Akaracita “Jagau” dari Tradisi Banjar ke Lanskap Musik Kontemporer

Musik Indonesia
Akaracita rilis single "Jagau"

Akaracita merilis single “Jagau” pada 24 Agustus 2026. Single ini menampilkan pertemuan antara tradisi musikal Kalimantan Selatan dengan eksplorasi bunyi kontemporer.

Judulnya diambil dari konsep budaya Banjar. Jagau berarti jagoan, sosok laki-laki yang pemberani, pantang mundur, disegani, dan punya keahlian dalam masyarakat Banjar. Dari situ, Akaracita menerjemahkan figur kultural ini ke dalam bahasa musik.

Di single ini, mereka nggak mencoba bikin ulang musik tradisi, tapi justru memakainya buat bikin bunyi baru.

Novyandi Saputra, yang handle gamalan Banjar dan dawu di grup ini, memperkuatnya dengan bilang kalau tradisi nggak selalu harus distop perkembangannya. Justru sebaliknya, dia dan kawan-kawan berusaha meningkatkan relevansinya dengan kondisi kekinian.

“Bagi kami, tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan. Ia memiliki pengetahuan yang bisa terus dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan. ‘Jagau’ adalah salah satu upaya kami untuk menemukan kemungkinan bunyi baru dari pengetahuan tersebut,” jelas dia.

Secara umum pun, Akaracita nggak asal memasukkan instrumen tradisi agar kelihatan punya ciri khas unik. Mereka menerapkan banyak elemen tradisi dalam musik baru. Dari pola, tekstur, ritme, sampai karakter bunyi.

Lewat “Jagau”, unit yang digawangi Intan Mutia (vokal), Novyandi Saputra (gamalan Banjar, dawu), Khalifaturridha (bass), dan Marcelinus Adhi Wibisono (synth dan sequencer) ini juga ingin membongkar batas tegas antara musik tradisi dan musik kontemporer.

Bagi mereka, keduanya nggak perlu dipertentangkan. Tradisi bisa jadi titik berangkat, sementara kontemporer jadi ruang untuk menguji ulang kemungkinan-kemungkinan di dalamnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan