Coba ingat-ingat suasana venue setiap konser yang pernah kamu datangi. Pasti warna ruangannya akan berbeda tergantung genre musiknya. Venue konser hardcore, metal, atau punk biasanya temboknya gelap, dominan hitam atau abu-abu, plus pencahayaan minim dan sorot lampu tajam. Gedung konser orkestra atau resital musik klasik umumnya didominasi warna kuning keemasan, krem, putih gading, dengan lighting yang lebih warm. Jazz club atau konser intimate jazz yang biasa digelar di ruangan kecil, warnanya cenderung merah tua atau amber temaram. Dan konser-konser lainnya.
Sebenarnya warna ruangan itu bukan murni soal estetika, identitas genre, atau menyesuaikan tema. Warna ikut membentuk cara telinga menangkap suara. Gedung dengan akustik, panggung, alat musik, sampai desibel yang sama persis pun, akan menghasilkan output suara yang terasa berbeda kalau di-setting di ambience warna lain.
Ini bukan sugesti atau bias personal, ya. Otak manusia bisa tertipu dan mengomando telinga untuk mendengar suara yang berbeda, gara-gara hal yang nggak ada hubungannya dengan suara sama sekali.
Tim peneliti dari Technical University of Berlin menguji fenomena itu lewat konservirtual reality. 48 partisipan dipasangkan headset Varjo VR-2 Pro, lalu diajak masuk ke replika digital dari Small Hall di Konzerthaus Berlin.
Bukan foto 360 derajat yang diam, ini adalah rekaman pertunjukan musik sungguhan dengan teknologi motion tracking. Seorang pemain biola dan klarinet profesional direkam di depan green screen, lalu ditempatkan di panggung virtual yang bergerak mengikuti arah pandang partisipan.

Peneliti mengubah-ubah skema warna ruangan pakai model HSL (Hue, Saturation, Lightness), yang menghasilkan total 12 skema warna berbeda dari kombinasi merah, hijau, dan biru dengan variasi tingkat kecerahan dan saturasi.
Sambil mendengarkan karya Bach dan Grgin, para partisipan diminta menilai delapan atribut akustik ruangan sekaligus, diambil dari alat ukur bernama Room Acoustical Quality Inventory (RAQI). Ada loudness, reverberance, sampai aspek-aspek yang berkaitan sama timbre atau warna suara, seperti brilliance, warmth, clarity, dan roughness alias kekasaran suara.
Volume dan Gema Nggak Terpengaruh
Salah satu temuan yang mematahkan asumsi lama adalah soal kecerahan ruangan. Banyak yang mengira ruangan terang otomatis terasa lebih “keras”. Ternyata nggak ada hubungan signifikan antara kecerahan ruangan dengan persepsi volume atau gema.
Menurut peneliti Stefan Weinzierl, persepsi akustik itu sebenarnya berlapis. Orang bisa merasakan ruangan lebih bergema atau tidak, lebih keras atau pelan, tapi ada juga persepsi soal warna suara tertentu, seperti apakah suara itu terasa hangat, terang, atau metalik.
Loudness dan gema sifatnya unimodal, murni diproses lewat telinga. Tapi persepsi kehangatan suara melibatkan indra lain. Makin pekat saturasi warna ruangan, makin kurang hangat musik terdengar di telinga partisipan. Warna seperti hijau tua, biru tua membuat suara terasa lebih dingin, bahkan cenderung metalik.
Fenomena ini disebut semantic mediation. Manusia terbiasa pakai kata yang sama untuk menggambarkan pengalaman sensorik yang sebenarnya berbeda sumbernya.
Selimut disebut hangat atas indra peraba, warna disebut hangat lewat indra penglihatan, suara juga disebut hangat lewat indra pendengaran. Semuanya pakai kata yang sama, meski melibatkan indra yang berlainan.
Karena otak menyimpan konsep-konsep ini dalam kategori bahasa yang sama, kehangatan visual dari ruangan berwarna merah bisa merembes ke proses pendengaran. Semacam ada titik silang di sistem pemrosesan otak. Titik itu ikut membentuk cara manusia menikmati sebuah karya seni.
Sebenarnya ini bukan hal baru juga. Penelitian-penelitian sebelumnya menemukan pola serupa, misalnya mobil warna merah yang sering dianggap lebih berisik dibanding mobil hijau, padahal mesin dan modelnya identik. Otak manusia memang punya kecenderungan mencampuradukkan sinyal dari berbagai indra begini.

Bagian lain yang menarik dari penelitian ini adalah siapa yang paling rentan terhadap efek visual tersebut. Wajar kalau orang menduga musisi terlatih akan lebih kebal dari tipuan semacam ini. Tapi faktanya nggak gitu.
Peneliti pakai Goldsmiths Musical Sophistication Index (Gold-MSI) untuk mengukur latar belakang musikal partisipan. Orang dengan tingkat pelatihan musik tinggi malah ternyata lebih rentan terpengaruh warna ruangan.
Mereka yang gemar menganalisis musik sebagai hobi makin menikmatinya ketika warna ruangan lebih pekat. Sementara orang dengan pelatihan musik formal cenderung lebih suka ruangan dengan saturasi warna rendah. Latar belakang musikal seseorang kayak lensa yang menentukan seberapa besar pengaruh warna terhadap persepsi pendengarannya.
Terus, tingkat kesukaan atau liking terhadap pertunjukan musik akan menurun seiring bertambah terangnya ruangan. Partisipan justru cenderung lebih menikmati musik yang dimainkan di ruangan yang lebih gelap, terlepas dari warna apa pun yang mendominasi. Efek ini juga makin kuat pada partisipan dengan pengalaman musik personal yang tinggi.
Jadi Kita Ini Dengar Musik Pakai Telinga atau Mata?
Selama ini, anggaran besar untuk membangun sebuahhall biasanya habis buat memikirkan material panggung dan lengkungan langit-langit. Tapi yang sama pentingnya dan perlu dipikirkan matang-matang adalah warna dinding dan pencahayaan.
Gedung yang didesain untuk punya karakter suara hangat, tapi dindingnya dicat biru terang menyala, akan melawan cara kerja otak penontonnya.
Peneliti bahkan menyarankan supaya pencahayaan dan desain interior gedung konser mulai diperlakukan sebagai alat akustik, sejajar pentingnya dengan panel peredam suara.
Soalnya ya karena indra manusia nggak sesederhana itu. Mendengar sering dianggap murni urusan telinga, padahal mata diam-diam ikut ambil bagian. Warna tembok yang kelihatannya sepele, ternyata ikut menentukan bagaimana sebuah karya musik dirasakan.
Sekarang tahu kan kenapa mendengarkan lagu sedih di malam hari, di kamarmu yang gelap itu, rasanya lebih ngena dan relate abis sampai membuatmu sulit berhenti nangis?

