Cuma di Indo, Lomba Cerdas Cermat Jurinya Malah Nggak Cermat

Lionita Nidia
Lomba cerdas cermat MPR

Bayangin kamu sudah belajar berminggu-minggu buat ikut lomba cerdas cermat. Hafal pasal demi pasal, latihan rebutan jawaban sampai refleks tanganmu secepat kilat. Di panggung, kamu pencet bel duluan, jawab dengan lantang dan yakin benar, tapi dinilai salah.

Pas dilempar ke tim lain, mereka jawab hal yang persis sama. Juri kasih poin sempurna. Kamu protes tapi sia-sia. Karena juri dianggap yang berkompeten dan berkuasa di sana.

Selamat datang di Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026, Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah lomba yang katanya dirancang untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda Indonesia.

Kronologi Buat yang Belum Tahu

Lomba cerdas cermat 4 pilar mpr

Tanggal 9 Mei 2026, babak final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat digelar di Pontianak dan disiarkan langsung lewat YouTube resmi MPR RI. Tiga sekolah bertemu: SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.

Di sesi rebutan, pertanyaan dilontarkan soal kewajiban pertimbangan DPR dalam memilih anggota BPK.

Regu C dari SMAN 1 Pontianak lebih dulu pencet bel. Salah satu siswi menjawab dengan lantang “Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”

Jawaban itubenar sesuai konstitusi. Tapi juri langsung memberi nilai minus 5 dengan alasan unsur DPD tidak terdengar disebutkan.

Pertanyaan lalu dilempar ke regu lain. SMAN 1 Sambas menjawab dengan isi yang sama persis. Dapat 10 poin penuh.

Siswi dari SMAN 1 Pontianak yang merasa janggal langsung protes. Tapi juri tetap kukuh. Keputusan ada di tangan juri. Titik.

Lalu juri kedua menimpal dengan argumen yang lebihmind blowing. Katanya, dari awal sudah diperingatkan bahwa artikulasi itu penting. Kalau juri tidak mendengar, ya itu resiko peserta.

Eh, btw, ini lomba cerdas cermat atau ajang pencarian bakat? Jangan-jangan bukan masalah artikulasi, tapi fokus dan pendengaran juri yang agak terganggu.

Di tengah bingung, MC mencoba meredam suasana. Tapi alih-alih memfasilitasi keberatan peserta atau meminta pengecekan tayangan ulang, ia berpihak ke juri di depan semua orang.

“Keputusan di dewan juri karena dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengar jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti bisa dilihat tayangan ulangnya.” Begitu katanya.

Siswi yang baru saja diperlakukan tidak adil cuma bisa terdiam murung nan sedih.

Tapi berkat kekuatan netizen, video tangkapan layar lomba itu menyebar dalam hitungan jam. Akun Instagram resmi MPR RI diserbu komentar. Tagar meledak. Memang benar, di tayangan ulang kata “DPD” jelas terdengar dari jawaban regu C.

Kalimat sanggahan juri langsung jadihighlight. Kata netizen ini lomba cerdas cermat tapi jurinya nggak cermat.

Barulah satu per satu pihak mulai buka suara. Diawali MC yang meminta maaf lewat Instagram pribadinya, mengakui kalimat “mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja” tidak pantas.

Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman ikut minta maaf atas kelalaian juri.

Sekretariat Jenderal MPR RI resmi menonaktifkan seluruh dewan juri dan MC, dan menjanjikan evaluasi menyeluruh. Juri juga diminta menyampaikan permintaan maaf terbuka, bikin video klarifikasi apalah.

Sekilas ini seperti masalah sepele. Tapi kalau kamu sadari, yang dicurangi bukan cuma statistik lomba. Anak-anak SMA yang naik panggung dengan persiapan penuh, di depan kamera, di depan orang tua dan guru mereka.

Saat itu mereka sedang belajar demokrasi. Tentang konstitusi. Tentang bagaimana negara ini seharusnya bekerja. Ujung-ujungnya suara mereka seolah tidak ada artinya.

New Lessons Learned

Tapi mungkin kita juga patut berterima kasih. Berkat acara ini, kita jadi tahu kalau:

1. Aturan main selalu bisa berubah di tengah permainan

Ini bukanbug, inifeature. Kamu perlu fleksibel dalam mengikuti permainan di sini, di negara ini. Hari ini benar bisa jadi salah, besok salah bisa jadi benar, tergantung siapa yang pegang mikrofon.

2. Protes itu boleh, asal nggak didengar

MC sudah dengan baik menjalankan tugasnya meredam keberatan peserta di panggung. Kalau bukan karena kameralivestreamYouTube yang merekam semuanya, mungkin kita semua nggak akan pernah tahu.

3. Artikulasi = Arti Kekuatan Uang dan Relasi

arti artikulasi lomba pilar mpr ri

Teori baru yang disimpulkan netizen. Ternyata selama ini kita keliru mengartikan artikulasi, terutama sebagai WNI. Kalau suara dan pendapatmu tidak tersampaikan, bukan karena cara bicaramu yang kurang jelas, tapi ya itu tadi. Mau jadi orang penting dan berkuasa juga gampang, yang penting punya itu tadi.

4. Yang paling penting bukan siapa yang benar, tapi siapa yang punya otoritas.

Ini pelajaran palingadvanced. Dicontohkan langsung oleh lomba yang niatnya mengajarkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

5. Berkompeten itu tidak perlu dibuktikan, cukup diklaim

Juri sudah “sangat berkompeten dan sangat teliti” kata MC. Kita nggak perlu tahu rekam jejak, hasil evaluasi, atau tayangan ulang yang bisa ditonton siapa saja. Cuma perlu percaya.

6. Evaluasi adalah kata ajaib penghapus dosa

Setelah insiden ini, kata yang paling sering muncul dari pihak penyelenggara adalah evaluasi menyeluruh. Tanpa detail atau tenggat. Tidak ada akuntabilitas yang jelas. Tapi tenang, sudah dievaluasi kok. Sudah beres.

7. Bikin salah, minta maaf di Instagram dulu

Bukan ke orang yang dirugikan langsung. Bukan ke anak-anak yang berdiri di panggung itu. Tapi kefollowers. Karena kan yang marah kan netizen, dan netizen hidupnya di Instagram, X, Threads. Masuk akal.

8. Empat Pilar ada jenis yang lain

Sebenarnya substansi lomba ini untuk sosialisasi empat pilar sudah sangat tercapai. Peserta belajar bahwa: 1) suara rakyat bisa diabaikan; 2) kebenaran bisa dibungkam dengan otoritas; 3) protes bisa diredam dengan satu kalimat; 4) salah cukup diselesaikan dengan klarifikasi. Hanya saja pelajaran empat pilar-nya bukan yang ada di buku teks.

Minta Maaf, Terus Apa?

MPR sudah minta maaf. Juri dan MC sudah dinonaktifkan. Keduanya bahkan sudah membuat klarifikasi dan pernyataan di akun media sosial pribadi mereka masing-masing.

Bikin salah, klarifikasi, minta maaf ke publik.

Kalau kamu sudah cukup lama hidup di Indonesia dan mengikuti berita, kamu pasti kenal siklus ini.

Saran saja, selain evaluasi, minta maaf ke peserta, mengaku salah, menarik keputusan penjurian, dan memberikan kompensasi mungkin bisa jadi opsi selanjutnya yang lebih nyata. Karena kalau cukup dengan minta maaf, maka tidak ada yang perlu berubah.

Anak-anak yang ada di panggung lomba cerdas cermat masih percaya bahwa belajar sungguh-sungguh ada gunanya. Jawaban benar akan dihargai, dan ada sistem yang bisa diandalkan.

Bagaimana kalau mereka pulang membawa trauma karena merasa suara mereka diabaikan secara terang-terangan?

Nanti MPR mau sosialisasi nilai kebangsaan pakai cara apa lagi? Mungkin kamu ada ide.

Leave a Comment

Leave a Reply