Isu Timpa-Menimpa Mural di Malang, Teks Umur 10 Tahun Hilang dalam Semalam

Hipmin
By
Hipmin
kalo nimpa dipikir mas meme

Pada suatu masa di Kota Malang, tersebutlah seorang fans klub sepak bola Arema yang berjiwa seni. Ia membikin mural di dinding bangunan di pusat kota, buat mengekspresikan cinta pada kota tempat tinggalnya. “Malang The Glory Land” (MTGL), begitu tampilan mural berupa tipografi tersebut.

Menurut keterangan orang-orang yang tampaknya kenal dia, pemural itu dipanggil Sam Nyek. Oleh Aremania yang lain dan sebagian warga umum yang apresiatif, karya mural Nyek, atau sosok Nyek sendiri, sudah dicap jadi legenda kota. Lalu, masih menurut keterangan pengaku-kenalan Sam Nyek, sosok ini sekarang sudah tiada.

Mural MTGL itu terpampang sangar sekitar 10 tahun lamanya, kata Andi Sinyo Febrianto lewat cuitannya di Thread.

One Decade melepas sekat dualisme. Ruang publik tanpa bold kata Arema. Sebuah pesan bagi semua. Malang The Glory Land ~ 2016/2026,” tulisnya. 

Pesan ini begitu emosional. Dan emosinya bakal lebih kerasa emosinya kalau kalian cek utas asli Andi. Karena di situ dia juga nge-post foto yang beda dengan narasi MTGL.

Bedanya, 10 tahun kemudian sesuai kenangan Andi, mural MTGL yang legendaris itu sekarang sudah hilang, 19 Agustus 2026. Karya itu ditimpa sama mural baru yang juga masih berupa tipografi. Kali ini tulisannya “Malang Menyala Bersama” (MMB).

Kultur timpa-menimpa teks memang sempat ramai di media sosial, jadi bahan candaan di platform macam X atau Instagram. Tapi kali ini kasusnya beda, bukan perang meme atau guyonan receh. Kejadian kali ini lebih emosional dari itu, soal identitas kota yang kepentok agenda sebuah festival.

Salah satu yang paling awal nyoroti ini adalah akun @arema_uthenlife lewat unggahan Instagram-nya. Akun ini langsung ambil pov yang lebih dalam. Intinya dia ngasih pengakuan soal legalitas dinding media mural yang memang bisa diubah kapan saja, apalagi oleh pemiliknya sendiri. Tapi, dia juga tegas bilang kalau hilangnya karya yang terlanjur dianggap ikonik, disebut bakal jadi kehilangan kultural yang besar, terlepas siapa yang berhak mengubah dindingnya. Begitu produk budaya bersejarah itu hilang ditimpa tanpa pamitan, maka masalahnya pasti bakal kemana-mana. Selain nyinggung suporter bola, juga publik lebih luas yang punya relasi sama karya itu.

Nggak salah, warga pun langsung menyambutnya sebagai bahan bakar luapan ekspresi. Ada yang komen singkat tapi ngena, “Waduh emane lurr legend ikii (sayang banget, ini legendaris)”. Ada juga yang lebih tegas minta solusi konkret, biar mural dikembalikan begitu rangkaian acara kelar.

Untungnya, drama ini nggak mandeg di media sosial. Pihak Malang Creative Fusion (MCF) selaku penyelenggara Festival Mbois 11 akhirnya buka suara. Lewat pernyataan resmi, koordinatornya minta maaf sama warga yang merasa kehilangan.

“Kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” katanya, sambil menegaskan nggak ada niat menghapus jejak atau semangat yang udah dibangun lewat mural MTGL.

Untungnya lagi, mereka nggak cuma minta maaf, tapi juga janji mau mural ulang MTGL persis kayak sedia kala begitu rangkaian event Festival Mbois 11 kelar. Bahkan katanya, siapa pun yang punya relasi sama mural itu, termasuk sirkel orang-orang yang kenal mendiang Sam Nyek, bakal dilibatkan langsung dalam proses pengerjaannya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan