Bangga Tapi Salty, Plus Minus Kiprah Indonesia di Festival Film Cannes 2026

Guest
By
kiprah film indonesia di festival film cannes 2026

Oleh: Icha Gyllian

Dalam kancah perfilman global, Festival Film Cannes selalu menempati posisi yang prestisius. Bersama Venice dan Berlin, Cannes masuk dalam jajaran “Big Three” festival film utama Eropa yang kurasinya terkenal sangat ketat.

Bisa dibilang, tembus ke sana jelas bukan urusan gampang. Makanya, begitu karya sineas Indonesia dipastikan kembali tayang di Cannes 2026, pencapaian ini langsung jadi sorotan hangat di mana-mana. Publik jelas punya alasan kuat buat ikutan bangga.

Tahun yang Cukup Besar buat Indonesia di Cannes

Salah satu sorotan terbesar datang dari sutradara kebanggaan kita, Kamila Andini. Di Cannes 2026, Kamila terpilih dalam program Women in Cinema Spotlight yang diselenggarakan Red Sea Film Foundation.

Dia jadi sineas perempuan pertama dari Asia Tenggara yang dapet apresiasi di program tersebut, sekaligus satu-satunya perwakilan Asia Tenggara tahun ini. Program ini emang dibuat khusus buat mengangkat suara dan karya sineas perempuan dari kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Selama lebih dari satu dekade, Kamila dikenal konsisten bawa cerita-cerita lokal Indonesia ke panggung internasional lewat karya-karyanya kayak Yuni, Before, Now & Then (Nana), The Seen and Unseen, sampai yang berhasil menyita perhatian publik, Gadis Kretek.

Kamila sendiri bilang kalau ini bukan cuma pencapaian pribadi. “This award is not just mine, it belongs to all Indonesian female filmmakers who have fought to tell their stories with honesty and courage.” Pernyataan yang punya makna mendalam, karena emang benar kalau dia lagi buka pintu lebar-lebar buat generasi sineas perempuan berikutnya. Kehadirannya di Cannes jadi simbol kuat kalau perfilman Indonesia makin diperhitungkan dalam percakapan sinema global.

Nggak cuma Kamila, Indonesia juga dapet sorotan lewat program Next Step Studio Indonesia. Empat film pendek hasil kolaborasi sineas Indonesia dan kawasan ngadain pemutaran perdana di Cannes Critics’ Week. Program ini jadi edisi pertama yang secara khusus nempatin Indonesia sebagai pusat kolaborasi kreatif antar sineas muda di kawasan Asia Tenggara.

Empat film itu antara lain Holy Crowd, Original Wound, Annisa, dan Mothers Are Mothering. Keempatnya diproduksi dan dipresentasikan di ekosistem internasional yang buka peluang distribusi, pendanaan, sampai jaringan kerja sama buat proyek-proyek berikutnya.

Di industri film, kehadiran di festival prestisius kayak Cannes bukan cuma sekadar soal dapet penghargaan bergengsi, tapi juga soal akses ke pasar global.

Dengan kata lain, kalau selama ini banyak orang nanya gimana film Indonesia bisa lebih dikenal dunia, salah satu jawabannya emang lewat forum-forum gede kayak gini.

dok: liputan6

Video Joget Lebih Viral daripada Prestasi

Tapi di tengah rentetan kabar baik tadi, selebrasi itu nggak berlangsung tanpa gangguan. Media sosial justru ramai bahas sebuah video yang nampilin sejumlah sineas, pelaku industri, selebriti, dan perwakilan pemerintah Indonesia asyik joget bareng di Cannes.

Video itu terus nyebar luas dan memicu berbagai komentar. Sebagian netizen nganggep itu cuma bentuk ekspresi kegembiraan yang wajar aja. Tapi, sebagian lain ngelihatnya sebagai hal yang terasa kurang sensitif sama kondisi industri film Indonesia saat ini.

Kritik yang paling banyak muncul berkaitan sama asumsi kalau keberangkatan delegasi ke Cannes pakai uang negara. Narasi ini makin ramai setelah akun Instagram @salahcetak unggah kritik yang cukup tajam.

Di unggahannya, akun itu nyorotin kontras antara suasana perayaan di Cannes sama realitas pekerja film di Indonesia yang masih ngadepin berbagai persoalan. Mulai dari upah rendah, jam kerja kepanjangan, sampai perlindungan kerja yang belum ideal.

“Yang joget-joget itu adalah gerombolan dirjen kebudayaan, filmmaker, dan selebriti yang berangkat ke Cannes Film Festival. Sementara Indonesia lagi morat-marit, kru film struggling dengan bayaran kecil dan jam kerja panjang, mereka joget-joget dan bikin party di Cannes atas nama pengembangan industri film dengan uang pajak kita.”

Nggak lama, salah satu pemilik video, @faim_ahmad, ngasih balasan di kolom komentar.

“Saya yang suruh mereka joget.”

Respons tersebut nunjukin kalau video itu kemungkinan besar emang nggak seserius yang dibayangin sebagian orang. Tapi nasi udah jadi bubur, isu ini telanjur berkembang jadi diskusi yang lebih luas tentang siapa sih yang sebenarnya dapet manfaat dari kemajuan industri film Indonesia?

Kenapa Hal Ini Jadi Bahan Debat?

Kalau ditarik lebih jauh, perdebatan ini sebenarnya bukan sekadar soal joget atau nggak joget. Yang lagi dipertanyakan publik adalah soal representasi dan pemerataan manfaat.

Di satu sisi, ada kelompok yang ngelihat keberhasilan Indonesia tampil di Cannes sebagai sesuatu yang pantas banget dirayain. Mereka berargumen kalau bawa nama Indonesia ke panggung internasional itu butuh dukungan, jaringan, dan kehadiran fisik di berbagai forum industri.

Dalam perspektif ini, kehadiran delegasi Indonesia di Cannes itu ibarat investasi jangka panjang buat buka peluang kerja sama, distribusi film, sampai pengembangan industri nasional.

View this post on Instagram

A post shared by Fadli Zon (@fadlizon)

Tapi di sisi lain, ada kelompok yang ngingetin kalau gemerlap festival internasional kadang jadi wajah yang nggak selalu mencerminkan kondisi pekerja film di lapangan. Di balik pencapaian kelas dunia, masih banyak kru yang kerja dengan sistem kontrak yang nggak jelas, jam kerja berlebihan, dan kesejahteraan yang belum memadai.

Makanya, waktu publik lihat video perayaan di luar negeri, sebagian ngerasa ada jarak yang cukup lebar antara panggung festival dan realitas di lokasi syuting.

Kedua pandangan ini sebenarnya punya dasar yang sama-sama bisa dipahami.

Merayakan pencapaian internasional jelas bukan hal yang salah. Tapi kritik terhadap kondisi ekosistem film domestik juga bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai serangan buat para sineas.

Bangga Boleh, Kritis Juga Perlu

Ngomongin soal ekosistem, sebenarnya ada kabar yang lumayan ngasih harapan baru nih. Di sela-sela hiruk-pikuk Cannes 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga ikut angkat bicara. Beliau secara tegas nyampein komitmen Kementerian Kebudayaan buat dukung penuh penguatan ekosistem perfilman Indonesia dari hulu ke hilir. Tujuannya jelas, biar industri kita makin kompetitif, inklusif, dan mampu bersaing di kancah global.

Nggak tanggung-tanggung, Pak Menteri juga sempat ketemu pihak penyelenggara buat ngebahas kesiapan Indonesia yang lagi dibidik buat jadi Guest of Honor alias tamu kehormatan di Festival Film Cannes tahun 2028 nanti. Harapannya sih, janji penguatan ekosistem ini nggak cuma sekadar di level promosi internasional aja, tapi beneran direalisasiin buat nyelesaiin akar masalah kesejahteraan pekerja film yang lagi disorot publik tadi.

Cannes 2026 nunjukin kalau perfilman Indonesia lagi bergerak ke arah yang sangat menjanjikan. Nama-nama kayak Kamila Andini, para sutradara muda Next Step Studio Indonesia, sampai berbagai proyek film yang mulai dilirik pasar internasional jadi bukti kalau karya sineas kita punya tempat di panggung dunia.

Tapi, pencapaian global nggak otomatis ngehapus PR besar yang masih numpuk di dalam negeri.

Barangkali perdebatan yang muncul belakangan ini justru jadi pengingat kalau industri film itu nggak cuma soal karpet merah, tepuk tangan, dan foto-foto cakep di festival. Ada juga urusan kesejahteraan kru, sistem kerja yang sehat, akses pendanaan yang merata, dan pembangunan ekosistem yang berkelanjutan.

Jadi, kalau ada yang bangga sama kiprah Indonesia di Cannes, itu wajar banget. Kalau ada yang tetap kritis sama kondisi industri film Indonesia, itu juga wajar.

Mestinya kita terus dukung sineas lokal berkarya di kancah dunia, sembari mengawal janji pemerintah dan tetap ngebuka ruang diskusi untuk perubahan nyata bagi ekosistem perfilman kita. Menurutmu gimana?

Referensi:
https://rsvpclique.com/posts/kamila-andini-at-cannes-2026-southeast-asia-makes-history
https://en.tempo.co/read/2103933/indonesian-director-kamila-andini-joins-cannes-women-in-cinema-spotlight
https://thesmedia.id/posts/kamila-andini-makes-history-at-cannes-film-festival-2026
https://variety.com/2026/film/festivals/cannes-next-step-studio-indonesia-trailer-1236737883/
https://en.tempo.co/read/2102499/indonesian-directors-to-showcase-4-short-films-at-cannes-2026
https://news.detik.com/berita/d-8489794/dukung-delegasi-ri-di-cannes-2026-menbud-janjikan-penguatan-ekosistem-film
Joget Cannes “Karpet Merah untuk Elite, Krisis untuk Pekerja Film” – Suara Merdeka Jakarta https://share.google/k6N6DUdsA1YJtPNZm

Banner BlogPartner Backlink.co.id
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan