Satu Lagu Dua Rasa, Kenapa Versi Cover Lagu Kanye West Ini Lebih Bikin Nyesek?

Guest
By
ilustrasi Kanye West dan Emily West dari Postmodern Jukebox

Oleh: Teylita A.

Coba kamu dengerin lagu “Only One” dari Kanye West. Lagu tentang ibunya yang sudah meninggal, Donda West, seolah berbicara dari surga ke anaknya. Liriknya dalam dengan musik minimalis dan ada alunan piano elektrik Paul McCartney di dalamnya. Secara resep, sepertinya semua elemen untuk bikin lagu yang menyentuh hati sudah ada di dalamnya.

Tapi ada sesuatu yang bikin kamu nggak bisa sepenuhnya larut.

Sekarang dengerin lagu yang sama, tapi versi yang dibawakan Emily West bareng Postmodern Jukebox. Versi ini hadir dengan gaya Roy Orbison tahun 1960-an, lengkap dengan gesekan biola, cello, piano akustik, dentingan bass yang hangat dan suara Emily West yang merdu sekaligus menyayat.

Lagu yang sama, tapi ternyata versi PMJ terasa lebih nyesek daripada versi aslinya. Kok bisa?

Esensi “Only One” di Tangan Kanye West

Kanye West merilis “Only One” pada 31 Desember 2014 sebagai tribute untuk putrinya, North West. Lagu ini ditulis dari sudut pandang ibunya, Donda West, yang meninggal tahun 2007 akibat komplikasi pasca operasi plastik. Bayangkan: seorang anak menulis surat dari ibunya untuk dirinya sendiri dan putrinya yang baru lahir. Premisnya saja sudah cukup untuk bikin hati nyesek.

Paul McCartney ikut terlibat di lagu ini dan mengisi suara piano elektrik di sepanjang track. Kalau dipikir-pikir, kolaborasi ini memang terasa aneh banget secara generasi dan genre. Jadi nggak heran juga jika kolaborasi ini ternyata dapat tanggapan yang beragam, mulai dari oujian hingga kebingungan.

Secara struktural, lagu ini sederhana, yaitu harmoni berulang, melodi lambat, dan vokal Kanye yang dibalut autotune khas album 808s & Heartbreak. Efek itu memang artistik, menciptakan kesan suara dari alam lain, tapi justru menjauhkan pendengar dari emosi mentahnya..

Postmodern Jukebox dan Keajaiban Gaya Roy Orbison

Scott Bradlee dan Postmodern Jukebox (PMJ) punya satu formula yang mereka jalankan dengan konsisten: ambil lagu pop modern, lalu bungkus ulang dalam estetika musik era lampau. Hasilnya adalah melodi khas jazz klasik ala bar era klasik yang menghipnotis.

Postmodern Jukebox feat. Emily West
dok: Postmodern Jukebox/YouTube

Untuk “Only One”, mereka memilih gaya Roy Orbison tahun 1960-an. Roy Orbison adalah salah satu penyanyi legendaris dalam sejarah pop Amerika. Rentang nadanya luas, dan ciri khasnya adalah lagu-lagu patah hati dan kehilangan yang penuh kerentanan emosional. Pilihan yang sangat pas dengan tema lagu “Only One.”

Emily West, mantan finalis America’s Got Talent, dipilih sebagai vokalis. Suaranya punya dimensi yang luas dan kuat. Ia bisa menghadirkan nada rendah yang lembut, tapi juga bisa meledak alami di puncak emosi, sehingga jadilah lagu versi “Only One” yang terasa penuh emosi dan nyesek.

Kenapa Versi PMJ Terasa Lebih Mengena?

Ini pertanyaan yang menarik, karena jawabannya nggak sesederhana “aransemen versi klasik lebih bagus.” Dalam versi Kanye, autotune di sepanjang lagu menciptakan jarak emosional, seperti mengamati kesedihan dari dimensi yang lain dan tidak mengalaminya secara langsung. Sementara itu, versi PMJ menghilangkan jarak tersebut.

Vokal Emily tanpa filter digital bergetar tepat di frasa berat, lambat di momen pilu, dan meninggi hingga bulu kuduk merinding. Instrumen akustik seperti biola, cello, dan piano menambahkan kehangatan yang sulit direplikasi synthesizer.

Selain itu, gaya Orbison era 1960-an juga membangkitkan rasa nostalgia yang kuat, bahkan untuk generasi lebih muda yang tidak hidup di era tersebut. Studi Hailstone et al. (2009) di UCL menyebutkan bahwa synthesizer elektronik, secara spesifik, terbukti memperlemah kemampuan pendengar untuk menangkap emosi sedih dalam melodi yang sama. Jadi tidak heran jika versi Kanye memang terdengar kurang nyesek,yang mungkin karena elemen autotune dan synthesizer tersebut.

Kemudian yang nggakkalah penting adalah karena framinglagu yang berubah total. Versi Kanye terikat persona rapper kontroversial dalam konteks hip-hop. Dalam versi PMJ, semua konteks tersebut hilang dan lagu ini terasa seperti lagu balada klasik tentang kehilangan ibu.

Aransemen dan Bias Artis Memengaruhi Emosi

Fenomena ini ternyata memang bukan cuma soal selera karena ada penelitian yang membuktikan hal ini. Studi di Frontiers in Psychology tahun 2025 menguji respons emosional remaja terhadap tiga aransemen berbeda dari lagu yang sama. Penelitian tersebut menemukan bahwa ada perbedaan respons emosional yang sangat signifikan 3 meski melodi dan lirik identik. Aransemen ternyata menjadi “pengantar” emosi yang kuat.

Selain itu, studi Steinhardt & McClaran (2023) yang dipublikasikan di Psychology of Music (2023) menemukan bahwa narasi tentang seorang artis memengaruhi penilaian musik. Ketika pendengar mendapat informasi positif tentang artis, mereka menilai musiknya lebih baik. Sebaliknya ketika artis memiliki reputasi buruk, maka persepsi atau penilaian orang terhadap lagu tersebut jujga buruk.

Jadi bukan soal kamu lebay atau terlalu sensitif ketika mendegar dua versi lagu tersebut. Otak kamu memang sedang dipengaruhi oleh lebih dari sekadar melodi.

kanye west & Paul McCartney
dok: FLOOD Magazine

Bayang-Bayang Kontroversi Kanye West

Susah untuk ngomongin Kanye West tanpa menyebut rentetan kontroversinya. Jadi, sulit juga memisahkan sosok ini dari karir musiknya. Kalau kamu sudah sampai di titik di mana nama Kanye West lebih dulu memunculkan rasa nggak nyaman sebelum rasa ingin dengar, kamu nggak sendirian.

Pertanyaan “bisakah kita memisahkan seni dari senimannya?” sudah lama jadi debat yang nggak kelar-kelar. Tapi penelitian Kaube, Eiserbeck & Abdel Rahman (2023) dari Humboldt-Universität zu Berlin menemukan bahwa ketika menikmati karya seorang seniman dengan reputasi buruk, ternyata secara emosional kita tidak memisahkan keduanya secara spontan. Informasi negatif tentang seniman langsung memengaruhi bagaimana otak memproses karyanya, yaitu dengan lebih cepat, lebih defensif, lebih waspada.

Jadi, ketika kamu mendengarkan “Only One” versi Kanye, meskipun memiliki makna mendalam, ada semacam noise di belakang kepala yang nggakbisa sepenuhnya kita matikan yang datang dari semua kontroversi si Kanye. Sedangkan versi PMJ menghilangkan semua noise tersebut, bukan karena lebih baik, tapi karena tidak ada beban kontroversi di belakangnya.

Jadi, Siapa yang “Menang”?

Pertanyaan yang salah, mungkin.

“Only One” versi Kanye tetap jadi karya yang signifikan sebagai sebuah surat kesedihan yang ditulis oleh seseorang yang kehilangan ibunya terlalu cepat, dengan cara yang bisa dibilang tragis. Jadi kedalaman maknanya sepertinya memang tidak perlu diragukan dan musiknya juga tidak buruk.

Tapi versi Postmodern Jukebox membuktikan sesuatu yang lebih menarik: sebuah lagu adalah lebih dari siapa yang menyanyikannya. Melodi, lirik, dan emosi yang terkandung di dalamnya bisa berdiri sendiri ketika dilepaskan dari beban persona penciptanya.

Sumber:
https://journals.sagepub.com/doi/10.1080/17470210902765957

https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2025.1583665/full

https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/03057356221098781
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9888721/