Kolektif seni asal Yogyakarta, Taring Padi, debut pameran tunggal di London, Inggris. Pameran yang diberi judul “Rakyat Pasti Menang” ini digelar di galeri Ibraaz, mulai 8 Juli sampai 22 November 2026. Menampilkan karya-karya dari berbagai alat protes Taring Padi yang dulunya nempel di jalan-jalan, jadi mural, atau berupa spanduk, yang dikreasi ulang untuk masuk ke galeri kontemporer. Masih sejalan sama prinsip kolektif ini, seni untuk pendidikan, aktivisme, dan transformasi sosial.
Pameran ini dikuratori sama Odessa Warren yang kiprahnya juga bisa dicek di museum Tate Modern, London juga. Kerjasama dia dengan Taring Padi bikin Ibraaz jadi ruang yang merekam dua dekade perjalanan Taring Padi sekaligus sejarah Reformasi Indonesia. Pihak mereka menjelaskan kalau pameran ini mencerminkan “komitmen bersama terhadap budaya sebagai situs imajinasi kolektif dan transformasi sosial.”
Dari berbagai karya yang dipajang, salah satu yang jadi sorotan utama adalah spanduk-spanduk kain yang dipakai pas aksi demo tahun 1998. Karya ini masih dalam bentuk aslinya, saksi penggulingan rezim Orde Baru. Ada juga karya legendaris, “Adili Suharto dan Para Jendralnya” (2000) yang isinya gambar babi pakai baju tentara. Sementara yang lainnya, berbagai spanduk besar, cetak cukil kayu, poster, dan wayang kardus yang baru dibuat.
Pameran “Rakyat Pasti Menang” ini ditempatkan di area Majlis, salah satu ruang pamer Ibraaz yang biasanya juga dipakai buat dialog dan diskusi. Kalau Taring Padi biasanya kerja di jalanan, ini kali pertama karya mereka mendominasi ruang galeri formal. Meskipun gitu, mereka juga tetap membawa nama kolektif kolaboratif, jadi nggak ada kredit individual.
Itu kayak yang ditulis Ibraaz di pers rilisnya, “Karya-karya yang awalnya untuk jalanan dan advokasi warga kini di ruang kontemporer, memberikan perspektif kritis atas sejarah.”
Kalau melansir catatan ArtReview, mereka bilang kalau pameran ini berupa rotating display spanduk protes Taring Padi. Di Ibraaz, yang dikenal sebagai “ruang untuk seni, budaya, dan ide dari mayoritas global”, berarti Taring Padi mulai masuk ke kancah seni kontemporer yang lebih luas, tanpa meninggalkan akar grassroots-nya.
Selama pameran, Taring Padi dan Ibraaz juga bikin beberapa program untuk umum. Di antaranya workshop wayang kardus dan teknik cetak cukil kayu. Ada juga artist-talks dan aktivasi publik buat menggali lebih dalam tentang pendekatan Taring Padi terhadap seni.
Taring Padi sendiri lahir 21 Desember 1998 dari sekumpulan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan seniman jalanan. Sejak awal mereka konsisten sama prinsip kerja kolektif tanpa nama individu. Sebelum pameran di London, kelompok seni ini sudah tampil di berbagai ajang internasional, termasuk Documenta Fifteen di Jerman (2022), Framer Framed di Amsterdam (2023), dan Venice Biennale (2026).
