“Women are born with pain built in. It’s our physical destiny – period pains, sore boobs, childbirth. We carry it within ourselves throughout our lives. Men don’t. They have to seek it out..”
Agaknya, dialog yang diucapkankarakter Kristin Scott Thomas di serial TVFleabag itu mungkin terdengar seksis, atau mengarah ke feminis. Tapi itu sebenarnyafakta. Secara ilmiah, perempuan memang punya representasi lebih besar dalam mengalami rasa sakit.
Studi di 19 negara Eropa menemukan kalau sekitar setengah dari semua kondisi nyeri kronis yang tercatat medis lebih sering dirasakan perempuan ketimbang laki-laki. Ini nggak cuma terjadi di manusia. Hewan betina juga punya sensitivitas lebih tinggi terhadap rasa sakit dibanding jantan.
Ahli epidemiologi nyeri Rui Li dari Seattle Children’s Research Institute, bilang kalau perbedaan pengalaman rasa sakit perempuan dan laki-laki sebenarnya sudah muncul sekitar masa pubertas. Otak mulai memicu produksi hormon seks utama: testosteron yang dominan pada laki-laki dan estrogen pada perempuan.
Perbedaan itu juga memengaruhi gimana tubuh merasakan sakit. Kadar testosteron yang lebih tinggi bikin seseorang cenderung nggak gampang merasakan nyeri. Sebaliknya, perubahan kadar estrogen di perempuan berpengaruh ke seberapa sering dan kuatnya rasa sakit muncul dalam beberapa kondisi.
Migrain, misalnya, tiga kali lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Biasanya menyerang perempuan di dua hari pertama setelah menstruasi, waktu kadar hormon dalam tubuh sedang berubah. Migrain biasanya paling sering muncul selama masa reproduksi, lalu cenderung berkurang setelah menopause.
Otak Juga Punya Andil
Cara tubuh memproses rasa sakit juga berkaitan dengan cara otak dan sistem sarafbekerja. Walaupun rasa sakit sering terasa di bagian tubuh tertentu, misalnya kepala, punggung, atau sendi, proses sebenarnya terjadi di otak.
Pengalaman rasa sakit melibatkan banyak area sekaligus, sepertiinsula,korteks prefrontal, amigdala, dan korteks somatosensori (search sendiri ya).
Ilmuwan juga menemukan bahwa bagian otak tertentu bekerja sedikit berbeda pada laki-laki dan perempuan saat memproses rasa sakit.
Itulah mengapa nyeri bisa terasa nggak sama, bahkan meski kondisi medisnya serupa.
Terus, beberapa peneliti juga meyakini perbedaan ini sudah tertanam jauh di dalam sistem biologis tubuh sejak awal. Salah satu petunjuknya datang dari hormon bernama prolaktin yang diproduksi otak dan berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres.
Karena perempuan punya respons stres lebih tinggi dan kadar prolaktin lebih tinggi dalam darah, Frank Porreca, peneliti nyeri dari University of Arizona, mulai berspekulasi bahwa hormon ini punya kaitan dengan rasa nyeri perempuan.
Dugaan itu makin kuat karena ada bukti kalau orang dengan tumor penghasil prolaktin lebih sering mengalamisakit kepala dan migrain.
Waktu Porreca dan timnyamenguji ini di laboratorium, hasilnya cukup kelihatan jelas. Pada tikus, monyet, dan jaringan manusia, prolaktin menurunkan ambang aktivasi saraf nyeri. Alias bikin tubuh lebih gampang merasakan sakit. Tapi efek ini hanya muncul pada perempuan.

Sebaliknya, ada protein otak bernama orexin yang biasanya mengatur tidur dan kewaspadaan, ternyata juga bisa bikin reseptor nyeri makin sensitif, tapi hanya pada laki-laki.
Jadi ya, sistem saraf yang memproses rasa sakit memang bekerja dengan cara yang berbeda, tergantung jenis kelaminnya.
Jeffrey Mogil, ahli saraf dari McGill University, sudah meneliti perbedaan ini selama beberapa dekade. Bermula dari penemuan yang nggak disengaja waktu ia masih jadi mahasiswa pascasarjana, bahwa obat penghilang rasa sakit bekerja sangat baik pada tikus jantan, tapi tidak pada tikus betina.
Temuannya sempat mau ditekan pembimbingnya karena dianggap memperumit hal yang sederhana. Mogil mengabaikan saran itu.
Dan ternyata perbedaannya lebih dalam dari yang dikira. Pada 2015, Mogil dan timnya menemukan sel mikroglia atau sel imun yang hidup di otak dan sumsum tulang belakang (selama ini dianggap sebagai mediator yang membuat tubuh jadi lebih sensitif terhadap rasa sakit) ternyata hanya berperan penting pada tikus jantan.
Pada tikus betina, tugas itu diambil alih oleh sel T, sejenis sel darah putih yang biasanya lebih dikenal sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
Intinya dua jenis kelamin menggunakan pemain berbeda untuk memproses rasa sakit, bahkan di level sel.
Yang bikin temuan ini makin penting, selama ini banyak penelitian hanya fokus pada subjek jantan, lalu langsung menggeneralisasikan hasilnya begitu saja ke betina.
Berarti, sebagian besar yang kita tahu soal nyeri, termasuk cara kerjanya, cara mengobatinya, mungkin selama ini hanya menggambarkan setengah dari cerita yang sebenarnya. Walah.
Pemulihan Rasa Sakit Perempuan Biasanya Lebih Lama

Kalau dua insan mengalami cedera yang sama, proses pulihnya belum tentu sama. Banyak penelitian menemukan bahwa perempuan, rata-rata, merasakan nyeri lebih lama dibanding laki-laki setelah kecelakaan atau operasi. Bukan karena mereka lemah, ya.
Ini adalah perbuatan sistem imun.
MenurutGeoffroy Laumet, ahli fisiologi dari Michigan State University, setelah tubuh cedera, sel-sel imun bergerak ke jaringan yang rusak dan mengirim berbagai sinyal kimia. Sebagian sinyal memperkuat rasa sakit, sebagian lagi membantu meredakannya.
Nah, dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnalScience Immunology, para peneliti fokus ke molekul bernama interleukin-10 (IL-10), semacam “pemadam” peradangan yang juga bisa meredam sinyal nyeri pada saraf.
Hasilnya cukup bikin mereka (atau saya) terkejut.Dalam eksperimen pada tikus, jantan pulih lebih cepat dari peradangan bukan karena lukanya lebih ringan, tapi karena jaringan mereka punya lebih banyak sel imun penghasil IL-10. Waktu molekul ini diblokir, rasa sakit pada tikus jantan maupun betina sama-sama bertahan lebih lama.
Terus, kenapa tikus jantan bisa punya lebih banyak sel imun itu? Lagi-lagi, testosteron.
Ketika tikus betina diberi hormon mirip testosteron, tubuh mereka mulai memproduksi lebih banyak IL-10, dan pemulihan mereka ikut membaik. Sebaliknya, ketika sumber testosteron pada tikus jantan dihilangkan, keunggulan itu ikut lenyap.
Temuan ini kemudian dicocokan dengan data manusia dari studi besar bernama AURORA, yang mengikuti pasien setelah cedera traumatis seperti kecelakaan kendaraan.
Di awal cedera, laki-laki dan perempuan melaporkan tingkat rasa sakit yang hampir sama. Tapi beberapa bulan kemudian, nyeri pada laki-laki menurun lebih cepat. Dan kadar IL-10 mereka yang lebih tinggi jadi salah satu faktornya.
Tapi Biologi Bukan Satu-satunya Masalah

Memahami rasa sakit nggak cukup cuma dari sisi biologis. Ada lapisan lain yang nggak kalah berat: sosial dan psikologis.
Banyak perempuan bercerita bahwa ketika mereka mengeluhkan rasa sakit, pengalaman itu sering dianggap berlebihan atau nggak dipercaya sepenuhnya.
Peneliti nyeri kronis Ann Gregus menyebut bahwa sejak lama banyak perempuan bahkan diajarkan untuk menyembunyikan rasa sakit mereka. Karena takut dianggap nggak mampu bekerja lah, mengurus keluarga, dibilang manja, dsb.
Jane Chalmers, peneliti nyeri dari University of South Australia, juga meyakini stigma sosial sebagai salah satu tantangan terbesar perempuan. Mereka khawatir dianggap terlalu mengeluh atau drama ketika mereka bicara soal rasa sakit. Akibatnya, nggak sedikit yang pilih menahannya saja.
Ini paling kentara pada nyeri panggul kronis. Kondisi seperti endometriosis dan adenomyosis yang diperkirakan memengaruhi 4–16% perempuan, tapi sering telat didiagnosis karena masyarakat udah terlanjur menormalisasi rasa sakit yang berkaitan dengan organ reproduksi perempuan.
Sebenernya nggak normal kalau seseorang harus meringkuk kesakitan selama beberapa hari tiap bulan. Tapi banyak perempuan menganggap nyeri haid itu hal yang wajar, apalagi kalau ibu, kakak, atau orang terdekat mereka juga mengalaminya.
Pada kasus endometriosis (kondisi ketika jaringan yang melapisi rahim tumbuh di luar rahim), banyak perempuan mengalami gejala selama tujuh sampai delapan tahun sebelum akhirnya didiagnosis dengan benar.
Dan ini bukan cuma di kondisi kronis, Sis. Dalam kasus akut seperti serangan jantung pun, perempuan diketahui lebih lama menunggu diagnosis dan penanganan dibanding laki-laki.
Lalu Apakah Harus Pasrah?
Tenang dulu. Para ilmuwan kini mulai mengeksplorasi terapi baru yang menargetkan mekanisme imun.
Dalam eksperimen pada tikus, sebuah molekul bernama resolvin D1 (RvD1) berhasil meningkatkan produksi sel imun penghasil IL-10 dan mempercepat pemulihan pada kedua jenis kelamin.
Artinya, di masa depan mungkin akan ada terapi yang membantu tubuh menedam rasa sakit lebih efektif, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada obat pereda nyeri konvensional.
Buat banyak perempuan, temuan-temuan ini mungkin akan jadi semacam validasi yang sudah lama ditunggu.
Bahwa ketika mereka bilang “ini sakit”, tubuh mereka memang benar-benar sedang mengalaminya. Bukan lebay atau drama.







