Pada 6–7 Juni 2026, Antz Music Studio dipenuhi tumpukan kaset, piringan hitam, CD, zine, dan orang-orang yang datang dengan alasannya masing-masing. Ada yang fokus bongkar muat kotak kaset, sibuk bercakap di depan lapak, atau duduk-duduk menikmati musik sajian para selektor dari piringan hitam dan kaset pita.
Di tengah keramaian itu, saya berbincang dengan Memen, salah satu inisiator kegiatan rutin tahunan bertajuk Malang Record Market itu.
Sesekali percakapan kami terputus karena ada pengunjung yang menyapanya. Sementara di belakang kami, transaksi terus berlangsung. Orang-orang datang dan pergi. Namun di sela keramaian itu, Memen mengutarakan sebuah kegelisahan yang menarik.
Ketika toko rekod semakin sedikit dan musik dapat diakses kapan saja melalui layanan streaming, apa yang sebenarnya masih dirayakan dalam sebuah record market?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi semakin lama saya berada di Malang Record Market, semakin saya merasa bahwa jawabannya tidak sesederhana kaset, vinil, atau CD.
Malang Record Market 2026
Awalnya saya mengira acara ini hanyalah sebuah pasar bagi para kolektor musik. Namun setelah beberapa jam berkeliling, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Yang paling menarik perhatian saya bukan benda-benda yang dipajang di atas meja, melainkan orang-orang yang beredar di sekitarnya.
Saya melihat teman lama yang bertemu kembali setelah sekian waktu. Melihat pengunjung yang datang sendiri lalu terlibat percakapan panjang dengan pelapak. Juga orang-orang yang bertahan selama dua hingga tiga jam, padahal mereka tampaknya sudah selesai berbelanja.
Jika tujuan mereka hanya membeli rilisan fisik, mestinya semua selesai dalam hitungan menit. Datang, pilih, bayar, lalu pulang.
Namun yang terjadi malam itu berbeda. Sebagian yang datang memilih untuk tinggal. Mereka mengobrol, bertukar cerita, membahas musik, dan membangun kembali hubungan yang mungkin selama ini cuma hidup lewat pesan singkat dan media sosial.

Mungkin di situlah jawaban pertama atas pertanyaan Memen muncul. Bahwa momen ini bukan semata-mata merayakan rekaman, tetapi juga pertemuan.
Kesan itu semakin terasa ketika melihat siapa saja yang hadir. Para pelapak tidak hanya datang dari Malang. Ada yang menempuh perjalanan dari Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Bandung, hingga Jakarta. Mereka membawa koleksi, rilisan, dan cerita dari kota masing-masing.
Kehadiran mereka membuat Malang Record Market terasa lebih dari sekadar agenda komunitas lokal. Titik temu bagi kolektor, label independen, distributor rilisan fisik, pegiat arsip, hingga penggemar musik dari berbagai daerah.
Dalam ruang seperti itu, transaksi hanyalah salah satu dari sekian kemungkinan yang terjadi. Sementara yang lebih terasa nyata dari situasi akhir pekan raya itu adalah pertukaran pengalaman.
Tampak seseorang sedang merekomendasikan album kepada orang lain. Atau seorang pelapak sedang menceritakan asal-usul sebuah rilisan. Pengunjung juga tak mau kalah, saling bertukar cerita tentang konser yang pernah mereka datangi.
Musik menjadi alasan yang mempertemukan banyak percakapan. Dan masa kini, pengalaman seperti itu terasa semakin langka.
Pengalaman Biasa yang Kini Terasa Langka
Hari ini kita mengenal musik melalui algoritma. Sebuah lagu muncul di beranda, diputar beberapa detik, lalu digantikan lagu berikutnya. Musik bergerak cepat dan sering kali lewat sebelum benar-benar tertancap.
Sebaliknya, Malang Record Market menawarkan pengalaman yang berbeda. Orang-orang melambat. Mereka membuka satu per satu kotak kaset, mengamati sampul album, membaca informasi rilisan, berbincang dengan pelapak. Mereka mendengarkan cerita yang tidak akan pernah muncul di kolom rekomendasi Spotify.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah soal generasi. Rentang usia pengunjung yang saya lihat berkisar antara 17 hingga 55 tahun. Namun tanpa jarak yang terasa mencolok di antara mereka. Anak muda dan generasi yang lebih tua tampak melebur begitu saja dalam ruang yang sama, berbagi minat yang sama.
Temuan itu mengingatkan saya pada hal lain yang disampaikan Memen. Menurutnya, Malang Record Market lahir sebagai estafet dari semangat record store yang lebih dulu hidup di Malang. Generasi yang lebih muda kemudian meneruskannya melalui bentuk yang lebih relevan dengan zamannya.
Karena itu, keberlangsungan acara ini tidak pernah semata-mata bergantung pada satu orang atau satu kelompok tertentu. Yang penting bukan siapa yang memulai, tapi siapa yang bersedia melanjutkan.
Optimisme Memen terhadap masa depan Malang Record Market tampaknya lahir dari sana. Bukan karena penjualan kaset meningkat atau vinyl kembali menjadi tren. Melainkan karena masih ada generasi muda yang datang dan merasa memiliki hubungan dengan budaya yang sedang dirayakan.
Kaset pita memang menjadi format yang paling banyak ditemukan selama acara berlangsung. Menurut Memen, selain faktor kolektibilitas, harga relatif terjangkau membuat kaset tetap menjadi medium yang paling banyak dipilih untuk rilisan fisik hari ini.

Padat dengan Aktivitas Nonmusik
Di salah satu sudut ruangan, Arsip Zine menghadirkan showcase yang memperlihatkan bagaimana praktik dokumentasi dan penerbitan independen hidup berdampingan dengan budaya rekaman fisik.
Di area lain, Long Space Project menggelar workshop CD-R Production yang membuka kembali percakapan mengenai produksi rilisan mandiri di tengah era distribusi digital.
Sementara itu, Malang Graffiti Movement mengadakan sesi sketch jamming yang mempertemukan para pegiat visual dalam semangat yang serupa.
Suasana itu semakin hidup ketika para selektor memainkan piringan hitam dan kaset pita sepanjang acara. Musik tidak hadir sebagai latar yang pasif. Ia menjadi pengalaman yang sedang berlangsung di hadapan para pengunjung. Ada tangan yang memilih rekaman, proses memasang kaset, juga jarum yang perlahan menyentuh permukaan piringan hitam.
Hal-hal sederhana yang mungkin terasa biasa, tetapi justru semakin langka di tengah kebiasaan mendengarkan musik secara instan.
Menjelang pulang, saya kembali mengingat pertanyaan yang diajukan Memen di tengah keramaian itu. “Apa yang sebenarnya dirayakan ketika toko rekod mulai hilang?”
Setelah beberapa jam berada di Malang Record Market, saya rasa jawabannya bukan kaset, bukan vinyl, dan bukan pula CD. Yang dirayakan adalah kemungkinan untuk terus bertemu.
Sebab selama masih ada orang yang datang dari berbagai kota untuk berbagi cerita, selama masih ada generasi yang berbeda usia namun berada dalam percakapan yang sama, dan selama masih ada ruang yang memungkinkan semua itu terjadi, maka yang sedang dirawat bukan sekadar arsip musik.
Mereka, semua yang hadir dalam forum itu, sedang merawat hubungan antarmanusia yang tumbuh di sekelilingnya. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin individual dan serba cepat, itulah hal yang paling layak dirayakan.

