23 Mei 1982, Musician’s Union (MU) atau Serikat Musisi di Inggris bikin pertemuan darurat. Mereka bermaksud mengesahkan larangan pakai synth, drum machine, atau perangkat elektronik musikal lain yang bisa menggantikan peran instrumen musik tradisional. Lalu organisasi yang sama, beberapa tahun terakhir juga lagi gencar nolak eksploitasi musik buat pembelajaran teknologi akal imitasi.
Dua isu di rentang periode yang lama, menyasar lini yang sama, tapi itu bukan semuanya. Sepanjang 44 tahun, tepatnya, sempat beberapa kali mencuat isu soal relasi konflik antara musisi vs teknologi musik. Lucunya, hampir selalu lahir budaya bermusik baru dalam beberapa tahun pasca protes dilayangkan. Sebagian musisi yang mampu adaptasi sama teknologi baru, justru bikin inovasi yang bahkan masih lestari sampai sekarang.
Contoh paling jelas, ya di isu “darurat synth” yang diusung MU tahun 1982 itu.
Aksi Tolak Perangkat Elektronik Simulator Musik
Kritik keras ini awalnya dipicu penampilan Barry Manilow yang “Can’t Smile Without You” di tur Inggrisnya tahun 1982. Waktu itu dia mengganti sebagian pemain orkestra dengan sepasang synthesizer. Biar ngirit sambil tetep dapetin nuansa big band di musiknya. Dari situ, banyak musisi orkestra yang kuatir rezekinya seret gegara perannya diganti sama instrumen simulator elektronik.
Akhirnya, secara kebetulan tepat di tanggal ulang tahun Robert Moog, bapak synthesizer modern, MU cabang London melayangkan mosi larangan yang kita sebutkan di awal tadi.
MU sebenernya punya kecemasan spesifik di ranah produksi teater di West End London yang tergantung banget sama musisi manusia. Sementara, di teater, mereka selalu bawa sekompi pemain orkestra dengan seksi brass, strings, dan perkusi yang komplet. Mereka nggak bisa membayangkan perannya bakal tergeser oleh teknisi—waktu itu pemegang instrumen elektronik nggak mereka sebut sebagai musisi—perangkat musik elektronik yang bisa niru suara instrumen musik konvensional.
Apakah kemudian mosi ini dapat dukungan banyak pihak? Iya. Tapi dari sisi internal MU sendiri juga muncul pendapat sebaliknya, nggak setuju.
Namanya serikat musisi pasti anggotanya juga pemain musik aneka instrumen. Nah, para anggota MU yang pemain synth, jelas nggak setuju sama mosi tolak elektronika, sampai bikin organisasi tandingan bernama Union of Sound Synthesists. Sementara itu, media juga ikut manasin, seperti kritikan pedas dari majalah NME yang nyebut golongan MU London penolak teknologi ini sebagai “MU loonies (orang gila)”.
Masalahnya, sejak akhir ’70-an sampai ’80-an, synth-pop jadi arus utama di blantika musik, oleh sebab Kraftwerk. The Human League, Duran Duran, Depeche Mode, dan banyak nama lagi muncul dan membesar di era-era ini. Beberapa perangkat mesin drum, kayak Roland TR-808 dan TR-909 mewarnai banyak studio dan pertunjukan. Sedikit info tambahan, bahkan keyboard Roland Juno yang legendaris itu juga pertama kali meluncur tahun 1982. Jadi, mosi “darurat synth” MU London kubu orkestra ini bisa dibilang melawan arus utama.
Pada akhirnya, ternyata gerakan kubu orkestra ini layu sebelum berkembang. Begitu mosi dibawa ke konferensi nasional MU beberapa bulan kemudian, usulan boikot total tersebut kalah voting dan ditolak. Mainstream terlalu deras untuk bisa dibendung. Kubu mereka pun nyerah dan milih kompromi. MU memastikan para pemain synthesizer tetap dibayar layak, alih-alih coba melenyapkan mereka sama sekali dari panggung.

Siklus Benci-Cinta Musik & Teknologi
Ironinya baru kelihatan belakangan. Alasan utama yang bikin kubu orkestra di MU panik setengah mati, mereka ngira kalau synth bakal bisa niru instrumen akustik “asli” dengan sempurna, sehingga posisi pemain orkestra bisa tergantikan, padahal teknologinya belum secanggih itu. Tapi lucunya, justru karena belum bisa niru suara asli, perangkat elektronik ini malah menghasilkan karakter suara unik yang benar-benar baru. Mesin drum Roland TR justru jadi fondasi lahirnya genre musik baru, kayak house dan techno. Dan tahun 1997, pas MU resmi nyabut mosi “darurat synth”, mereka juga sekaligus buka membership buat musisi yang DJ.
Siklus ini ternyata agak sering berulang dan nyaris selalu terjadi setiap kali ada inovasi teknologi baru di ranah musik. Setelah urusan synth reda, “musuh” baru pun bermunculan, di era dan konteks yang beda.
Akhir ’80-an hip hop mulai ngetren. DJ dan produser mereka sering motong-motong elemen di rekaman lagu lawas buat dijadikan musik baru, yang kemudian disebut dengan teknik sampling. Praktik ini dipermasalahkan oleh beberapa perusahaan rekaman, salah satunya Grand Upright Music yang di tahun 1991 nuntut hak cipta dari lagu Biz Markie (DJ, rapper, produser) berjudul “Alone Again”, yang ambil sampling dari “Alone Again (Naturally)” milik Gilbert O’Sullivan tanpa izin.
Warner Bros yang mewakili Biz Markie kalah di pengadilan. Hukum kemudian mewajibkan izin berbayar buat ambil sampling lagu. Tapi alih-alih dikira bakal mematikan perkembangan hip-hop, kebijakan ini malah memicu munculnya industri baru. Teknik sampling pun diadopsi lebih lanjut sama musisi-musisi non-hip-hop.
Beberapa tahun kemudian, ada konflik baru lagi. Kali ini trigger-nya datang dari Cher yang pakai teknologi perbaikan nada, rintisan Andy Hildebrand (insinyur geofisika), yaitu Antares Auto-Tune. Lagu “Believe” Cher yang rilis 1998 sengaja pakai teknologi itu, tujuannya memang buat menghasilkan suara artifisial.
Produser sempat merahasiakan karena takut dihujat. Dan beneran, kalangan puristmusik mencap auto-tune sebagai alat buat “penyanyi yang nggak bisa nyanyi”. Meskipun begitu, teknologi ini akhirnya malah sengaja dipakai buat bikin karakter musik yang unik. T-Pain (rapper/produser) yang memanfaatkannya secara masif, lagu-lagunya malah jadi hits di tahun 2000-an. Lalu diikuti Kanye West dan banyak artis lain, sampai akhirnya menjadi standar estetika baru di beberapa genre, termasuk pop dan R&B.
Isu auto-tune aslinya belum juga reda, bahkan sampai sekarang. Tapi, isu lain sudah muncul, yaitu adopsi teknologi perangkat lunak dan internet.
Masuk era 2000-an, konfliknya geser dari cara bernyanyi ke produksi musik. Lahirnya Digital Audio Workstation (DAW) macam Pro Tools, Cubase, dan FruityLoops yang bisa dipakai semua orang dengan perangkat komputer mumpuni, bikin studio-studio besar dan audio engineer tradisional kelabakan. Orang-orang ini kuatir dengan merosotnya standar kualitas audio. Dan, utamanya lapangan kerja mereka bisa-bisa digeser oleh pengulik amatiran bermodal laptop.
Tapi, ketakutan itu lagi-lagi nggak terbukti bikin kacau industri. Produksi musik jadi lebih gampang dan murah. Dari studio minimalis di rumah, lahir gelombang home-recording, bedroom pop, musik lo-fi, sampai generasi musisi SoundCloud yang bisa bikin hits global yang nggak butuh studio mahal atau label rekaman, contohnya Lil Nas X, Billie Eilish, Post Malone.

Terus Sekarang, Akal Imitasi
Dan sekarang, kita lagi berada di momen yang sama, menghadapi jenis ketakutan yang sama, untuk bentuk teknologi yang beda. “Musuhnya” bukan lagi mesin atau perangkat lunak, tapi kombinasi keduanya. Algoritma AI generatif yang gerilya mempelajari jutaan katalog lagu, tanpa kompromi lebih dulu dengan pemiliknya.
Harus diakui kalau isu akal imitasi ini bobotnya beda sama yang sebelum-sebelumnya. Banyak model AI dilatih dari katalog rekaman musik yang jumlahnya begitu masif, lewat metode gerilya tanpa izin eksplisit dari pemilik karya. Jadi selain perkara mesin baru dicemaskan bisa menggantikan kerjaan manusia, kali ini masalahnya juga hak cipta. Soal karya manusia yang disarikan jadi data buat melatih sistem, yang ujungnya dimaksudkan bisa niru gaya nyanyi, komposisi, bahkan warna suara, tanpa izin apalagi kompensasi.
Nggak heran kalau protesnya Musician’s Union kali ini lebih masif, bareng organisasi sekutu kayak Music Managers Forum dan Music Producers Guild, kembali pasang badan. Mereka gencar mendesak pemerintah Inggris agar mewajibkan perusahaan AI minta persetujuanlangsung dari musisi, bukan cuma dari label rekaman.
Protes ini sempat dihiasi rilisan album “bisu” berjudul Is This What We Want? atas inisiatif lebih dari seribu musisi, termasuk Kate Bush, Annie Lennox, Damon Albarn. Album 12 trek berisi rekaman kosong ini jadi penolakan simbolis musisi yang nuntut agar karyanya nggak dilibatkan dalam pelatihan AI.
Ketakutan mereka jelas sama validnya dengan pemain orkestra West End 40 tahun lalu. Tapi kalau mengacu sejarah di sepanjang empat dekade ini, industri musik nggak pernah punya kuasa buat nyetop lahirnya kultur hasil adaptasi teknologi baru. Polanya sejauh ini masih konsisten. Tuduhan awal bahwa teknologi bisa merusak murninya musik, mengancam mata pencaharian, atau nipu pendengar, ternyata justru melahirkan inovasi yang kemudian jadi rujukan generasi mendatang.
Faktanya sekarang, Universal Music Group dan Spotify justru kerja sama bikin fitur AI generatif yang melegalkan fans buat bikin lagu cover atau remix langsung di aplikasi, dengan jaminan royalti tetap mengalir ke musisi asli. Sementara Bandcamp yang awalnya kampanye “Keeping Bandcamp Human” dengan melarang keras musik AI generatif, juga baru diakuisisi sama SongTradr yang aktif di kancah per-AI-an. Sedangkan platform alternatif lain, Tidal, milih jalan tengah yang taktis dengan melabeli lagu hasil AI generatif 100% dan nyabut hak royaltinya.
Jadi, kira-kira mana yang bakal gembos nanti? Penolakannya atau inovasinya? Entahlah. Yang jelas babaknya baru saja dimulai, dan rasanya masih terlalu dini untuk bisa ambil kesimpulan. Saya sendiri nggak punya bayangan gimana karya musik yang mengombinasikan sentuhan manusia dengan teknis AI.

