in

hipKultum #9: Kisah Nabi Ishaq AS, Nenek Moyang Israel

Ilustrasi pria berjalan di gurun menggandeng unta
Ilustrasi pria berjalan di gurun menggandeng unta

Nabi Ishaq merupakan salah satu nabi yang dianggap sangat penting dalam sejarah agama Islam. Ia adalah putra dari Nabi Ibrahim dan Sarah. Nabi Ishaq diperintahkan berdakwah di Kana’an. Kisah hidup Nabi Ishaq pun menjadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari, begitu pula dengan keteladanan yang dapat diambil dari kehidupannya.

Kelahiran Nabi Ishaq

Nabi Ishaq dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan keagungan dan keutamaan. Ayahnya, Nabi Ibrahim, adalah seorang nabi yang dihormati dan diakui kebesarannya oleh beberapa agama. Sedangkan ibunya, Sarah, juga merupakan seorang wanita yang solehah dan taat kepada perintah Tuhan.

Dalam surah As-Saffat ayat 112-113, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”

Sebagai pasangan Nabi Ibrahim, Sarah tidak pernah diberikan anugerah keturunan, meskipun usianya sudah mencapai sekitar 90 tahun pada saat itu. Nabi Ibrahim sendiri berusia hampir 120 tahun. Kabar ini sangat mengejutkan keduanya, mengingat usia mereka yang sudah sangat tua. Namun, Allah SWT dengan rahmat-Nya memberikan anugerah berupa keturunan. Sarah pun tak dapat menahan diri untuk bertanya ketika mendengar berita tersebut.

Dalam surah Hud ayat 71-73 tertulis: “Dan istrinya berdiri dan tersenyum. Demikianlah Kami mengumumkan kepadanya kelahiran Ishak dan setelah kelahiran Ishak maka akan lahir Yaqub. Melahirkan anak-anak dan suami saya sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang luar biasa.”

Siti Sarah hamil saat sudah tua, kemudian Ishaq lahir di daerah Hebron sebagai putra kedua. Nama Ishaq berasal dari istilah Ibrani yishaq, yang memiliki arti tertawa atau tersenyum. Asal usul kata tersebut terkait dengan pengalaman ibunya. Sarah, yang tersenyum dengan tidak percaya setelah menerima berita baik dari seorang malaikat.