Dilema “Konser Hijau” yang Faktanya Masih Susah Kalau Harus 100% Ramah Lingkungan

Guest
By
ilustrasi konser hijau

Oleh: Icha Gyllian
Editor: Ovan Obing

Konser dan festival musik seringnya sukses jadi tempat pelarian atau sarana refreshing. Puluhan sampai ratusan orang berkumpul menghadap panggung megah, lengkap dengan berbagai dekorasi elektriknya yang imersif.

Tapi sering juga kita lupa kalau acara semacam itu punya konsekuensi ekologis yang nyata. Ya, kayak gaya hidup komuter kita sehari-hari. Contohnya, festival sekelas Coachella bisa memproduksi sampai 107 ton sampah per hari, yang mirisnya cuma sekitar 20% yang benar-benar didaur ulang.

Ngerinya, masalah nggak cuma soal tumpukan limbah.

Mayoritas festival ruang terbuka itu nggak nyambung ke jaringan listrik utama kota. Sebagai gantinya, pertunjukan ini mengandalkan puluhan genset raksasa buat nyalain tata cahaya, layar LED, dan sistem sound berkekuatan ratusan ribu watt. Kalau di Inggris, industri festival diperkirakan membakar lebih dari 380 juta liter bahan bakar diesel setiap tahunnya. Berton-ton karbon dioksida dilepas bebas ke udara demi ngasih hiburan ke para pembeli tiket.

Fakta itu baru mewakili sebagian masalah. Kalau ditelusuri lebih jauh, sebenarnya masih banyak dampak lingkungan lain yang sering kali luput dari perhatian.

Apa dengan itu otomatis musik jadi jahat? Ya, nggak gitu juga. Tapi sistem yang dipakai industri musik selama ini memang secara nggak langsung bikin dia jadi salah satu faktor yang paling underrated.

Kesadaran Organik

Di tengah situasi Bumi yang makin gerah, kesadaran kolektif manusia pelan-pelan mulai geser. Orang-orang, terutama generasi muda mulai jengah melihat kontradiksi antara lirik lagu yang puitis dengan tumpukan sampah plastik pasca-konser.

Keresahan massal ini yang kemudian menemukan benderanya lewat gerakan global bernama “No Music On A Dead Planet”. Kampanye dari kolektif Music Declares Emergency (MDE) ini mempertanyakan gimana musik punya andil cukup lumayan dalam mengotori Bumi.

Gerakan ini dimulai tahun 2019 di Inggris oleh sekelompok seniman, musisi, dan pekerja industri musik profesional, kayak Savages, IDLES, dan Radiohead. Pesan utamanya sederhana, siapa sih yang masih bakal inget sama musik kalau tinggal di planet yang sudah mati? Merasa harus melakukan tindakan nyata, maka kampanye ini mulai digalakkan.

Di Indonesia sendiri, kampanye serupa dihidupkan oleh koalisi musisi yang tergabung dalam gerakan Indonesian Knowledge, Climate, Arts, and Music Labs (IKLIM). Penggagas utama IKLIM nggak lain adalah I Gede Robi Supriyanto, vokalis-gitaris band rock dari Bali, Navicula, sehingga lebih populer sebagai Robi Navicula.

Gelombang kesadaran dari bawah, jalan beriringan sama inisiatif para musisi papan atas yang mulai sadar. Mereka kemudian mulai mendesain ulang pertunjukan masing-masing, yang akhirnya dikasih term “Konser Hijau” atau Green Touring. Beberapa nama besar yang sejauh ini sengaja melakukannya, seperti Coldplay, Billie Eillish, dan Radiohead.

dok: ecohq.in

Praktik Kerja Nyata

Setelah nolak tur pada 2019 karena alasan ekologis, Coldplay bikin tur dunia Music of the Spheres dengan inovasi teknologi ramah lingkungan paling mutakhir. Salah satunya penggunaan baterai pertunjukan portabel pertama di dunia, hasil modifikasi dari baterai bekas mobil listrik BMW i3. Di venue, mereka pasang kinetic dancefloor dan sepeda stasioner yang bisa mengubah gerakan penonton jadi listrik buat ngisi daya panggung. Dan dari tur global ini, Coldplay sukses menanam 7 juta pohon lebih, setelah menerapkan 1 tiket untuk 1 pohon.

Upaya ini bukan klaim sepihak, soalnya data mereka diaudit langsung sama Environmental Solutions Initiative dari MIT (Massachusetts Institute of Technology). Hasilnya, Coldplay sukses memangkas emisi karbon tur mereka sampai 59% dibandingkan tur mereka sebelumnya.

Lain Coldplay, lain juga Billie Eilish. Dia pakai cara kultural dengan nolak plastik sekali pakai di venue dan menggandeng aktivis lingkungan dari Reverb buat bikin area khusus edukasi eco-friendly. Selama tur Happier Than Ever dan Hit Me Hard and Soft, makanan kru wajib 100% plant based, menyediakan stasiun isi ulang air gratis, dan jualan merchandise berbahan daur ulang. Sementara di luar panggung, Eilish jadi inisiator Music Decarbonization Project, salah satu donatur inovasi baterai pintar nol-emisi yang kemudian dipakai di panggung utama Lollapalooza.

Tapi, jauh sebelum dua entitas musik raksasa itu, Radiohead sudah cukup aktif melakukan inisiatif yang mirip sejak era tur In Rainbows (2007). Thom Yorke dan rekan-rekannya menyewa agensi ekologi Best Foot Forward demi bisa audit total jejak karbon dari tur global mereka. Hasil temuan audit langsung direspons lewat kebijakan operasional.

Radiohead nggak mau pakai pesawat kargo (air freight) yang rakus avtur. Sebagai gantinya, seluruh perangkat panggung mereka dikirim lewat laut dan kereta api, berminggu-minggu lebih awal. Mereka nggak segan batalin manggung di daerah yang nggak punya transportasi umum memadai buat penonton konser mereka. Mungkin ini salah satu alasan, kenapa mereka belum pernah–dan mungkin nggak akan pernah–manggung di Indonesia.

Di ranah lokal, gerakan ini juga digarap serius. Synchronize Fest yang 2018 menghasilkan lebih dari 11 ton sampah, cuma dalam waktu 3 hari. Langsung gerak dengan kampanye Green Movement yang agresif di tahun-tahun berikutnya. Kerjasama mereka dengan Greeners dan Waste4Changebisa menekan timbunan sampah ini sampai jadi cuma 7 ton di 2023.

Sementara itu, IKLIM, di setiap konser dan tur, menerapkan kriteria praktik ramah lingkungan yang ketat. Penonton diimbau bawa botol minum sendiri, soalnya vendor makanan dan minuman di acara dilarang keras menggunakan plastik sekali pakai. Manajemen sampah dibikin sedemikian rupa, agar ada pemilahan material, buat memastikan limbah acara didaur ulang secara bertanggung jawab. Selain bersuara di atas panggung, pasca-konser mereka selalu riset ulang buat mengukur dampak karbon yang dihasilkan dan memperbaikinya tahun depan.

konser green day
flickr: Aniroudh Koul

Tapi, Hati-Hati

Semua daftar dan inisiatif “praktik kerja nyata” di atas perlu diacungi jempol sebanyak mungkin. Setelah melihatnya, kita jadi merasa kalau industri musik masa depan bakal cerah dan hijau. Tapi, mengingat kita juga hidup di era gempuran marketing dan public relations yang kadang suka menjebak, sebaiknya jangan naif dan langsung terpesona begitu saja.

Konser musik yang mengusung konsep ramah lingkungan dan memang terbukti benar, masih punya celah abu-abu yang rawan kepeleset jadi praktik greenwashing.

Coldplay misalnya. Tur mereka dipuji-puji sekaligus dapat kritik tajam. Berhasil memangkas emisi dan tanam jutaan pohon, tetapi juga disorot negatif karena ada Neste di jajaran sponsor acara mereka. Neste ini perusahaan yang memproduksi bahan bakar nabati dari Finlandia. Dan organisasi Transport & Environment mengungkap Neste justru dapat suplai bahan baku produknya dari perusahaan yang terindikasi melakukan deforestasi masif. Akhirnya, niat mulia Chris Martin dkk buat menyelamatkan alam malah tercoreng oleh sponsor kampanye itu sendiri.

Sialnya lagi, inovasi panggung ramah lingkungan itu harganya mahal. Sementara susah banget dapat sponsor yang nol dosa lingkungan. Kalau tanpa sponsor, kemungkinan besar promotor akan mengandalkan dompet penonton. Jadi, harga tiket akan melambung, gerakan ramah lingkungan berwujud pertunjukan musik bakalan jadi komoditas premium, nggak inklusif.

Dan yang sebenarnya bikin susah lagi adalah, riset Tyndall Centre for Climate Change Researchyang nemu kesimpulan bahwa penyumbang jejak karbon terbesar dari sebuah konser bukannya urusan panggung, tapi transportasi audiens. Penonton malah jadi polutor paling besar dengan persentase mencapai 80 persen dari total emisi. Selain susah, ini juga lebih ironis sekaligus absurd. Sementara promotor repot inovasi biar acaranya semakin hijau seiring waktu, usaha mereka mendadak jadi nggak guna akibat polusi kita.

Soal ini, salah satu aksi nyata ditunjukin sama Synchronize Fest. Buat mengurangi emisi karbon, promotor ngasih insentif inovatif buat pengunjung bersepeda, mereka dapat jalur masuk tanpa antre plus parkiran khusus. Selain itu, ada juga program “Nebeng Gratis” yang kerjasama bareng Transjakarta, buat mengurangi jumlah penonton yang pakai kendaraan pribadi. Hasilnya ada 1.257 penonton yang berhasil “dihasut” agar beralih pakai transportasi umum ke venue edisi 2023.

Meski jumlah rata-rata penonton festival ini sudah 70 ribu-an orang dan perubahannya belum kelihatan signifikan, usaha promotor Synchronize harus dapat tepuk tangan agak lama. Langkah semacam itu membuktikan praktisi musik beneran mau repot untuk ikut jagain Bumi. Tapi, sebagus apapun inovasinya, nggak akan ada gunanya kalau kita para penonton ini nggak ikut berubah juga.

Menurutmu gimana? Juga, apa tren konser hijau ini beneran tulus buat nebus dosa, atau cuma jadi gimik pemasaran biar tetap laku buat masyarakat sadar lingkungan?

Sumber & referensi:

  • Coachella generates 107 tons of solid waste each day. About 20% of it gets recycled. https://share.google/N5QFbkzhhPnRC4Cf7
  • Industry report reveals extent of UK festival diesel emissions – Festival Insights https://share.google/nxY2fNhVypmZs0wkK
  • https://sisa.synchronizefestival.com/en/hello-world-2/
  • https://www.coldplay.com/emissions-update/
  • https://reverb.org/impact_report/happier-than-ever-world-tour-impact-report/
  • http://archive.radiohead.com/Site12/deadairspace/index56.html
  • https://radiohead.com/deadairspace/page/33
  • https://onboard.earth/case-study/radiohead-2008-carbon-neutral-tour/
  • https://www.telerama.fr/monde/thom-yorke-and-george-monbiot-we-have-to-prepare-for-the-inevitable-failure-of-cop21,134497.php
  • https://grist.org/article/on-the-road-again1/
  • https://www.theguardian.com/environment/2022/may/11/coldplay-labelled-useful-idiots-for-greenwashing-after-deal-with-oil-company
  • https://www.transportenvironment.org/articles/a-tale-of-coldplay-greenwashing-and-deforestation
  • https://www.greeneconomy.co.uk/news-and-resources/news/british-electronic-music-duo-take-on-industry-emissions-with-greenest-ever-festival/
  • https://www.rollingstone.co.uk/music/news/climate-scientists-call-for-festival-licensing-to-be-dependent-on-carbon-impact-27197/
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan