Musisi asal Bandung, Danilla Riyadi baru saja merilis album keempat dia hari ini, Jumat (5/6/2026), judulnya Candramawa. Rilisan ini rasanya ngelanjutin obrolan lama, jadi momen yang ditunggu-tunggu selang empat tahun dari album ketiga, Pop Slebay.
Sebelum rilis, Danilla sudah memperkenalkan beberapa single, di antaranya “Lembar Biru” dan “Pertunjukan Terakhir”, yang langsung direspons positif oleh publik.
Judul Candramawa sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti hitam dan putih. Filosofi itu jadi benang merah di konsep album yang merefleksikan kontras antara masa lalu dan masa kini.
Kayak yang dibilang Danilla sewaktu talkshow bersama di Universitas Indonesia Februari 2026 lalu. Dia bilang bahwa dia pernah hidup di zaman pra-digitalisasi kayak sekarang.
“Aku itu tumbuh di era analog, nggak kayak sekarang yang bisa bikin playlist sesuka kita. Kalau sekarang kan dengerin lagu itu dari potongan-potongan aja, terus juga bisa bikin playlist sendiri. Makanya aku nyoba ngemix ini di album baru,” katanya, dikutip dari Out Loud Republika, (26/2/2026).
Album Candramawa berisi delapan lagu yang masing-masing memuat berbagai spektrum emosi manusia. Mulai dari rasa kehilangan, fase penerimaan diri, ketakutan akan masa depan, sampai proses berdamai dengan masa lalu.
Durasinya cukup singkat, sekitar 30 menit, sebagai respons atas budaya mendengarkan musik hari ini yang udah berubah.
“Sekarang orang denger lagu mungkin cuma 15 detik. Mereka tahu reff-nya, tapi nggak tahu awalnya seperti apa. Makanya untuk album ini aku ingin bikin sesuatu yang singkat dan happy buat aku sendiri,” jelas Danilla
Secara musikalitas, Candramawa menawarkan aransemen yang intim dan personal. Kalau kamu masih terngiang sama Pop Seblayatau Telisik, jangan berharap banyak, soalnya Candramawa nggak se-catchyitu. Sepertinya cuma “Lembar Biru” yang paling mudah dicerna, selebihnya cenderung lebih berat.
Pastinya vokal khas Danilla masih jadi kekuatan utama, tapi kali ini rasanya lebih kontemplatif dari biasanya. Secara umum nuansanya agak sendu dengan sentuhan instrumen yang juga terdengar lebih lembut dari biasanya. Cukup suram, minim beat, dan mendengarkannya harus siap-siap tenggelam karena atmosfer sinematik yang dibangunnya.

