Membandingkan Dedikasi Kerja Juicy Luicy, DEWA 19, dan Iron Maiden

Ovan Obing
Ilustrasi: hp pro max

Dedikasi setiap orang beda-beda. Musisi juga sama. Ada yang fully-dedicated bahkan attached sama kerjaannya. Nggak sedikit juga yang komitmennya gampang goyah.

Kita baru saja liat insiden batal tampilnya Juicy Luicy di XYZ Liveground Batam. Si band nggak jadi terbang, alasannya gara-gara kelebihan bagasi, sehingga butuh pembayaran tambahan di bandara, mendadak pula. Kalau dari sumber yang beredar di media sosial, nominalnya sampai Rp60 juta-an.

Ada kesepakatan antara Juicy Luicy dan promotor event. Promotor bakal memenuhi semua kebutuhan Juicy Luicy. Mulai dari full-fee, tiket pesawat PP, akomodasi, kebutuhan perjalanan dan hospitality, dan aneka perintilan teknis lainnya.

Nah, khusus masalah over-baggages itu, promotor minta manajemen band ngasih dana talangan dulu, baru nanti diganti sesampainya di Batam. Tapi sayangnya si band tetap mutusin nggak berangkat. Alhasil penampilan Juicy Luicy batal pada 5 September 2026 batal. Ribuan fans yang udah nunggu pun kecewa. Sementara, kerugian panitia jelas berlipat ganda.

Soal itu, vokalis Juicy Luicy, Julian Kaisar (Uan) sempat buka suara lewat akun Instagram pribadinya. Rekaman itu viral di TikTok, di-reupload sama akun @aaassstttiii7, Kamis (10/9/2026). Di video itu, Uan sebel sama panitia dan ngomong pedes plus kata-kata nggak wajar di muka publik.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by XYZ LIVEGROUND (@xyzliveground)

“Nggak jadi tampil di Batam karena panitianya g*bl*k, Karena nggak bayar bagasi, sama hotelnya ge can puguh (masih belum pasti) ya? Hotelnya baru sehari. Bagasinya nggak dibayar, padahal udah lunas. Belegug,” kata dia.

Ucapan ini terkesan ngomporin, sampai dia dirujak habis oleh netizen di berbagai platform karena terlalu kasar. Selanjutnya, akun Instagram pribadi dia (@uan.kaisar) entah kenapa. Soalnya pas coba dibuka, halaman yang keluar cuma bertuliskan “Something went wrong“.

Sementara itu, manajemen band juga mengunggah post di media sosial dengan nada menyudutkan panitia XYZ Liveground. Tapi di saat yang sama, promotor juga merilis bukti-bukti valid yang nunjukin kalau sebenarnya pembayaran ke band sudah lunas semua.

Sadar reputasi band dipertaruhkan, manajemen Juicy Luicy akhirnya menghapus postingan menyudutkan itu. Nggak lama kemudian, mereka bikin klarifikasi dan permintaan maaf resmi, masih lewat akun Instagram. Manajemen ngaku kalau ada miskomunikasi soal mekanisme reimbursement. Juga minta maaf ke fans di Batam, promotor, dan aneka kegaduhan buntut insiden batal berangkat itu.

Lain Cerita dengan Iron Maiden

Drama ini semacam mengingatkan kembali soal komitmen dan mentalitas musisi, juga manajemen yang mendukung mereka. Kalau mau lihat ujian dedikasi yang lain, yang juga direspon secara berbeda oleh musisi lainnya, kita perlu kilas balik ke cerita Iron Maiden.

Situasi Juicy Luicy kontras sama kejadian yang pernah menimpa Iron Maiden sepuluh tahun sebelumnya. Waktu itu bulan Februari, Iron Maiden mulai tur global “The Book of Souls World Tour”. Mereka charter pesawat Boeing 747-400 yang diberi nama Ed Force One. Dicat dengan logo Iron Maiden, dipiloti oleh vokalisnya, Bruce Dickinson yang memang pegang sertifikat pilot profesional. Targetnya 50 venue di 35 negara dunia.

Jadwal sampai awal bulan Maret masih lancar. Sayangnya setelah konser di Estadio Nacional Santiago, Chile berlangsung sukses, dan rombongan hendak bertolak ke Argentina, pesawat kecelakaan sebelum lepas landas. Ada korban luka dari pihak bandara, sementara beberapa komponen mesin pesawat rusak dan butuh diganti.

Iron Maiden berpose dengan Ed Force One (img: loudwire)
Iron Maiden berpose dengan Ed Force One (img: loudwire)

Bisa kebayang gimana paniknya band dan manajemen. Tapi alih-alih bikin drama, mereka justru bikin keputusan logis. Tetap ngasih tahu ke promotor konser sekaligus pembeli tiket soal kondisi mereka, tanpa ada klarifikasi kalau event batal. Manajemen juga sudah mengatur alternatif transportasi ke venue berikutnya di Cordoba, Kolombia, pagi hari setelah konser di Chile. Nggak ketinggalan, mereka koordinasi sama pihak Boeing, mekanik, dan partner logistik demi perbaikan darurat Ed Force One.

Dan akhirnya konser di Cordoba memang nggak batal.

Iron Maiden merogoh kocek sekitar $4 juta dolar untuk setiap mesin yang rusak, totalnya ada dua. Teknisi didatangkan dari Islandia dan Arab Saudi, juga beberapa komponen mesin yang dibutuhkan.

Bruce Dickinson sendiri muji-muji effort para teknisi.

The speed and thoroughness of this incredibly complex operation was stunning, and we are so very pleased to get our plane back! We would like to thank Air Atlanta and their terrific rescue team for a fantastic effort in achieving this in the time they did (Kecepatan dan ketelitian dari operasi yang sangat kompleks ini sungguh luar biasa, dan kami sangat senang bisa mendapatkan pesawat kami kembali! Kami ingin berterima kasih kepada Air Atlanta beserta tim penyelamat mereka yang hebat atas upaya luar biasa dalam menyelesaikan semua ini dalam waktu yang mereka capai),” kata Bruce, dikutip dari Metal Injection.

Perbaikan Ed Force One selesai 22 Maret 2016, sepuluh hari kemudian. Pesawat bisa terbang lagi dan langsung gabung di titik pemberhentian di Brasília. Sisa tur di Amerika, Eropa, sampai Afrika pun lancar kembali.

Dua peristiwa ini mungkin nggak sebanding, baik skala maupun tingkat urgensinya. Tapi dari situ bisa kelihatan gimana mentalitas pekerja seni dalam merespons ujian komitmen dan dedikasinya.

Buat saya, yang harusnya lebih menampar Juicy Luicy bukanlah netizen atau Iron Maiden. DEWA19, band legendaris ini mengalami insiden over-bagasi mendadak yang sama. Bahkan jumlah rombongan dan perkakas teknis mereka diperkirakan lebih besar dari Juicy Luicy. Tapi faktanya, band dengan pimpinan Ahmad Dhani tetap bisa tampil sebagai line-up utama XYZ Liveground, sesuai jadwal, nggak molor apalagi batal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan