulan asal Republik Dominika, sukses jadi ikon franchise. Selain tentunya elemen ikonik lain, seperti aksi ugal-ugalan, kebut-kebutan dan ledakan, karakter nyentrik lintas ras, antihero, dan mobil-mobil plus cewek seksi nan cakep yang nampang.

Cuma ya gitu, seiring dengan sekuelnya yang terus nambah, ceritanya ikut berubah, bumbunya pun semakin di luar nalar. Itu bisa kamu buktikan sendiri.

Makin Absurd Seiring Waktu

Sedikitnya tiga seri awal dari franchise ini masih kental dengan nuansa subkultur klub otomotif bawah tanah, yakni The Fast And Furious (2001), 2 Fast 2 Furious (2003), dan Tokyo Drift (2006). Tapi di sekuel setelah-setelahnya, elemen itu pelan-pelan cuma jadi “lipstik”, filmnya justru lebih fokus ke heist.

Perubahan itu kerasa banget mulai Fast Five (2011). Aksi Dominic Toretto dkk semakin kelihatan nggak logis karena adegan-adegannya. Salah satu yang bikin aneh adalah waktu Dominic Toretto dan Brian O’Connor (alm. Paul Walker) dengan mobilnya masing-masing, nyeret brankas yang beratnya berton-ton.

Lalu lanjut di Fast & Furious 6 dengan adegan kejar-kejaran di landasan pacu pesawat. Ini dianggap aneh karena nggak logis, soalnya landasan pacu pesawat di dunia nyata panjangnya paling mentok 5km, tapi di sekuel itu kalau diitung-itung bisa 25km lebih.

Dan kalau dikira sekuel kelima dan enam udah aneh, mungkin kamu belum nonton yang berikut-berikutnya. Di Furious 7, ada mobil yang terjun payung dari pesawat dan langsung ngebut begitu sampai di jalanan. Ada juga scene di mana Dominic dan Brian loncat menyeberangi Etihad Towernaik mobil. Makin absurd lagi waktu dua karakter, Tej (Ludacris) dan Roman (Tyrese Gibson) naik Pontiac Fierro mereka sampai ke luar angkasa di F9(2021).

Herannya, padahal awalnya karakter-karakter ini ‘cuma’ pembalap mobil bawah tanah. Lama-lama mereka skill mereka nambah sampai bisa ngurusin perampokan terorganisir, berperan sebagai agen rahasia, bahkan bermutasi jadi semi-superhero. Formula plot twist unik mereka perlahan juga jadi kebiasaan, hobinya memunculkan lagi karakter lama yang dikira sudah mati di satu sekuel, ternyata hidup dan berkiprah lagi di judul berikutnya, tapi diceritakan amnesia.

Ini kalau disimpulkan, berarti dunia TFATF benar-benar fleksibel. Semua bisa jadi apa saja, tergantung kebutuhan pasar dan kreativitas tim produsernya. Menariknya, konsep absurd film ini sempat di-spill di salah satu dialog dalam F9, waktu Roman bercanda bahwa sepertinya mereka nggak bisa mati.

Dari dialog Roman yang itu, sudah ketahuan kalau film ini sendiri sudah mengakui betapa absurd-nya plot mereka. Meskipun banyak tokoh baru yang juga nggak kaleng-kaleng, tapi ceritanya kadung kemana-mana dan nggak logis, jadinya nggak sesuai ekspektasi. Rasanya kayak people-pleaser yang gagal memuaskan semua orang dan cuma berakhir burn-outsendiri sambil tetep berusaha performatif.

Apa Nggak Capek?

Premis itu salah satunya bisa dilihat dari pendapatan franchise yang terus turun sejak puncaknya di Furious 7 (2015). Waktu itu penghasilan box office-nya masih di angka 1,5 miliar dollar. Lalu turun jadi 1,2 di The Fate of the Furious (2017), melorot di F9 dengan 726 juta, dan mentok 704 juta di Fast X(2023).

Turunnya pendapatan ini seolah jadi bukti nyata dari berbagai ujaran yang sudah lama dilontarkan para kritikus. Dan mustahil produsen nggak sadar kalau penonton sudah mulai “capek”.

Awalnya orang memang nggak kebayang gimana agresifnya TFATF pas rilis pertama kali. Tapi Roger Ebert, kritikus dari Chicago Sun-Times malah sudah memprediksi gejala ugal-ugalan sejak film pertama. Dia nulis soal plot yang “doesn’t have a brain in its head,” alias nggak ngotak sama sekali. Kalimat itupun dia ulang lagi sewaktu me-review sekuel kedua Fast 2 Furious buat menggambarkan istilah preposterous, plot yang sangat nggak masuk akal.

Meski dikritik pedas, publik waktu itu masih bisa toleransi, karena aksi yang disajikan masih fresh, kayak rating yang diberikan sama Rotten Tomatoes. Tapi lama-lama, sorotan mulai melebar ke adegan-adegan penuh aksi yang malah menghilangkan jiwa film itu sendiri.

Kritikus Linda Holmes dari NPR tahun 2021 lalu bilang kalau plot TFATF yang menurutnya “bodoh” itu malah mengaburkan fenomena subkultur nyata yang lebih seru, yaitu balap liar.

…to miss the series’ resilience, its invention, its adaptability, and the way it has been stripped of its original identity is to miss the story of Hollywood,” tulis Linda Holmes.

Maksudnya, bentuk paling agresif dari Hollywood bisa dilihat jelas dari film waralaba ini. Adaptif dan tangguh, tapi nggak ragu buat menghapus esensi dari fenomena yang dia angkat sendiri, demi cuan.

Kamu bisa lihat sendiri di Fast Xyang kerasa semakin ugal-ugalan. Yang imbasnya juga dikritik lagi oleh majalah Rolling Stone yang nyebut plot Fast X dengan istilah “Lifeless ChatGPT“. Itu kayak kamu nge-prompt dan voila, di-copy-paste saja meski rasanya sama sekali bukan kayak tulisan manusia.

Tapi, semua kritik dan pendapatan yang turun itu kayaknya nggak menggoyahkan semangat Dominic Toretto. Mungkin karena dia “kepala keluarga”, bahkan mungkin pemimpin Bani, jadi seolah merasa bertangung jawab agar semua anggotanya kumpul terus. Salah satu caranya, ya dengan menghidupkan lagi keseruan aksi TFATF buat layar streaming nanti.

Cuma begini, kalau balap liar saja harusnya sudah kena tilang, gimana dengan balap liar yang melibatkan semi-superhero versus penjahat kelas kakap internasional yang hobinya merusak infrastruktur kota-kota besar, ini apa nggak malah wajib segera ditertibkan?

Leave a Comment

Leave a Reply