Chronically Online, Socially Aware: Apakah Terlalu Aktif di Internet Selalu Buruk?

Lionita Nidia
chronically online di tengah demo indonesia

Lagi asik rebahan, jempol auto-pilot scroll Instagram, TikTok, Thread, X, bergantian. Rentang waktu beberapa menit saja, matamu disuguhi segala macam informasi. Dari meme kucing joget buatan AI, gosip artis rebutan harta gono-gini, cuplikan drama terkini, lalu tiba-tiba muncul video kebakaran hutan di Kalimantan, disusul jadwal demo besok pagi.

Wah, campur aduk. Whiplash emosional. Tadinya ketawa ngakak, detik berikutnya langsung elus dada, mau nangis.

Ya begini ini realitas kita sehari-hari. Sebutan kekinian bagi orang-orang yang menghabiskan separuh hidupnya di ruang digital ini adalah “chronically online”.

Konotasinya biasanya negatif: kurang kerjaan, hidup di dunia maya, terputus dari realitas fisik, dan kayak nggak punya kehidupan nyata. Tapi, apa benar terlalu aktif di internet selalu berarti buruk? Atau jangan-jangan, lewat layar yang sama, kamu justru lebih bisa melihat realitas yang jauh dari jangkauanmu?

Apa arti Chronically Online?

doomscrolling efek chronically online

Sederhananya, Chronically Online itu istilah buat mereka yang otaknya sudah ter-wiring dengan bahasa internet. Tahu meme template terbaru sebelum viral, ngerti slang yang baru muncul tadi malam, dan selalu update dengan isu terkini.

Buat generasi ini, internet bukan lagi tempat cari info, tapi sudah jadi rumah kedua, bagian dari identitas sosial. Batas antara dunia maya dan dunia nyata seperti sudah melebur. Istilah ini sering dapat konotasi negatif karena sering diasosiasikan dengan orang gabut dan hidup dalam bubble digital yang itu-itu saja.

Dampak negatifnya apa?

Nggak bisa dipungkiri, hidup 24/7 di dunia maya punya efek samping yang lumayan menguras mental dan nalar.

Information Overload

Otak dipaksa menampung data dari ratusan sumber setiap hari. Saking banyaknya, kita kesulitan memilah mana informasi yang krusial dan mana yang cuma noise. Ujung-ujungnya, kita tahu banyak kejadian, tapi nggak benar-benar paham konteks utuhnya. Tahu banyak hal, tapi merasa nggak berdaya melakukan apa pun.

Doomscrolling dan Kelelahan Digital

Niatnya cuma cek berita lima menit, eh malah lanjut scroll terus sampai subuh. Itu namanya doomscrolling, alias kebiasaan obsesif mencari info terbaru, terutama yang negatif. Paparan berita buruk yang berulang ini bikin emosi berantakan dan memicu kelelahan digital, tapi rasanya susah banget lepas dari layar.

Kami sudah pernah membahas khusus soal fenomena domscrolling ini, kalau kamu penasaran.

FOMO

Takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). Efek buruknya bisa bikin kita asal share berita bohong tanpa kroscek. Ikut nimbrung dalam perdebatan viral atau membagikan sesuatu cuma karena semua orang juga melakukannya, padahal belum tentu paham duduk perkaranya.

Ada juga positifnya, kok

Tapi tunggu, sebelum menganggap chronically online sebagai penyakit zaman sekarang, coba putar sedikit perspektifnya.

Dulu, isu lokal mungkin akan stop area jangkauannya. Kalau ada ketidakadilan di pulau seberang, paling cuma jadi berita singkat di koran halaman belakang. Sekarang, algoritma dan timeline memaksa kita untuk peduli.

Media sosial membuka akses ke persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang sebelumnya sulit dijangkau atau sengaja dibungkam. Muncul komunitas digital yang mempertemukan orang-orang dengan keresahan yang sama. Media sosial jadi tempat berbagi pengalaman, membangun solidaritas, dan menyuarakan pendapat.

Nggak semua orang punya privilege waktu dan fisik untuk turun ke jalan setiap hari, tapi menyebarkan informasi yang valid juga jadi bentuk perlawanan tersendiri. Menurut survei Pew Research Center, bagi banyak pengguna media sosial, platform digital bisa jadi pintu gerbang utama dan alat penting untuk mulai terlibat dalam isu-isu politik dan sosial.

Dari FOMO ke Gerakan Kolektif

Mungkin memang ada sebagian orang yang me-repost isu di media sosial cuma karena FOMO. Tapi ya nggak apa-apa juga. Malah budaya repost berantai itu bisa jadi motor gerakan kolektif di Indonesia. Ribuan repost dari orang yang bahkan cuma ikut-ikutan saja bisa bikin algoritma meledak. Isu yang awalnya mau ditenggelamkan, jadi sulit di-take down karena jangkauannya terlalu masif.

Ambil contoh kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Katadata Insight Center mencatat ada hampir 26.000 unggahan dan komentar terkait karhutla hanya dalam periode satu bulan (22 September–22 Oktober 2026). Bahkan netizen nggak cuma protes. Mereka membagikan peta titik api, mendokumentasikan langit yang menguning, dan mengkritik penanganan bencana. Mengabarkan ke seluruh dunia bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Sedikit demi sedikit, kerja keras jempol netizen dihargai. Video Emmanuela Shinta, aktivis lingkungan asal Kalimantan yang merekam kondisi kabut asap, sampai di-repost oleh aktivis lingkungan global, Greta Thunberg. Ini lumayan membuka jalan buat tekanan internasional dan dukungan penggalangan dana.

Saking solidnya, tempo hari juga sempat muncul inisiatif dari netizen Indonesia yang patungan (crowdfunding) untuk memasang billboard protes Greenpeace soal Karhutla di Times Square, New York.

Apakah yang viral berhasil membawa perubahan?

efek chronically online

Viral memang bukan jaminan perubahan kebijakan. Kita hidup di dalam attention economy, di mana tragedi kemanusiaan sering dikemas jadi sekadar ‘konten’ yang harus bersaing dengan meme dan gosip demi memperebutkan jatah screen time. Risiko misinformasi dan penyederhanaan masalah yang kompleks juga sangat rawan terjadi.

Studi-studi soal aktivisme digital mengingatkan bahwa membedakan kepedulian yang tulus dengan sekadar ikut tren itu penting. Ada sisi gelap dari kemudahan bermedia sosial yang dijabarkan dalam kajian Humanities and Social Sciences Communications. Algoritma memang menurunkan biaya partisipasi. Siapa saja bisa bersuara hanya dengan satu tap layar. Sayangnya, gerakan yang lahir dari viralitas biasanya sangat organik, cair, dan kekurangan struktur organisasi yang kuat (lack of institutionalization).

Gerakan digital sering meledak sangat besar, tapi juga cepat bubar dan menguap (dissolve quickly) begitu atensi publik dialihkan oleh tren atau skandal baru yang datang selanjutnya.

Media sosial adalah langkah awal yang krusial, tapi bukan satu-satunya bentuk partisipasi. Kalau berhenti di repost saja tanpa ada aksi, perubahan struktural nggak akan terjadi.

Tapiii, jangan pernah meremehkan step one. Jangan gatekeep aktivisme. Motivasi orang bermedia sosial itu beda-beda: ada yang tulus peduli, ada yang baru melek karena melihat story teman, dan ada yang sekadar FOMO. Semua valid sebagai roda penggerak. Menyebarkan informasi di ruang digital adalah bahan bakar buat mereka yang punya kapasitas untuk turun langsung ke lapangan, mengadvokasi kebijakan, atau menyalurkan bantuan logistik.

Riset psikologi sosial juga membuktikan bahwa hubungan antara aktivisme online dan offline justru sering kali berkorelasi positif. Aksi digital yang terkesan remeh sering kali berfungsi sebagai batu loncatan (gateway). Yang awalnya cuma ikut-ikutan hashtag, lama-lama bisa terbangun kesadarannya, merasa memiliki isu tersebut, dan akhirnya terdorong untuk melakukan aksi offline yang lebih besar. Online dan offline itu bisa saling melengkapi.

Jadi, apakah chronically online selalu buruk?

Jawabannya tergantung bagaimana kamu memposisikan dirimu di tengah arus informasi yang deras.

Internet memang bisa jadi sumber distraksi dan kelelahan mental. Tapi juga bisa jadi alat paling tajam buat membongkar ketidakadilan yang terjadi nan jauh di sana. Nggak semua orang harus jadi aktivis garis keras untuk punya kepedulian sosial. Satu tap share ke ratusan mutuals juga bisa jadi bentuk kewarasan kolektif di tengah kondisi negara yang sedang nggak baik-baik saja.

Pentingnya sekarang adalah menggunakan internet secara lebih sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Jadilah chronically online yang socially aware. Silakan scroll sampai jempol kamu kram, tapi pastikan mata hatimu tetap terbuka. #IndonesiaSadar

No Comments

Leave a Reply