in

Memantau dari Jauh Duel Bebas Manual Brew di Kite Coffee & Roastery

Para juri lagi nyicipin kopi hasil Duel Bebas Manual Brew di Kite Coffee & Roastery.(dok. Kite Coffee & Roastery)
Para juri lagi nyicipin kopi hasil Duel Bebas Manual Brew di Kite Coffee & Roastery.(dok. Kite Coffee & Roastery)

Pada suatu sore hari, tepatnya tanggal 27 Desember 2023, Hipmin lagi melamun sendirian di ruang kerja. Padahal waktu itu situasinya cukup hectic.

Di luar pun hujan, meningkatkan kedalaman lamunan sampai nggak sadar kalau ada yang kelupaan. Oh iya, beberapa waktu lalu kita ada janji, mau meliput acara kompetisi, di sebuah kedai kopi, yang lokasinya di daerah Sawojajar, Kota Malang tercinta ini.

Di sisi lain, salah satu partner Hipmin yang doyan keliling, menjalin rekanan dengan teman-teman yang lain, sedang runtuh imun tubuhnya. Rencananya dia yang datang ke acara. Tapi karena sakit, terpaksa Hipmin cari penggantinya. Siapa? Nggak ada.

Alhasil, Hipmin cari alternatif solusi. Partner Hip yang tadi mengusulkan buat wawancara via udara. Ada juga opsi mendelegasikan kepada Partner Hip #2 atau lainnya. Namun sayangnya, situasi masing-masing membuat semuanya mustahil.

Semua masalah pasti ada solusinya. Datangnya barengan. Jadi, karena Hipmin sok tahu sekaligus gemar cari-cari cara, akhirnya tetap bisa bikin laporan acara, meskipun nggak bisa hadir langsung ke venue.

Sebenarnya Acaranya Gimana?

Sebelum gimana-gimana, Hipmin perlu ngasih tahu kalau judul asli event ini adalah Duel Bebas Manual Brew. Gelarannya merupakan persembahan dari Kite Coffee & Roastery yang kerja bareng Event Organizer for Coffee Enthusiast (EOCE).

Acara ini buat memeriahkan ulang tahun Kite Coffee & Roastery yang ke-3 tahun, tepatnya di tanggal 26 Desember 2023.

Jadi, sekalian berbahagia di hari kelahiran, mereka mau bagi-bagi rezeki buat para brewers yang lagi pengen sesuatu yang challenging.

Mereka buka slot buat 32 kompetitor. Banyak juga ternyata yang minat. H-6 acara Hipmin dikabari kalau slot pendaftaran sudah penuh.

Yang dilombakan ya tentu saja penyajian kopi secara manual tanpa pakai mesin. Karena judulnya Duel Bebas, Kite Coffee nggak ngasih syarat yang ribet-ribet.

Alat seduhnya bebas, air bebas bawa sendiri, sampai server, scale, grindernya bebas terserah maunya peserta. Cuma beans-nya aja yang wajib pakai Kite Coffee punya. Fyi, all beans buat kompetisi ini khusus diatangkan dari luar negeri!

Peserta tanding duel untuk membuat sajian kopi terbaik. Ada tiga dewan juri yang menilai: Amirudin Arief, yang habis dapat juara 2 Indonesia Aeropress Championship 2023; Olid, barista di Mukrimah; dan mas owner Kite Coffee & Roastery, Ega Yamawidura.

Hipmin lihat-lihat dari cerita Instagram orang-orang yang di-repost akun Kite Coffee, acaranya rame dari sore sampai malam. Ikut senang meski nggak bisa ikut datang:(

Setelah berselancar di Instagram dan bertanya ke kolega-kolega, akhirnya Hipmin dapat kontak mas Ega Yamawidura.

Kata Yama, acara ini tujuannya buat mencari bibit-bibit muda barista, di Malang Raya terutama. Sekaligus juga simbolisasi tutup tahun 2023, atau bahasa kerennya closingan.

Topik ‘manual brew’ diambil soalnya Yama dkk pengen banyak orang lebih mengeksplore teknik tersebut.

Katanya, bahkan peserta yang ikut kemarin nggak semuanya dari coffee shop. Banyak juga yang home brewer. Dan nggak cuma dari Malang. “Ada Jombang, Blitar, Probolinggo, ada Lumajang juga. Dari Blitar kemarin ngirim lima, yang masuk semi final ada dua,” cerita Yama saat di-chat Hipmin.

Yang berhasil meraih juara satu adalah peserta dari Malang, juara dua dari Blitar tapi beliaunya kerja di Sidoarjo, juara tiga empat dari Jombang dan Blitar.

Setelah acara ini, Yama punya jalan terbuka buat lebih menjalin solidaritas perkopian di Jawa Timur. Yama dan EOCE juga rencananya bakal lebih sering bikin kompetisi-kompetisi kopi semacam ini.

Kite Coffee & Roastery

Kite Coffee & Roastery itu nama kedai kopi yang terletak di Jl. Sugriwo, Sawojajar, Kota Malang, dekat Lapangan Kotak. Dunia lagi covid-covid-nya, pada tahun 2020 Ega Yamawidura malah nekat bikin kedai kopi.

Tapi nyatanya, ketekunan Yama membuahkan hasil oke, karena sampai sekarang coffee shop miliknya selalu ramai pengunjung.

Itu karena faktor pendukungnya cukup banyak. Pertama, konsep bangunannya yang industrial tetapi homie.

Interior yang kesannya “belum rampung” biasanya cukup intimidatif buat sebagian orang. Namun di Kite Coffee, tidak demikian. Bangunan tiga lantai itu lumayan membuat banyak orang kerasan.

Oh iya, katanya, nama ‘Kite’ itu diambil dari Bahasa Inggrisnya layangan. Soalnya, di Lapangan Kotak depan kedai ini sering jadi pusat main layangan.

Di lantai satu mereka punya indoor area yang ada working space-nya. Lantai dua dan tiga dibuat semi outdoor biar bisa buat nongkrong santai sejuk semriwing sambil lihat pemandangan anak-anak layangan.

Kite Coffee punya macam-macam sajian minuman mulai dari espresso based, non-coffee, artisan tea, manual brew, signature, sampai mocktail.

Snack sampai makanan berat juga ada dan kelihatannya menarik semua. Ada pasta, aneka nasi goreng, sampai seblak. Harga semua menunya menurut Hipmin juga affordable untuk muda-mudi zaman sekarang.

Soal kualitas, Yama nggak mau yang biasa-biasa aja. Proses pengolahan biji kopinya dia kawal mulai dari petani sampai benar-benar tersaji di meja pembeli. Dahlah cobain aja sendiri.