Situasi Runyam Hari Ini Bikin Memori Memutar Lagi “V for Vendetta”

Ovan Obing
Guy Fawkes V for Vendetta

Film garapan sutradara James McTeigue ini merupakan adaptasi dari novel grafis DC, karya Alan Moore dan David Lloyd. Dirilis tahun 2005, ceritanya ditulis oleh sutradara dan duo produser Wachowski bersaudara, Lana dan Lilly. Sedikit info, dua orang ini sebelumnya sukses besar lewat The Matrix (1999).

Karakter utama V for Vendetta adalah seseorang yang disebut “V”. Tapi yang bikin dia begitu lekat di memori adalah karena dia pakai topeng Guy Fawkes. Topeng berekspresi dingin ini sebelumnya memang terkenal, tapi popularitasnya jadi mengglobal berkat dipakai V sepanjang film berdurasi 132 menit.

Tokoh “V” sendiri diperankan oleh Hugo Weaving yang jadi Agent Smith di The Matrix dan Elrond di Lord of The Rings. Di Vendetta, dia adu akting sama Natalie Portman yang memerankan karakter Evey Hammond, warga biasa yang nanti dapat pencerahan politik dan spiritual.

Ada juga aktor senior Stephen Rea sebagai Inspektur Finch yang memimpin penyelidikan. Serta John Hurt yang tampil meyakinkan sebagai si diktator kejam, Adam Sutler.

Cerita film ini berlatar Inggris masa depan yang berada di bawah cengkeraman rezim fasis Norsefire. Negara dipimpin Adam Sutler, mengontrol penuh kehidupan warga, lewat jam malam, sensor ketat, propaganda media, sampai ketakutan massal.

Uniknya, meskipun kondisi negara lagi kayak gitu, suasana di grassroot nggak kelihatan putus asa. Mayoritas warga justru merasa baik-baik saja dan hidupnya nyaman-nyaman aja. Tipikal karakter warga yang adaptif, sekaligus penurut dan gampang puas, asal kebutuhan dasar terpenuhi.

Ternyata, rezim sudah sukses memanipulasi mereka pakai propaganda halus dan keamanan semu lewat media, sambil menerapkan jam malam dan ancaman ketakutan buat para pelanggar.

Di tengah situasi itu, muncul sosok misterius bertopeng Guy Fawkes yang mulai menjalankan rangkaian aksi. Dari membajak TV nasional sampai ngebom bangunan-bangunan milik pemerintah. Aksi-aksinya itu ditujukan buat menggoyang penguasa sekaligus “membangunkan” warga dari bobok cantiknya. V mau menyadarkan rakyat kalau mereka lagi dibodohi oleh pemerintah sendiri.

Dua Dekade Kemudian, Sayangnya Masih Relevan

Sementara itu, situasi real world sekarang hampir mirip dunia distopia di V for Vendetta. Laporan Carnegie Endowment for International Peace, ada lebih dari 107 protes antipemerintah signifikan sepanjang dua belas bulan terakhir di lebih dari 57 negara (data per 9 September 2026). Dari rusuh di Nepal, gelombang aksi mogok di Prancis, bentrokan di Albania, sampai protes krisis perumahan di Italia, Spanyol, dan Portugal. Belakangan, demonstrasi besar di Nepal, Madagaskar, Brazil, dan Serbia berhasil ngasih kemenangan buat para penuntut.

Di negara yang sedang kita tinggali sekarang, aksi demonstrasi juga sudah berulang kali terjadi. Pencarian sekilas menemukan jumlah delapan aksi nasional, terhitung sejak masa kepemimpinan rezim yang baru tahun 2024, dengan beberapa di antaranya berakibat korban jiwa.

Puluhan negara, termasuk di sini, sedang berada di kondisi mirip, dengan warga yang sama-sama marah. Sebabnya masalah mendasar yang juga serupa, kayak inflasi, harga bahan pokok naik di tengah upah yang stagnan, sulitnya lapangan kerja, harga rumah nggak terjangkau, infrastruktur dan layanan publik yang bobrok, sampai ketimpangan hukum dan skandal korupsi pejabat.

Di film, rezim Norsefire mengontrol warganya dengan pakai propaganda narasi terstruktur via media elektronik. Sementara di kenyataan, media elektronik didukung sama pendengung media sosial yang bahkan rela dibayar jauh lebih sedikit dari kuli harian. Kebijakan nggak berpihak ke rakyat kecil, tapi dibungkus dengan atas nama stabilitas ekonomi, ilusi kesejahteraan, atau yang paling sering, keamanan dan ketertiban.

Diktator Adam Sutler di Vendetta hampir selalu muncul dalam bentuk layar besar, bahkan pas rapat dengan para pembantunya. Ini menggambarkan jarak yang sama antara para elit dengan warga jelata di dunia nyata. Jangankan ngasih solusi, banjir kritik dan kesenjangan yang sangat lebar direspons pakai flexing dan argumen nggak masuk akal, bahkan represi. Akhirnya, masyarakat jadi nggak takut lagi, saking geramnya. Dan karakter V di film jadi sosok yang bikin rakyat sadar akan hal itu.

Tapi justru poin terpenting di film adalah ketika rakyat biasa mulai berani ikut beraksi, kayak yang sedang terjadi secara global hari ini. Saat kenyamanan hidup terus diganggu oleh berbagai manuver para pemilik power yang nirempati, ketakutan dan putus asa berubah jadi kenekatan kolektif.

Di film, kenekatan kolektif itu berujung di scene massa bertopeng Guy Fawkes yang marching ke parlemen. Klimaksnya rapi karena fiksi nggak perlu mikirin sumber pendanaan aksi, risiko, atau gimana rutinitas besok paginya. Sementara di dunia nyata, kondisinya jelas lebih berantakan. Orang yang ikut aksi di real world sudah harus yakin sejak berangkat bahwa taruhan dia adalah nyawa. Makanya, kita patut salut sama mereka yang berani bersuara, ngasih sinyal kuat ke penguasa bahwa apa yang dibilang V benar adanya. “People should not be afraid of their government. Governments should be afraid of their people.”

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan