Saya tidak pernah datang ke Folk Music Festival (alm).
Sebabnya sederhana: mereka tak pernah mengundang Tani Maju. Padahal published rate band ini cukup “murah”. Jauh lebih terjangkau dibanding kugiran mapan yang itu-itu saja.
Alasan lain, yang lebih esensial: Tani Maju adalah sebenar-benarnya “Band Malang”. Band Rakyat Malang, jika perlu.
Kita bisa berdebat panjang lebar soal ini. Tapi fakta bahwa lagu mereka, “Salam” telah lama diadopsi menjadi chant suporter kesebelasan daerahnya adalah bukti sahih. Mereka bukan lagi grup musik arus pinggir, namun menjelma menjadi bagian dari kultur pop kotanya. Di satu radio, saya pernah bercanda kepada kawan penyiarnya, “Ayo taruhan. Kalo kita datang ke pasar dan bertanya ke orang random, mereka lebih tahu Coldiac atau Tani Maju?”
Kurang folk apa, coba?
Tapi bisa dipahami. Mungkin folk yang dimaksud adalah helatan kelas menengah melek kultur. Memasukkan sebuah “orkes” ke dalamnya, barangkali, merusak imaji-imaji tadi. Folk harus syahdu, harus gitaran doang, harus kopi senja—atau apa pun yang dianggap begitu oleh massa.
Sekali lagi: mungkin. Mungkin.
“Di sinilah di sinilah kita bertemu lagi.
Di sinilah di sinilah kita berjumpa lagi…”
Okay, bagi saya, Tani Maju adalah band terbaik di Malang—kalau tidak Indonesia. Mereka memenuhi segala daftar-centang “band bagus” saya: liriknya apik, musiknya sulit, dan tingkahnya unik. Konteks sosial, politik, budaya di atas hanyalah pembuka dari gerombolan legendaris asal IKIP Malang itu.
Satu: lirik Tani Maju itu apik. Saya selalu merekomendasikan musisi-musisi lain untuk belajar tata bahasa ke orkes liar jenaka ini. Kecanggihan itu tidak terletak pada kata-kata sastrawi dan nyundul-langit, namun justru kesederhanaannya. Kata-kata mereka mengundang perenungan, namun begitu ringan di saat yang sama. Coba perhatikan lirik “Berbesar Hati”, lagu terbaik mereka:
“Tapi di sana halalkan semua cara
Salah benar tak satu pun berjiwa besar
Malas di sana lebih baik kita di sini
Biar menangis asal tetap bersikap manis.”
Sederhana namun efektif nan estetik di saat yang sama. Tani Maju tidak perlu mendapuk diri sebagai “band egaliter” yang merayakan kebersamaan dan kesamarataan. Empat baris itu sudah menjadi bukti sahihnya. Para mahasiswa bahasa, buruh semenjana, bahkan para bromocorah pasti akan langsung klik, relate dengan lagu tersebut.
Lagu-lagu lain juga menawarkan hal serupa. “Sekejap” adalah lagu cinta yang begitu hangat. “Nongkrong” menyajikan nostalgia arek-arek ormawa yang meski pun berangkat dari kampus mereka UM (Universitas Negeri Malang), tetap punya universalitasnya sendiri. Di sisi lain, “Eka Prasetya Pancakarsa” dan “Bukanlah Bisnis” menawarkan kritik tajam tanpa perlu menjadi abang-abangan-ngawang.
Semua itu hanya bisa didapat jika kita mau mengulik lebih dari “Castol”, lagu “hit” mereka yang konon ngetren karena “diselundupkan” ke folder warnet-warnet. Sebuah marketing jenius yang melampaui zamannya.
Dan yang jarang diketahui, Tani Maju punya musik super kompleks. Kerumitan mereka, lagi-lagi, bukan terletak pada sesuatu yang terlihat mata macam bulilik-bulilik gitar atau solo-tanding merinding. Sebaliknya, kompleksitas itu dibangun secara “konseptual”, oleh tatanan musiknya.
“Aku gak paham chord Pel (Kempel, penulis),” kata mas Djoni, otak di balik musik mereka, “Tapi aku seneng main ritmis. Karena basic-ku gamelan.” Seperti kita tahu, musik gamelan membutuhkan kolektivisme ritmis untuk benar-benar bekerja.
Arsitektur tersebut membuat pembagian instrumen Tani Maju cukup rigid. Kalau dimainkan satu-satu kesannya gak nyambung, tapi ketika sudah bersama-sama baru terasa feel-nya. Warna musik mereka bukanlah standar pop-rock yang memberi ruang satu-dua instrumentalis untuk menjadi dirigen untuk yang lainnya. Lagi-lagi, musik mereka adalah satu kesatuan utuh dari setiap bagian yang menyusunnya.
Mengutip mas Djoni, “Jika salah 1 (instrumen), bakal salah semua.”
Jika ingin bukti, sila dengarkan lagu berjudul “Sekejap”. Secara ritmis, lagu ini begitu aneh. Ia punya ketukan-ketukan subtil yang ternyata begitu sulit dimainkan. Mas Djoni menggunakan teknik rhythmic displacement: ia menaruh pukulan snare di hitungan pertama (downbeat), alih-alih menaruhnya di hitungan kedua atau keempat sebagai backbeat konvensional. Siapa sangka di balik lirik “Sekejap bila dapat kunikmati hangat cintamu membuat hati damai…” terselip pattern-pattern jazzy Bill Bruford hingga Stewart Copeland?
“Gurung tak-anggep musisi lek gurung iso ngover Tani Maju,” saya jadi ingat kata-kata salah satu abang-abangan musik kampus dulu.
Seorang kawan, anak seni musik pernah termehek-mehek akan fakta ini. Dia tidak menyangka jika band yang menggurat lirik soal lem kastol itu bisa membuat musik sesulit ini. Kami pun sepakat dan bertanya-tanya, “Kenapa anak-anak seni musik jarang meneliti musik Tani Maju?” Apa karena pisau teori kebarat-baratan itu tak cukup mampu membedah daging-lemak musik mereka? Masuk tradisi pun jelas tidak. “Kurang murni,” kata kawan musisi saya yang lain.
Atau ternyata, mahasiswa-mahasiswa ini kelewat elitis saja? Maunya yang diminished-diminished saja. Yang Charlie Parker-Duke Elington saja. Atau Mozart-Beethoven saja. Who knows?
Yang ketiga, Tani Maju adalah band dengan attitude punk. Barangkali, penonton adalah orang terakhir yang mereka pedulikan. Di masa awalnya, mereka tampil menggunakan kostum aneh-aneh; dari stoking sampai ban renang semua ada. (Semakin tua, mereka semakin santun. Insaf kayaknya).
Namun satu hal yang tidak berubah: tingkah polahnya. Mereka gak pernah main rapi, seringkali terlihat teler, namun begitu membumi dan dekat—seakan menonton mas-mas tongkrongan kita yang 20 tahun lebih ngeband. Barangkali itulah yang bikin panggungan mereka begitu menarik. Selain Majelis Lidah Berduri, Tani Maju adalah band yang selalu saya tunggu panggungannya.
“Belum ke Malang kalau belum nonton Tani Maju,” selalu dan selalu saya katakan kepada banyak kawan.
Seperti paragraf awal, hal-hal di atas mungkin membuat Tani Maju “disepelekan”—dan justru gakpapa. Mereka mungkin peduli setan mau dianggap sebagai unit komedi. Di saat yang sama, itu tak mengubah fakta bahwa musik dan lirik mereka begitu mutakhir.
Malahan, hal tadi membuat posisi Tani Maju unik. Mereka jadi semacam kuda troya yang bisa bikin kita tertawa terpingkal-ingkal sampai gagal menyadari semburat kelas wahid mereka. Hal itu belum ada tandingannya, bahkan oleh “adik-adik (yang terinspirasi oleh) mereka” macam Tahu Brontak, Teniflopi, Kos Atos, dan banyak lainnya.
Pendek kata: Tani Maju jauh lebih progresif daripada band-band yang mengklaim dirinya unit progresif.
-KMPL- (@randy_kempel)
*Bill Bruford menggunakan pola mirip pada “Long Distance Runaround” yang dibawakan Yes.
**Stewart Copeland juga banyak memakainya pada tembang-tembang macam “Roxanne” hingga “Every Little Thing She Does Is Magic” yang dibawakan The Police.
