Kolase Musik Diossoulo yang Harusnya Fit buat Era Short-Attention-Span

Ovan Obing
Diossoulo dan Talitha Neysa di taman kota

Baca diksi “pamungkas” di judul siaran pers single “Sleepy Babies Apocalypto” dari Diossoulo yang dikirim KMPL bikin agak kaget. Soalnya berdasarkan ingatan, ini baru kali kedua saya lihat nama Diossoulo. Sementara istilah “pamungkas” menurut saya selama ini lebih resonan sama nuansa akhiran, selain tentunya nama Bambang.

Tapi setelah baca dokumen, lihat-lihat foto dan artwork, sambil mendengarkan “Sleepy Babies Apocalypto” beberapa kali, plus ngulik beberapa materi Diossoulo yang terdahulu, rasanya saya harus bikin definisi baru buat kata “pamungkas” ini, khusus untuk pribadi.

Sembari mendengarkan dan baca-baca, lagi-lagi saya agak kaget untuk kedua kalinya. Sekarang karena musik yang keluar dari headphone ternyata bukan berasal dari grup multipersonel, lebih mungkin multi-instrumentalis.

Faktanya, Diossoulo yang dari Kediri adalah seorang solois. Iya dia juga main band, jadi vokalis-gitaris di Igmo yang hard rock. Di waktu-waktu non-ngeband, Pradio Manggara Putra (nama aslinya) bikin proyek solo. Masih rock, cuma beda di kompleksitas.

“”Sleepy Babies Apocalypto” menyajikan musik paling eksploratif Pradio Manggara Putra, nama di balik moniker Diossoulo. Pusparagam musika ada di dalamnya. Semacam membayangkan Queen bertemu Led Zeppelin lalu mengajak Montserrat Caballé untuk ngopi bareng,” tulis KMPL di dokumen yang saya baca.

Klaim itu benar adanya. Eksplorasi Dio (panggilan) di single ini bisa disebut sangat optimal. Lagunya mengalir terus ke depan, dengan setiap bagiannya yang kerasa familiar padahal nggak.

Intronya yang gloomy disambut meriah oleh piano rock ‘n roll. Lalu kisi-kisi part operatik selama beberapa detik, sebelum bagian yang ngasih statement paling jelas bahwa dia sering konsumsi King Crimson. Lanjut part berikutnya yang opera lagi, kayak Queen. Terus, suasana berubah lagi di menit ke-3.20. Masih ada opera-operanya, tapi diselipi sedikit doom dan goth. Ini bagian yang paling saya suka. Meskipun harus rela nggak puas karena durasinya pendek, dipotong outro yang rasa Bohemian Rhapsody.

Terus terang, rilisan terbaru Diossoulo ini fresh di kuping saya. Setidaknya kalau dibandingkan tipikal output band-band lokal yang belakangan sering dikonsumsi. Isyana Sarasvati memang progresif di Lexicon, tapi dari yang saya dengar di musiknya, Diossoulo sudah sejak rilisan pertama.

Dan terus terang lagi, diksi “pamungkas” dari judul dokumen siaran pers memang ada maksudnya. “Sleepy Babies Apocalypto” akan jadi rilisan terakhir Dio sebelum meluncurkan album penuh dia, sebentar lagi.

Ulasan dari Pengguna

Trek empat setengah menit yang dirilis terakhir ini padat sekali. Rasanya mirip dengan nonton karya kolase, atau rentetan reels TikTok beda niche dari satu konten kreator yang disetel urut.

Bau progresive-rock ’70-an-nya kental. Aransemennya lebih megah dan kompleks dari ujaran “Nick Drake atau Leonard Cohen versi Jawa Timur”. Menurut saya cukup pantas kalau disandingkan sama King Crimson itu sendiri. Kalau butuh padanan yang lebih kekinian, bisa merujuk ke Parcels, Geese, atau Angine de Poitrine.

Tapi itu dengan catatan, hanya jika Diossoulo berkenan menampilkan versi live-nya dengan asyik. Di mana yang dimaksud asyik bisa soal presisinya terhadap hasil rekaman, uniknya set pertunjukan, atau dua-duanya sekaligus.

Dan agar seimbang, saya juga butuh bilang kalau personally kurang cocok sama kualitas rekamannya. Komposisi dan aransemennya memang sempurna, tetapi file audio digitalnya terdengar terlalu tajam secara umum, dan pipih di beberapa bagian. Mungkin pendekatan itu murni disengaja secara teknis, karena infonya trek ini direkam di dua tempat berbeda. RD Studio di Kediri dan Pati Rasa Studio milik Wednes Mandra (dari Rabu) di Yogyakarta.

Di single ini Dio juga melibatkan dua kolaborator yang cukup signifikan, Talitha Neysa dari Layang sebagai vokalis plus Wednes Mandra sendiri yang juga ikut ngisi vokal latar. Nggak ketinggalan, Imam Bukori Prasetyo yang ngisi backing vocals dan departemen gitar, serta Iqbal Tawakal juga di backing vocals. Mungkin kombinasi multidisiplin itulah yang menghasilkan kualitas file audio mumpuni yang well-arranged di single ini.

Hasil rekaman “Sleepy Babies Apocalypto” lompat agak jauh dibanding rilisan Dio terdahulu. Selain itu, instrumen yang dipakai juga beda jauh sama sebelumnya yang dominan gitar akustik dan lebih lo-fi. Cuma menariknya, saya justru merasa hasil format lama lebih intim dan organik. Buat lagu sekompleks “Sleepy Babies Apocalypto” ini, telinga saya merasa kalau dia masih butuh tambahan layer (ketebalan) dan sentuhan high-cut biar semakin mantap.

Tapi terlepas dari semua itu, saya lega karena bisa bilang kalau “Sleepy Babies Apocalypto” adalah trek ciamik yang dirumuskan dengan hampir perfect, persis pengakuan saya ke KMPL beberapa waktu lalu. Dan dengan fakta bahwa dinamikanya begitu warna-warni, saya agak heran kenapa dia nggak banyak dibahas. Padahal katanya sekarang eranya short-attention-span. Kalau memang benar begitu, bukannya musik yang ganti nuansa tiap 30-90 detik akan menarik?

Logika media sosial dan konten pendek saya kira bisa berlaku buat musik Diossoulo, ternyata nggak. Dunia pendengar musik nggak selalu sejalan sama tren media sosial. Mungkin video lebih bisa bikin terpaku lama daripada musik. Atau saking malasnya audiens, sehingga butuh energi kesabaran ekstra buat diam 4.50 menit untuk mendengarkan rentetan hook yang lompat-lompat tiap beberapa detik. Nggak mau repot.

TAGGED:
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan