Ada masa ketika hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah benar-benar kita sepakati untuk diikuti. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dengan teman lama yang telah menikah, rekan kerja yang kariernya melesat, atau orang-orang yang tampak lebih dulu menemukan arah hidupnya. Perlahan muncul pertanyaan yang mungkin pernah menghampiri siapa saja: apakah aku terlambat?
Pertanyaan semacam itu terasa menggantung sepanjang penampilan Peni dalam gelaran Pesta Paripurna HF Episode 28 yang diselenggarakan Heartfelt di Hi5 Lounge, Minggu (14/6). Di hadapan sekitar dua ratus penonton yang memenuhi ruangan, Peni tampil membawakan materi dari album terbarunya, 30, sebuah album yang lahir dari kegelisahan memasuki usia kepala tiga.
Malam itu dibuka oleh The Wavings, dilanjutkan dengan showcase album 30 milik Peni, kemudian penampilan Timeless asal Surabaya, sebelum akhirnya ditutup oleh The Jansen. Namun di tengah rangkaian penampil tersebut, showcase Peni menghadirkan pengalaman yang terasa berbeda. Bukan semata karena mereka sedang merayakan perilisan album baru, melainkan karena lagu-lagu yang dimainkan terdengar begitu dekat dengan kehidupan banyak orang yang hadir di ruangan itu.
Peni membawakan lagu-lagunya dengan tulus. Tidak ada kesan sedang berusaha tampil megah atau menciptakan jarak dengan penonton. Sebaliknya, setiap lagu terasa seperti percakapan yang lahir dari pengalaman-pengalaman personal. Beberapa nomor seperti “30” dan “Gejolak” mendapat respons paling besar dari penonton malam itu. Tema-tema yang diangkat terasa akrab bagi mereka yang pernah berada di fase mempertanyakan arah hidup, masa depan, hingga pencapaian pribadi.
Dalam percakapan selepas pertunjukan, Ken Baruna dan Gilang menjelaskan bahwa album 30 pada dasarnya lahir dari fase yang mereka sebut sebagai masa “kemerungsung”. Sebuah periode ketika kehidupan terasa berjalan di tempat dan berbagai pertanyaan mengenai masa depan terus berdatangan. Fase yang tidak selalu mudah untuk dijalani, terlebih ketika usia terus bertambah sementara berbagai target hidup terasa belum sepenuhnya tercapai.
Namun menariknya, album ini tidak berakhir sebagai kumpulan keluhan tentang usia.
Ken justru melihat bahwa banyak hal yang selama ini dianggap terlambat mungkin memang baru bisa terjadi pada waktunya. Baginya, hidup tidak memiliki garis waktu yang seragam. Apa yang datang pada usia dua puluh bagi seseorang belum tentu harus datang pada usia yang sama bagi orang lain. Ada hal-hal yang baru menemukan bentuknya ketika seseorang benar-benar siap menerimanya.
Pandangan tersebut terasa selaras dengan perjalanan Peni sendiri. Setelah album 30 selesai ditulis dan dirilis, kehidupan para personelnya perlahan mulai bergerak ke arah yang berbeda. Ada yang menemukan kestabilan dalam pekerjaan, ada yang melihat usahanya berkembang, dan ada pula yang memasuki fase baru dalam kehidupan keluarga. Perubahan-perubahan itu datang hampir bersamaan, seolah menjadi jawaban yang muncul setelah seluruh kegelisahan dalam album ini dituangkan menjadi lagu.
Dalam obrolan malam itu bahkan muncul satu kalimat sederhana yang terasa mewakili perjalanan mereka selama mengerjakan album ini: karya adalah doa.

Kalimat tersebut mungkin terdengar klise jika dilepaskan dari konteksnya. Namun mendengar cerita di balik proses kreatif 30, kalimat itu justru terasa masuk akal. Album ini lahir dari kegelisahan, ketidakpastian, dan berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Akan tetapi ketika album tersebut selesai, para personelnya justru menemukan banyak hal yang sebelumnya mereka cari.
Salah satu cerita paling personal dalam album ini datang dari lagu tentang kepergian. Lagu tersebut ditulis Ken tidak lama setelah ibunya meninggal dunia. Hingga hari ini, lagu itu masih terlalu berat untuk dibawakan secara langsung. Bahkan ketika proses rekaman berlangsung, emosi yang menyertai lagu tersebut masih terasa begitu kuat. Di titik itu, 30 tidak lagi berbicara tentang usia. Ia berubah menjadi catatan mengenai kehilangan, penerimaan, dan usaha memahami hidup yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Mungkin karena itulah album ini terasa dekat bagi banyak pendengarnya. Bukan karena semua orang berusia tiga puluh tahun, melainkan karena hampir semua orang pernah merasa tertinggal.
Yang menarik, Peni tampaknya tidak ingin berlama-lama tinggal dalam fase tersebut. Ketika banyak musisi masih sibuk merayakan album yang baru dirilis, mereka justru telah menyiapkan materi untuk album berikutnya. Demo-demo lagu baru disebut sudah rampung dan tinggal memasuki tahap rekaman. Jika 30 lahir dari kegelisahan dan kemerungsung, maka album berikutnya disebut akan membawa gagasan yang lebih cerah dan nuansa yang lebih positif.
Hal itu menunjukkan bahwa 30 bukanlah garis akhir, melainkan sebuah jembatan menuju fase kehidupan berikutnya. Sebuah dokumentasi tentang masa ketika seseorang masih dipenuhi keraguan sebelum akhirnya menyadari bahwa hidup ternyata tetap berjalan.
Malam itu, di tengah Hi5 Lounge yang penuh sesak, lagu-lagu Peni terdengar seperti surat yang akhirnya sampai kepada alamat yang tepat. Bukan karena seluruh persoalan telah selesai, melainkan karena ada keberanian untuk mengakuinya. Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Dan bahwa tidak semua hal yang datang belakangan berarti kegagalan.
Menjelang akhir percakapan, Ken mengutip penggalan lirik “Sambutlah” milik The Jeblogs:
“Mungkin kita sampai, mungkin saja tidak. Tugas kita hanya berjalan.”
Barangkali itulah inti dari album 30.
Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai tujuan, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, sembari menerima bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri.

