Meski Ekonomi Lagi Sulit, Seni Mampu Berdiri Tegak Tanpa Sandaran Elit

Ovan Obing
ini seni itu juga seni sama sama seni semua seni

Ada sebuah kesepakatan nggak tertulis di tengah masyarakat kita. Tiga layer pemenuhan kebutuhan yang dikiaskan lewat konsep sandang-pangan-papan. Atau kalau merujuk term modern yang lebih luas dan spesifik berdasarkan tingkat urgensinya, primer-sekunder-tersier.

Di antara dua itu, posisi seni ada di mana? Di tiga klasifikasi yang pertama, seni nggak disebut sama sekali, meski sangat lekat dengan ketiganya. Desain baju, presentasi makanan, dan arsitektur rumah, semua butuh inisiatif kesenian.

Tapi di realita sebagian masyarakat, kalau perut belum kenyang dan kontrakan belum kebayar, rasanya lancang untuk keburu berburu produk seni murni. Setiap rupiah buat lukisan, vinyl, tiket konser, atau merchandise dari kreator lokal akan terasa negatif setara panjat sosial. Akhirnya kebutuhan mengakses seni dikunci rapat di laci lemari yang bernama “tersier”. Itu baru dibuka kalau yang pokok-pokok sudah tuntas. Kalau belum rampung, kepikiran pun nggak.

Padahal kalau dilihat dari perspektif psikologis dan sosial, seni itu nggak cuma “kemewahan”. Ada beberapa penelitian yang nunjukin kalau seni bisa berfungsi kayak kebutuhan primer sekaligus sekunder. Soalnya dia bisa mendukung kesehatan mental, identitas diri dan komunitas, bahkan jadi penopang ekonomi.

Menurut Muhammad Jazuli dalam Sosiologi Seni (2014), seni sudah jadi kebutuhan masyarakat. Kata dia kebutuhan berkesenian erat hubungannya dengan pemenuhan santapan rohani. Abraham Maslow juga punya teori soal hierarki kebutuhan. Yang di situ dia masukin aspek ekspresi dan aktualisasi diri–di situ ada seni–adalah bagian penting kalau kebutuhan dasar sudah terpenuhi.

Sejarah Bisa Keulang Lagi

Di zaman Klasik kuno (Yunani-Romawi), seni besar kayak patung Parthenon, teater, atau arena gladiator bukan semata hiburan rakyat jelata. Produksinya bergantung pada patronase negara-kota, penguasa, atau elite kaya. Rakyat biasa boleh nonton, tapi penciptaan dan apresiasi mendalam yang “tinggi” cuma jadi domain segelintir orang. Mereka yang berpendidikan, dan tentunya berasal dari keluarga berpunya. Alhasil, seni jadi alat status dan kekuasaan.

Lompat ke era Neoklasik (abad ke-18 sampai awal 19), zaman Pencerahan dan Revolusi Industri melahirkan kelas borjuis baru. Kalau sebelumnya patron dipegang kaum aristokrat, sekarang geser ke okb-okb yang kemudian disebut kelas menengah kaya (pedagang, pengusaha). Konser simfoni Mozart, opera, atau lukisan-lukisan idealis Neoklasik sudah accessible, tapi tetap terasa jauh bagi buruh pabrik atau petani. Seni jadi simbol “kehalusan” kelas menengah, sementara grassroots masih sulit ikut berkarya atau menikmati sepenuhnya.

Sementara itu, kondisi ekonomi makro kita pertengahan tahun ini agak bikin kuatir. BPS udah nyatet inflasi year-on-year pada Mei 2026 sebesar 3,08%, terutama dari makanan, minuman, dan tembakau yang nyentuh 4,94%. Meskipun Bank Indonesia sudah bikin proyeksi bahwa inflasi sepanjang tahun ini bisa dikendalikan, mereka masih kuatir soal daya beli masyarakat rentan yang nggak bisa naik.

Jelas saja, pas warga agak kelabakan akibat stok sembako yang rutin habis gegara program makan siang gratis, diam-diam harga BBM juga naik. Meskipun bukan BBM subsidi, umumnya efek dominonya juga bakal kerasa. Dari antrian pembeli limpahan (yang mundur dari nonsubsidi), waktu yang lebih banyak kebuang, anggaran subsidi bengkak lagi, sampai inflasi.

Secara umum kita nggak bisa milih hidup di situasi ekonomi yang beda dari yang sekarang ini, yang kemungkinan memburuknya masih terbuka lebar. Sementara kaum mendang-mending masih punya opsi, golongan rentan sudah nggak bisa milih seni, apalagi kelas bawahnya lagi. Tontonan berbau seni mungkin cuma sampai ke mereka lewat pesta-pesta sosial lokal yang lebih sering jadi bahan debat daripada bisa inklusif dinikmati. Dengan para penampil yang bahkan nggak sadar kalau mereka seniman. Nggak sadar juga kalau yang mereka pertontonkan adalah produk seni yang perlu apresiasi lebih tinggi.

Dan ketakutan bahwa seni mungkin bisa balik jadi borjuis-sentris lagi, jujur lebih ngeri ketimbang kendala pandemi.

Mirip dengan pas Covid kemarin. Saat semua orang dipisahkan oleh jarak, hulu pertunjukan mati mendadak. Tapi, konsumen urban yang kejebak WFH masih punya privilese dari ongkos transportasi yang nggak kepake. Lalu uang sisa itu bisa dialihkan buat langganan streaming, belanja artefak seni secara online, atau beli akses ke konser virtual. Biar tetep waras, ngilangin stres karena nggak bisa keluar rumah.

Dengan Bentuk yang Beda Lagi

Sekarang beda. Inflasi nggak bikin kesenian mati mendadak, tapi pelan-pelan menggerus kemampuan konsumen yang tadinya mampu mengakses seni dengan duit lebih mereka. Karena harga-harga naik, sisa bulanan jadi tipis bahkan habis, jadi healing-nya mungkin akan di-skip. Mobilitas nggak lagi dibatasi, tapi ongkos untuk melakukannya jadi lebih mahal, terlebih situasinya masih simpang siur sampai beberapa bulan kedepan. Otomatis masyarakat urban nggak bisa gegabah buat mengonsumsi hal-hal yang kurang esensial buat bertahan hidup.

Bukan maksudnya seni nggak esensial buat bertahan hidup. Tapi, status dia pasti kalah oleh kebutuhan primer. Akan jadi barang mewah yang bagi sebagian orang kerasa overpriced, bahkan nggak lagi affordable.

Kalau pasarnya surut, efeknya sudah jelas. Kreator minim pasar yang nggak punya safety net bisa-bisa terancam gulung tikar. Akhirnya kesenian cuma jadi milik “anak-anak orang kaya” yang masih punya cukup modal buat berkarya, bahkan setelah tagihan bulanan beres.

Di sisi lain, konsumen seni di kelas grassroots juga semakin terpinggirkan. Kesenian “elit” di galeri proper atau tiket festival mahal mustahil terbeli. Lagi-lagi mereka harus “rela” mengonsumsi seni via agenda tahunan tradisional, mural jalanan, atau pertunjukan gratisan lain. Tapi kalau biaya produksi naik terus dan makin lama tambah nggak terjangkau, ada kemungkinan acara-acara macam itu nggak akan bisa digelar lagi. Akhirnya banyak yang cuma bisa mengakses seni lewat video pendek di HP, tanpa mampu mendukung kreator secara langsung.

Akibatnya, kesenjangan konsumsi seni pun akan semakin lebar.

Ya sebenarnya gapapa juga kalau akhirnya seperti itu. Paling yang hilang nanti cuma keanekaragaman narasi. Era monokultur yang sempet hancur karena personalisasi algoritma, lama-lama akan balik lagi. Nggak ada kebisingan alternatif yang nikmatnya bisa dirasain sama komunitas-komunitas kecil. Karena, kreator dan penikmatnya sama-sama jatuh miskin.

Tapi kata orang kita nggak boleh pesimis. Biasanya seniman tulen bisa tetep nemu cara untuk berkarya meski dalam kondisi sulit. Mungkin bakal lebih banyak lagi inisiatif kolaborasi dari individu-individu secara kolektif. Balik lagi ke grassroot yang tetep gerak meski bujet terbatas, nggak proper-proper amat tapi inklusif, terjangkau buat semua kalangan. Kayak fenomena yang sudah banyak terjadi belakangan, tapi lebih masif. Jadi nggak perlu nunggu dapat atensi elit.

Tinggal masing-masing siap atau nggak nerima perbedaan pandangan abadi soal estetika dan proper-nggaknya sebuah aktivasi seni. Soalnya, siapa pun dari kelas sosial mana pun bisa ngasih definisi estetikanya sendiri, tanpa perlu persetujuan dari siapa-siapa.

TAGGED:
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan