Kabar kematian Marjane Satrapi membuat saya kembali membuka halaman-halaman Persepolis. Bukan untuk mencari alasan mengapa ia penting, sebab dunia sastra dan seni telah lama menjawab pertanyaan itu. Saya justru bertanya pada hal yang lebih sederhana: mengapa sebuah cerita tentang seorang anak perempuan di Iran masih terasa dekat bagi seseorang yang hidup ribuan kilometer jauhnya, di waktu yang berbeda, dengan sejarah yang berbeda?
Mungkin karena pada akhirnya manusia tidak hidup di dalam sejarah.
Manusia hidup di dalam ingatan.
Sejarah sering kali datang kepada kita dalam bentuk yang megah. Ia dipenuhi tanggal, tokoh, revolusi, kemenangan, kekalahan, pidato, dan monumen. Sejarah berbicara tentang negara. Tentang kekuasaan. Tentang perubahan besar yang menggerakkan dunia.
Tetapi ketika sebuah peristiwa benar-benar terjadi, hampir tidak ada orang yang menyadari bahwa mereka sedang hidup di dalam sejarah.
Yang mereka rasakan hanyalah ketakutan.
Yang mereka ingat hanyalah wajah-wajah.
Yang tersisa hanyalah kehilangan.
Di situlah Persepolis menemukan kekuatannya.
Marjane Satrapi tidak menulis tentang Revolusi Iran sebagaimana seorang sejarawan menulis revolusi. Ia tidak berdiri di podium. Ia tidak berbicara atas nama bangsa. Ia tidak menawarkan kesimpulan besar tentang masa depan dunia.
Ia hanya bercerita.
Tentang keluarga.
Tentang rumah.
Tentang perang yang perlahan masuk ke ruang makan.
Tentang bagaimana politik yang jauh tiba-tiba menjadi sangat dekat.
Melalui cerita yang begitu personal, Satrapi justru berhasil menjelaskan sesuatu yang sering gagal dijelaskan oleh buku-buku sejarah: bahwa setiap peristiwa besar selalu dibayar oleh manusia-manusia biasa.
Mungkin karena itu Persepolis masih relevan hari ini.
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mengingatnya. Setiap hari ada peristiwa baru yang meminta perhatian. Setiap minggu ada kemarahan baru yang menuntut respons. Kita dibiasakan untuk mengetahui banyak hal, tetapi tidak diberi cukup waktu untuk memahami satu hal dengan sungguh-sungguh.
Linimasa bergerak seperti sungai yang tak pernah berhenti.

Apa yang viral kemarin tenggelam hari ini.
Apa yang menggemparkan bulan lalu berubah menjadi arsip yang tak pernah dibuka lagi.
Kita menyimpan segalanya.
Tetapi mengingat semakin sedikit.
Barangkali itulah sebabnya karya seperti Persepolis terasa penting untuk dibaca ulang. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya tersusun dari fakta-fakta, melainkan juga dari pengalaman manusia yang rapuh.
Ada kecenderungan untuk percaya bahwa sejarah adalah milik mereka yang menang. Namun Satrapi menunjukkan bahwa sejarah juga hidup di tangan mereka yang hanya berusaha bertahan.
Di dalam percakapan keluarga.
Di dalam ketakutan seorang anak.
Di dalam surat yang tidak pernah dibalas.
Di dalam nama-nama yang tidak masuk buku pelajaran.
Mungkin itu pula yang sedang kita hadapi hari ini.
Banyak orang berusaha meninggalkan jejak. Banyak orang takut dilupakan. Banyak orang berlomba menjadi penting. Tetapi semakin saya bertambah usia, semakin saya curiga bahwa yang paling bertahan bukanlah ketenaran, melainkan kesaksian.
Seseorang bisa kehilangan rumahnya.
Seseorang bisa kehilangan negaranya.
Seseorang bisa kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Tetapi selama cerita mereka masih diceritakan, ada bagian dari mereka yang tetap hidup.
Marjane Satrapi telah pergi.
Namun yang ditinggalkannya bukan sekadar buku, film, atau penghargaan.
Ia meninggalkan cara untuk mengingat.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus bergerak terlalu cepat, kemampuan untuk mengingat adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling manusiawi.
Karena setelah sejarah pergi, yang tersisa bukanlah monumen.
Yang tersisa adalah cerita yang masih sanggup kita ceritakan kepada satu sama lain.

