Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dunia seni rupa Indonesia berduka atas kepulangan pelukis maestro, Nasirun, di usia ke-60 tahun. Nasirun menghembuskan napas terakhirnya di Yogyakarta dan disemayamkan di Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri.
Nasirun adalah salah seorang seniman lukis kontemporer terkemuka asal Indonesia. Lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada tahun 1965, telah berkiprah selama lebih dari tiga dekade hidupnya dalam kesenian. Pendidikan seni formalnya ditempuh di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, kota yang kemudian menjadi rumah sekaligus tempatnya tumbuh berkembang melahirkan karya-karya hebat.
Karya-karya Nasirun terkenal sangat khas berkat kemampuannya memadukan elemen tradisi, mitologi, dan spiritualitas Jawa ke dalam medium kontemporer. Unsur-unsur seperti simbol wayang, motif batik, hingga ornamen-ornamen lokal, muncul baik kanvas maupun karya tiga dimensinya. Lukisan-lukisannya tidak hanya kaya warna, tekstur, & indah secara visual, tetapi juga sering berbau kritik sosial, memuat sisi dalam kehidupan, juga pesan spiritual.
Selain seni, Nasirun juga dikenal sebagai kolektor seni dan budayawan yang dihormati. Ia membangun Nasirun Studio di Bantul, Yogyakarta, ruang kreatif sekaligus apresiasi karya seni. Pribadi Nasirun yang dikenal hangat, rendah hati, serta komitmennya dalam merawat ingat-budaya dan mendukung generasi seniman muda, benar-benar membuat banyak orang, khususnya pemerhati seni, terkejut atas berita kepergiannya.
Trisno PAS Band, Berpulang di Hari yang Sama
Masih di hari yang sama, Sabtu (1/8/2026), dunia musik Tanah Air juga kehilangan salah satu pilarnya. Bassist PAS Band, Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Trisno , meninggal dunia pukul 14.30 WIB setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hermina, Bandung.
Musisi berusia 55 tahun itu diketahui sempat berjuang melawan beberapa penyakit, termasuk gangguan ginjal, dan mengalami komplikasi berupa penyumbatan pembuluh darah di otak yang mengharuskannya menjalani operasi. Fungsi ginjalnya bahkan disebut tersisa lima persen, sehingga ia harus rutin menjalani cuci darah.
Drummer PAS Band, Sandy, mengungkapkan kondisi kesehatan Trisno sudah menurun dalam beberapa bulan terakhir sebelum kepergiannya. Meski kondisinya terus memburuk, Trisno sempat menolak diajak berobat ke rumah sakit, hingga akhirnya rekan-rekannya membujuk keras agar ia bersedia mendapat penanganan medis.
Kabar duka ini pertama kali dibagikan melalui unggahan Instagram resmi PAS Band. Jenazah Trisno kemudian dimakamkan di TPU Cikutra, Bandung, keesokan harinya, Minggu (2/8/2026). Trisno dikenal sebagai salah satu pilar penting dalam perjalanan karier PAS Band, band yang turut mewarnai perkembangan musik rock alternatif Indonesia sejak era 1990-an. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam, dengan banyak musisi Tanah Air seperti Eno NTRL dan The Changcuters menyampaikan belasungkawa.
Diding Boneng Menyusul Berpulang
Belum genap seminggu berselang, kabar duka kembali mengecewakan dunia hiburan Indonesia. Komedian dan aktor senior Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (3/8/2026) pagi, setelah 10 hari menjalani perawatan di RS Tarakan karena kondisi kesehatannya yang menurun.
Aktor setelah bernama asli Zainal Abidin ini awalnya mengeluh sakit lambung yang dikira maag biasa, namun diperiksa dokter, ternyata ia mengalami stroke. Selain stroke, almarhum juga diketahui telah lama menderita asma akut dan didiagnosis mengidap penyakit jantung, hingga harus empat kali menjalani rawat inap dalam beberapa waktu terakhir.
Setelah sempat membaik dan diizinkan pulang, kondisi Diding kembali kritis pada malam sebelum keberangkatannya, ditandai gangguan pernapasan yang memburuk tiba-tiba. Diding Boneng wafat dalam usia 76 tahun.
Diding Boneng dikenal luas lewat asalnya di film-film Warkop DKI, mengawali kariernya dari dunia teater sejak 1973, sebelum terjun ke layar lebar pada 1980 lewat film “Tiga Dara Mencari Cinta.” Ia semakin populer lewat film-film Warkop DKI seperti “Godain Kita Dong” dan “Sudah Pasti Tahan”, serta belakangan juga tampil di film “KKN di Desa Penari” dan “Badarawuhi di Desa Penari”. Meski sudah tidak aktif di dunia hiburan, Diding tetap menyalurkan kecintaannya pada seni peran dengan mengajar akting di sebuah sanggar di wilayah Tambun, Jawa Barat. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Pusat.
Kepergian Nasirun, Trisno PAS Band, dan Diding Boneng dalam rentang waktu kurang dari seminggu ini menyisakan duka mendalam bagi dunia kesenian Indonesia. Ketiganya meninggalkan jejak karya dan dedikasi panjang yang telah membentuk wajah kesenian Tanah Air selama beberapa dekade, dan kepergian mereka mengingatkan masyarakat akan pentingnya serta menghargai karya para maestro selagi mereka masih berkarya.
