Oleh: Ari Dwi M.
Belakangan ini potongan lirik, “hidup yang berarti, bukan sekadar tak mati…mati yang berarti, mesti yang terakhir kali” muncul di mana-mana.
Di TikTok, penggalan itu dipakai untuk video perjalanan malam, arsip pertemanan lama, footage kota yang sepi, sampai unggahan orang-orang yang kelihatannya sedang mencoba baik-baik saja.
Kadang dipasang di video orang yang baru kehilangan seseorang. Muncul di video motoran sendirian jam satu pagi. Kadang juga dipakai sebagai latar foto masa sekolah yang sudah lewat bertahun-tahun. Anehnya, meski dipakai berkali-kali dengan konteks berbeda, kalimat itu tidak terasa kosong. Malah semakin sering terdengar, semakin terasa seperti sesuatu yang diam-diam menampar.
Mungkin karena “Jefferson” milik FSTVLST memang tidak terdengar seperti lagu yang ingin menghibur siapa-siapa. Lagu ini terasa muram, seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. Jika ada lagu yang seakan memberi pelukan, atau ada juga lagu yang terdengar seperti orang sedang berkabung, maka “Jefferson” berada di antara keduanya.
Nama Jefferson sendiri sulit dilepaskan dari Gedung Jefferson di Yogyakarta. Sebuah bangunan yang dulunya dikenal sebagai perpustakaan Amerika, sebelum kemudian dalam berbagai catatan sejarah dikaitkan dengan peristiwa 1965. Ada cerita tentang interogasi, penahanan, dan orang-orang yang hilang tanpa pernah benar-benar kembali. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, sejarah itu masih terasa seperti bisik-bisik yang diwariskan pelan-pelan. Tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang.
Barangkali itulah kenapa “Jefferson” terasa seperti lagu yang dipenuhi bayangan.
Khazanah Jefferson yang Misterius
FSTVLST memang tidak pernah menjelaskan lagu ini secara gamblang. Tidak ada penjelasan panjang tentang siapa Jefferson, tentang tragedi apa yang sedang dibicarakan, atau tentang siapa sebenarnya yang sedang berkabung di lagu ini.
Tapi justru di situlah letak kekuatan FSTVLST selama ini. Mereka sering menulis sesuatu seperti membuka luka sedikit demi sedikit, bukan membedahnya terang-terangan.
Pendengar akhirnya dipaksa masuk sendiri ke dalam lagu itu. Dan mungkin karena setiap orang membawa kehilangan masing-masing, “Jefferson” akhirnya terdengar berbeda bagi tiap kepala.
Bagi sebagian orang, mungkin ia terdengar seperti lagu tentang sejarah. Tentang orang-orang yang namanya dihapus, tentang ketakutan yang diwariskan diam-diam di meja makan keluarga Indonesia selama puluhan tahun. Tentang generasi yang tumbuh dengan cerita setengah-setengah karena terlalu banyak hal yang dianggap berbahaya untuk dibicarakan.
Tapi bagi banyak orang hari ini, “Jefferson” terasa jauh lebih personal. Lagu itu datang di waktu yang aneh. Di masa ketika banyak orang mulai merasa lelah menjadi manusia.
Kita hidup di masa ketika semua orang dipaksa terlihat baik-baik saja. Media sosial membuat semua orang sibuk membangun versi terbaik dirinya sendiri. Orang berlomba terlihat produktif, sibuk, bahagia, atau setidaknya terlihat sedang menuju sesuatu. Sementara diam-diam, banyak yang sebenarnya cuma sedang bertahan supaya tidak runtuh hari itu juga.
Mungkin itu sebabnya penggalan lirik tersebut terasa begitu dekat.
“Hidup yang berarti, bukan sekadar tak mati.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya ia terasa menyakitkan. Seolah ada seseorang yang akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini dipendam banyak orang, bahwa bertahan hidup saja ternyata tidak selalu cukup.
Validasi Subjektif bagi Manusia Kekinian
Banyak orang hari ini hidup terlalu otomatis. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi besok. Banyak yang sudah terlalu lama berjalan sampai lupa sebenarnya sedang menuju ke mana. Kita terlalu sibuk memastikan diri tetap bergerak sampai lupa bertanya. Apakah ini benar-benar hidup, atau cuma bentuk lain dari tidak mati?
Dan ketika kalimat itu muncul di TikTok, ia akhirnya menemukan hidupnya sendiri.
Menarik melihat bagaimana sebuah lagu bisa berubah makna ketika masuk ke internet. Lagu tidak lagi sepenuhnya dimiliki musisinya. Begitu dipotong menjadi video lima belas detik dan dipakai ribuan orang dengan pengalaman berbeda, lagu mulai hidup dengan caranya sendiri.
Ada orang yang memakai “Jefferson” untuk mengenang temannya yang meninggal. Ada yang memakainya untuk video putus cinta. Ada yang memasangnya di video perjalanan pulang setelah kerja malam. Bahkan mungkin ada juga yang tidak tahu apa-apa tentang Gedung Jefferson atau sejarah 1965, tapi tetap merasa dekat dengan lagu ini.
Karena manusia sering kali tidak terlebih dahulu mencari makna. Manusia mencari rasa.
Dan “Jefferson” membawa rasa yang sulit dijelaskan, seperti sepi, kehilangan, dan lelah. Tapi muncul juga semacam keinginan kecil untuk tetap bertahan sedikit lebih lama.
Di titik itu, “Jefferson” tidak lagi hanya menjadi lagu tentang sejarah. Ia berubah menjadi ruang singgah. Semacam tempat bagi orang-orang yang capek hidup, tapi belum benar-benar ingin menyerah.
Mungkin itu kenapa penggalan lirik tersebut terasa begitu masif hari ini. Karena di tengah dunia yang semakin cepat, semakin bising, dan semakin melelahkan, orang-orang mulai rindu pada sesuatu yang sederhana, yakni hidup yang benar-benar berarti.
Bukan sekadar lewat.
Bukan sekadar bertahan.
Dan bukan sekadar tak mati.


