Kaos V-Neck Kok Bisa Jadi Simbol Cowok Gay Gimana Ceritanya?

Ovan Obing

Bukan isu buruh atau yang berkaitan, di momen-momen dekat May Day kemarin, sebagian netizen dengan teori-teori absurd-nya malah membahas kaos kerah V alias v-neck.

Ya, mungkin kamu sudah tahu kalau orang yang pakai kaos v-neck itu identik sama kaum gay. Tapi pertanyaannya, kok bisa? Sejak kapan potongan leher kaos bisa menandakan orientasi seksual pemakainya? Padahal kayaknya ngga ada hubungan antara bentuk V dengan sifat-sifat ke-gay-an. Atau sebenernya memang ada?

Dimulai dari Era Metroseksual

Fenomena stereotip v-neck = gay ini cukup absurd sekaligus kontroversial. Dimulai sekitar awal 2000-an, ketika dunia fashion cowok sedang mengalami revolusi.

Waktu itu muncul istilah “Metroseksual” buat nyebut cowok straight yang peduli banget sama penampilan, grooming, dan tentunya fashion. Istilah ini pertama kali dikenalkan sama jurnalis Mark Simpson dalam artikelnya di The Independent, 15 November 1994.

Ikon utama metroseksual waktu itu adalah seorang pemain bola bernama David Beckham. Pemain ganteng ini sering disebut figur metroseksual karena penampilannya mewakili. Suka pakai baju rapi, perawatan kulit dan rambut, bahkan pakai cat kuku.

Lambat laun, fashion cowok yang sebelumnya cenderung santai dan maskulin tradisional (ala kadarnya), tiba-tiba jadi lebih “feminin.”

Nah, di era itulah V-neck jadi salah satu item fashion yang identik dengan gaya metroseksual ini. Entah kenapa V-neck juga bakal kelihatan lebih bagus kalau dipakai pria bertubuh atletis yang nggak punya bulu dada atau leher. Otomatis cuma cowok yang gemar nge-gym atau sporty, dan waxing bulu buat menjaga penampilannya-lah yang karakter fisiknya cocok pakai kaos V-neck. Dan effort semacam itu dianggap jadi kebaiasaan metroseksual yang dekat dengan stereotip pria gay.

Tapi, menurut Marks Simpson sendiri, “Cara paling sederhana untuk memahami metroseksual adalah keinginan laki-laki untuk diinginkan.”

Jadi, sebetulnya kecenderungan pria metroseksual itu sebenarnya lebih ke soal ekspresi diri, ingin kelihatan lebih menarik, bukan soal orientasi seksual. Sayangnya, nggak semua orang paham betul sama pengertian ini. Dalam perkembangannya, istilah metroseksual justru dipakai sebagai term yang lebih ramah buat nyebut cowok gay secara halus, biar nggak terkesan homofobik.

Pertengahan tahun 2000-an, brand besar AS, American Apparel, malah bikin produk yang kerahnya V dan rendah banget. Didukung dengan iklan yang menampilkan model-model androgini, nggak jelas gendernya, sehingga stigma V-neck semakin mantap. Di Barat sendiri, pria yang akhirnya terpengaruh tren ini sempat diejek douchebag atau pria yang ‘terlalu effort’ tampil cantik. Stigma inilah yang kemudian diimpor mentah-mentah di Asia Tenggara.

Kontroversi dari Negeri Jiran

Stereotip v-neck mencapai puncaknya pada September 2012 di Malaysia. Waktu itu, ada seminar berjudul “Parenting in addressing the issue of LGBTs” di Penang. Salah satu agendanya adalah menyebarkan panduan tentang “gejala homoseksual” kepada masyarakat luas

Panduan itu sendiri diterbitkan oleh Yayasan Guru Malaysia yang dapat dukungan penuh dari pemerintah. Bahkan sampai diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan waktu itu, Mohd Puad Zarkashi.

Di dalamnya ada cek list lengkap gejala penyuka sesama jenis, baik untuk cowok maupun cewek. Misalnya kalau buat lesbian, salah satu cirinya adalah nggak punya ketertarikan pada pria. Atau kalau buat gay, cirinya suka bawa tas besar yang biasa dipakai cewek, dan pakai baju dengan kerah v.

Tentu saja publik reaksinya beragam, sebagian langsung mengkritik keras. Salah satunya datang dari aktivis dan co-founder organisasi pro-LGBTQs, Seksualiti Merdeka, Pang Khee Teik. Dia bilang, “Saya nggak tahu harus merespons apa. Kementerian Pendidikan cuma ingin mengajarkan kebencian, mempromosikan ketidakadilan, dan bermain politik. Kementerian Pendidikan sekarang sudah resmi jadi perundung,” seperti dikutip dari Malaysia Today (13/9/2012).

Yang paling menarik, seorang pria bernama Adam memulai event di Facebook bernama National Wear V-neck Day. Acara ini mengajak orang-orang pakai kaos V-neck pada 1 Oktober 2012 sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap stereotip. Hampir 3.000 orang menyatakan hadir di event ini, yang kemudian dapat perhatian internasional. Terutama waktu sekelompok organisasi di Filipina, salah satunya Metropolitan Community Church of Metro Baguio, bikin agenda yang sama, International V-neck Day versi mereka.

Efek Domino yang juga Sampai ke Indo

Kementerian Pendidikan Malaysia akhirnya membantah dukungannya ke panduan tersebut. Tapi sayang, damage-nya sudah terlalu besar. Media internasional sudah terlanjur bikin berita soal ini. Nggak berselang lama, narasi itu pun sampai juga di Indonesia. Selain karena tetanggaan, media besar nasional juga ramai memberitakan ulang soal panduan kontroversial Kementerian Pendidikan Malaysia itu di awal 2013.

Menariknya, setelah isunya sempat reda, media Malaysia bikin geger lagi. Februari 2018, koran nasional Malaysia Sinar Harian bikin infografis ragebait yang bahkan lebih detail lagi. Mereka menambahkan ciri-ciri lebih spesifik, seperti gay disebut punya brewok yang khas, mereka suka nge-gym bukan biar sehat, tapi buat cuci mata. Tren ini pun langsung ‘dismash’ oleh kreator Arwind Kumar lewat video satir The Gay Checklist yang viral secara global.

Di videonya, dia bilang “Banyak isu nasional yang lebih penting dibahas. Kalau Anda memang mau memberi edukasi ke publik, mending jelasin ciri-ciri pedofil, pembuli/penganiaya, pembunuh, penculik, orang-orang yang sebenarnya membahayakan hidup orang lain. Coba, gimana seorang gay bisa membahayakan hidupmu?”

Video respons Arwind Kumar itu cukup viral di masanya, dapat 10 ribu views dalam waktu kurang dari 24 jam pertama.

“Aku kenal banyak pendeta, ustaz, aku juga tahu kalau banyak orang-orang religius yang memelihara jenggot. Apa Anda mau bilang mereka gay? Itulah kenapa hal ini sangat bodoh,” katanya.

Sementara itu, stereotip v-neck juga tumbuh subur di Indonesia. Masyarakat kita saat itu–sampai sekarang–masih asing, bahkan alergi dengan konsep ekspresi gender. Narasi kerah v sama dengan gay dianggap sebagai ‘fakta’ baru, tanpa perlu sama sekali membuktikannya secara ilmiah. Masyarakat masih banyak yang serampangan menilai seseorang cuma lewat baju yang dia pakai. Nggak heran kalau netizen seramai itu membahas kerah V di momen May Day kemarin.

Leave a Comment

Leave a Reply