FM Abends Menulis Waktu Lewat Kronika

Aris Dwi M.
3 Personel FM Abends

Barangkali, setiap orang pernah mengalami satu masa ketika waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Ada hari-hari yang melintas begitu cepat hingga sulit diingat, tetapi ada pula satu malam yang sanggup tinggal bertahun-tahun di kepala. Bukan karena peristiwa besar terjadi, melainkan karena malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai: kehilangan, penyesalan, doa, atau sekadar pertanyaan yang terus berulang.

Pengalaman semacam itulah yang terasa mengendap di dalam Kronika, album penuh perdana FM Abends yang resmi dirilis pada 27 Juni 2026. Delapan lagu di dalamnya tidak sedang berupaya menjadi kumpulan karya dengan tema-tema yang berdiri sendiri. Sebaliknya, album ini dibangun layaknya sebuah arsip. Setiap lagu menjadi penanda atas waktu yang pernah dilewati, kemudian disusun menjadi narasi yang saling berkaitan.

Pilihan judul Kronika menjadi petunjuk pertama untuk memahami cara kerja album ini.

Secara etimologis, kata tersebut berasal dari bahasa Yunani, chronika atau chronos, yang berarti waktu. Dalam bahasa Indonesia, kronika dipahami sebagai catatan sejarah—sebuah rekaman mengenai rentetan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu. Namun, FM Abends tampaknya tidak sedang menulis sejarah dalam pengertian yang besar dan monumental. Tidak ada kisah kemenangan ataupun peristiwa yang hendak diagungkan. Yang mereka arsipkan justru sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang bertahan ketika kehilangan, bagaimana doa menjadi satu-satunya tempat pulang, bagaimana keluarga terus hidup di dalam ingatan, dan bagaimana luka perlahan mengubah cara seseorang memandang waktu.

Di titik ini, Kronika terasa lebih menyerupai buku harian daripada sebuah album musik.

Buku harian tidak pernah ditulis untuk menjelaskan semuanya. Ia hanya mencatat apa yang dirasakan pada saat tertentu, membiarkan halaman-halaman berikutnya menjawabnya sendiri. Delapan lagu dalam album ini bekerja dengan cara yang serupa. Mereka tidak menawarkan kesimpulan, melainkan mengajak pendengar berjalan melewati potongan-potongan pengalaman yang saling menyambung.

Empat lagu yang sebelumnya telah diperkenalkan melalui format Live Session—”Dasawarsa/Dekade”, “Dan Aku Hanya Ingin Kau Tahu”, “Menari di Bawah Purnama”, dan “Pulang”—kini memperoleh konteks baru ketika ditempatkan berdampingan dengan empat komposisi lainnya. Kehadiran “Gemuruh Suara Doa”, yang lebih dahulu dirilis sebagai singel pada Februari lalu, semakin mempertegas benang merah album ini: perjalanan spiritual yang lahir bukan dari kepastian, melainkan dari keraguan dan pencarian.

Menariknya, FM Abends tidak memilih pendekatan lirik yang penuh metafora rumit. Sebaliknya, mereka justru memanfaatkan kesederhanaan bahasa. Kalimat-kalimat yang digunakan terdengar langsung, jujur, bahkan kadang terasa seperti percakapan dengan diri sendiri. Kesederhanaan itu bukan berarti miskin makna. Justru karena tidak menjelaskan segalanya, lirik-lirik tersebut memberi ruang bagi pendengar untuk membawa pengalaman pribadinya masing-masing.

Dalam teori sastra, sebuah teks dikatakan hidup ketika pembaca ikut melengkapinya. Begitu pula dengan Kronika. Album ini tidak memaksa pendengar memahami apa yang dimaksud FM Abends. Ia hanya membuka pintu, sementara sisanya dibiarkan menjadi ruang interpretasi.

Sampul Album FM Abends Kronika
Sampul Album FM Abends Kronika

Karena itulah, mendengarkan Kronika terasa seperti membaca surat yang tidak pernah benar-benar ditujukan kepada siapa pun. Pendengar bebas mengisi bagian-bagian yang kosong dengan pengalaman mereka sendiri. Di situlah album ini menemukan kedekatannya dengan siapa saja yang pernah merasa kesepian.

Kesunyian sendiri menjadi elemen yang cukup penting di sepanjang album. Bukan kesunyian sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai ruang tempat seseorang akhirnya mendengar dirinya sendiri. Dari ruang sunyi itulah lahir pencarian makna spiritual, percakapan dengan masa lalu, hingga usaha menerima bahwa tidak semua kehilangan memiliki jawaban.

Puncak pembacaan tersebut hadir pada trek penutup, “4-4-2014”.

Judulnya saja sudah mengisyaratkan bahwa lagu ini tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang abstrak. Sebuah tanggal selalu menunjuk pada peristiwa tertentu—sesuatu yang pernah benar-benar terjadi. Ketika FM Abends memilih menjadikan tanggal sebagai judul lagu, mereka seolah sedang mengabadikan satu momen yang terlalu penting untuk dilupakan.

Kolaborasi bersama Piu Quartet sebagai ensambel serta Sevi Andita pada lapisan vokal memperluas dimensi emosional lagu ini. Aransemen yang bergerak perlahan kemudian membesar membuat pendengar tidak sekadar mendengarkan sebuah lagu penutup, melainkan menyaksikan klimaks dari keseluruhan perjalanan album. Di titik ini, kehilangan tidak lagi diposisikan sebagai tema, melainkan sebagai pengalaman yang benar-benar dihidupi.

Menariknya, “4-4-2014” tidak berusaha menyembuhkan luka tersebut. Lagu ini justru menerima kenyataan bahwa beberapa kehilangan memang tidak pernah selesai. Yang berubah hanyalah cara manusia hidup bersamanya.

Pada akhirnya, Kronika tidak menawarkan optimisme yang berlebihan. Album ini juga tidak tenggelam dalam kesedihan. Ia berdiri di antara keduanya, menerima bahwa hidup memang selalu bergerak di antara kehilangan dan harapan. Waktu tidak pernah benar-benar menghapus luka, tetapi ia mengubah bentuknya hingga suatu hari kita mampu mengenangnya tanpa harus kembali hancur.

Barangkali itulah alasan mengapa FM Abends memilih kata Kronika. Sebab yang mereka bangun bukan sekadar album debut, melainkan sebuah arsip emosional. Delapan lagu di dalamnya menjadi penanda bahwa pernah ada masa-masa yang sulit, doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, keluarga yang terus dikenang, dan perjalanan batin yang akhirnya menemukan bentuknya sebagai musik.

Maka, ketika FM Abends menutup pernyataannya dengan harapan sederhana bahwa album ini dapat menemani seseorang yang mendengarkannya sendirian di malam yang panjang, kalimat tersebut terasa lebih dari sekadar penutup press release. Ia adalah cara mereka mendefinisikan fungsi musik itu sendiri: bukan untuk menjelaskan hidup, melainkan menemani seseorang melewatinya.

Karena pada akhirnya, tidak semua perjalanan membutuhkan jawaban. Beberapa di antaranya hanya membutuhkan teman. Dan melalui Kronika, FM Abends memilih menjadi teman bagi siapa pun yang masih berusaha berdamai dengan waktunya sendiri.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan