Epilog Semeru Art & Mukadimah Artmeru, Karya Terbaik di Sini Adalah Perubahannya

Ovan Obing
dari semeru art gallery & warung 14, ke artmeru

Sepuluh tahun adalah waktu yang lama, apalagi 11 atau 12. Pasti banyak peristiwa, keinginan, ide yang lahir.

Ada yang tumbuh lalu berkembang maju. Atau sebaliknya, runtuh dan pudar, diganti kenyataan yang baru.

Mungkin ringkasan itulah yang cocok menggambarkan ruang di Jalan Semeru No. 12, Malang. Tempat saya pernah menginap berhari-hari pada bulan pertama berdirinya. Sesekali urun tenaga, atau ‘njagong’ tanpa tujuan spesifik, dan nolak dengan kikuk pas ditawari jadi admin, “Aku mek dolen, kok, ndek kene,” yang kalau itu bentuknya balon chat, akan ada tambahan emoji telapak tangan menyatu setelah kata terakhir.

Momen-momen itu terjadi sekitar tahun 2014, waktu Semeru Art Gallery pertama kali berdiri di sebuah bangunan pertokoan lama di bilangan Rajabally, Kota Malang. Konsepnya mirip spacemaking ala M-Bloc dkk, tapi skalanya kecil.

Waktu itu rasanya simpel saja. Awalnya ada pelukis yang cari studio buat dirinya pribadi, kebetulan berjodoh dengan tempat yang luasnya berkali-kali lipat daripada kebutuhannya. Maka diajaklah kawan-kawan dia untuk ikut memanfaatkan, apa saja yang bisa menghidupi.

Singkatnya, studio berkembang jadi ruang kesenian alternatif. Operasional ruangan didukung oleh warung kopi dan makanan. Keduanya jalan dan saling mendukung. Galeri bawa pelanggan. Profit warung memperlancar operasional ruangan.

Semangat yang dibawa adalah, kalau orang-orang sekarang nyebutnya, inklusif. “Every art, can go inside,” kata salah satu aktivator ruang alternatif ini.

Nyaris semua jenis kesenian bisa masuk, bahkan yang bukan kesenian sekalipun. Tanpa syarat muluk. Semua diterima, asalkan “Nggak ngi*sing ndek nduwur mejo,” kelakar si pelukis yang inisiator waktu itu.

Cuma memang, akhirnya kebijakan itu butuh kebijaksanaan juga. Menyesuaikan kondisi lapangan.

Geser ke Sebelah

Pas lagi semangat-semangatnya, Semeru Art Gallery dan warungnya justru dapat ujian pertama di tahun berikutnya. Sebabnya klasik, semata-mata faktor keperluan ekonomi si pemilik bangunan. Konsekuensi yang kerasa nggak adil buat yang sejak awal geraknya bukan semata cari profit.

Tapi apa boleh buat.

Untungnya, tepat di sebelah bangunan Jl. Semeru No. 14 itu, ada bangunan hampir sama yang juga nggak difungsikan. Ini kemudian disewa. Tempatnya lebih luas, pindahan pun nggak makan waktu lama.

Kalau tempat sebelumnya sudah cukup ramai karena berbagai aktivitas, baik kesenian maupun bukan, ruang baru di alamat Jl. Semeru No. 12 nggak berkurang sibuknya, bahkan lebih sibuk. Salah satu alasan, soalnya ada beberapa spot yang bisa dimanfaatkan buat apa saja.

Lantai bawah lebih lapang dan bersekat-sekat, sehingga kebutuhan studio lukis tetap bisa terakomodasi, bahkan lebih dari satu petak. Sementara sentra aktivitas publik juga lebih banyak.

Di atas, meja-kursi terpaksa ditambah karena sekarang warung punya space lebih lebar dan variatif, pun dengan rooftop-nya. Itupun masih ada “ruang privat” yang biasanya cuma diakses internal dan inner-circle penggerak operasional, baik lingkaran Warung 14 maupun galeri.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kuliner & Traveling (@areknyobak)

Raw Vibe yang Khas

Kalau kamu pernah berkunjung ke studio atau sekretariat kolektif seni rupa, pasti nggak akan kaget dengan suasana Semeru Art dan warungnya. Dindingnya ramai dengan mural warna-warni yang mustahil bisa dicerna dalam sekali pandang. Bukan sengaja milih estetika yang demikian. Tapi itu konsekuensi jujur dari pembentukan ruang alternatif yang modalnya berbagai dukungan yang rata-rata bentuknya non-finansial. Iya, memang ada satu-dua orang yang mengucurkan dananya di sini. Tapi, saya berani taruhan kalau tujuan investasi itu bukan untuk numpuk kekayaan.

Dengan tampilan raw dan semangat semampunya itu, Semeru Art bisa narik berbagai aktivitas dari berbagai kalangan. Orang-orang nggak ragu dengan suasananya.

Mural bisa ganti kapan saja, se-mood-nya si seniman, baik pas ada aktivasi maupun buat pelepas gabut belaka. Kadang ada gigs musik independen, seniman tradisional atau kontemporer, lucu-lucuan, sampai eksperimental. Juga banyak variasi pameran dan eksibisi, lukisan, fotografi, zine, performance art. Aneka workshop dan forum diskusi, dari akademis, kesenian, sampai filsafat.

Dan yang nggak kalah penting, Warung 14 juga jadi tempat istirahat langganan para budak korporat, mulai karyawan hotel sampai wartawan. Juru parkir dan penjual rokok yang warga kampung setempat pun jadi sahabat. Belum lagi teman-teman sejawat para personel yang rutin kumpul, menjadikannya third-space di luar rutinitas.

Pada akhirnya, nggak sedikit inisiatif kreatif yang berawal di sini, lalu berkembang sampai jadi komunitas yang langgeng sampai sekarang.

Berdampingan dengan HoutenHand

Sementara itu, masih di satu kawasan, ada tempat bernama HoutenHand yang lebih dulu eksis. Pub ini nyambi jadi venue musik, bahkan jadi jujugan langganan musisi luar kota dari berbagai latar. Modus operandinya hampir sama, inklusif, organik, dan non-pretensius.

Sengaja saya ngutip the Display di ulasan terakhirnya mengenang closing party spot yang satu ini.

“HoutenHand adalah salah satu tempat band-band lokal pertama kali mencicip panggung. Gitar yang tuning-nya kurang sempurna, lirik yang lupa di tengah lagu, dan aneka kebisingan lainnya, semuanya adalah bagian dari performa magang mereka sebelum ke pertunjukan yang lebih besar.”

Dengan jarak yang cuma sekitar 100 meter, Semeru Art dan HoutenHand jadi semacam poros subkultur yang eksis di pusat Kota Malang pertengahan 2010-an. Kalau Semeru Art berani melebur kejujuran estetika visual dan dialog, HoutenHand berani eksplorasi bermacam bunyi dengan jujur, sekalipun yang terdengar cuma berisiknya.

Keduanya sama-sama raw, juga sama-sama terbuka buat ekspresi “bebas” dengan penghakiman realtime yang langsung tuntas pasca-aktivasi. Semacam kawan akrab yang bersitegang, menyelesaikan masalah dengan adu jotos sampai sama-sama bonyok, lalu berteman lagi kayak biasanya.

Anak-anak yang baru selesai check sound atau keringatan pasca-main di Houten, biasanya geser ke Semeru buat ngopi atau makan. Kadang milih naik ke rooftop buat cari udara segar. Sebaliknya, anak-anak nongkrong Semeru yang tahu kalau di Houten ada gigs selepas magrib, biasanya bakal cepat-cepat menyeruput habis kopinya biar nggak ketinggalan keseruan moshpit.

Hal-hal kayak gitu terjadi tanpa skenario, organik karena tertarik satu sama lain. Seru dan relatif sehat, meskipun beberapa lama kemudian semesta mulai nggak mendukung.

In Memoriam: Sekelumit Cerita di Balik Tutupnya Houtenhand

Perubahan Silih Berganti

HoutenHand yang lahir tahun 2012 harus gulung tikar duluan setelah tujuh tahun beroperasi. Momen di 2019 itu jadi sinyal pertama. Anak-anak skena Malang kehilangan salah satu poros aktivitas utamanya.

Sementara Semeru Art sendiri masih berdiri, bahkan bertahan di masa-masa kritis pandemi, meski agak babak belur juga.

Pada waktu yang sama, di skala lebih makro, ada kepentingan yang lebih besar. Otoritas setempat mulai menjalankan proyek tata kota mereka. Penataan ulang Kawasan Kayutangan mulai jalan. Wujud perubahan proyek heritage itu mulai kelihatan jelas selepas pandemi. Perlahan tapi pasti lanskap kawasan berubah, tren sosial di sekitarnya juga mengikuti, dan yang pasti harga tanah dan properti jadi naik.

Rangkaian domino di Semeru pun dimulai. Satu per satu penghuni lantai bawah yang jadi fondasi awal, mulai “keluar” karena dinamika hidup masing-masing.

Kosongnya lantai bawah itu kemudian diisi oleh Toko Meru sekitar 2023. Craft shop ini jelas ngasih angin segar, tapi sekaligus jadi tanda awal perubahan visual.

Semeru Art di tahun-tahun ini jadi sebuah bangunan yang setiap tingkatnya punya tampilan kontras. Lantai satunya rapi, terkurasi ketat, dan punya selera estetika yang beda jauh sama suasana di lantai dua.

Pergeserannya makin mutlak pas Warung Semeru 14 akhirnya resmi berhenti beroperasi, yang otomatis sekaligus jadi momen tamatnya kiprah Semeru Art Gallery. Warung tetap buka, tapi pindah lokasi, nggak lagi di jantung kota.

Mukadimah, Awal Keberlanjutan

Menjelang tutupnya Warung Semeru 14, kabarnya ada pihak yang mau akuisisi ruangan itu. Nggak lama setelah warung tutup, ternyata pihak yang dimaksud adalah manajemen yang juga mengelola Toko Meru.

Kalau sebelumnya cuma lantai bawah, sekarang termasuk lantai atas dan rooftop-nya. Ruangan kedua ini menjalankan aktivitas yang berbeda dengan yang di bawahnya, diberi titel Artmeru.

Skenario baru ini terlihat penuh. Artmeru kemudian merilis aktivasi pertamanya pada Juni 2026, sebuah pameran seni rupa berjudul “Mukadimah: Menandai Titik Mula”.

Pameran diikuti 22 seniman lintas generasi. Jadi penanda resmi eksistensi Artmeru sebagai inisiatif kesenian yang baru di kota.

Waktu pertama kali datang ke sana di momen preview, saya gagal fokus pada karya-karya yang dipajang. Mata saya malah sibuk menelusuri sudut-sudut ruangan. Dinding yang dulunya ditumpuki mural spontan, sekarang bersih dilapisi cat putih resik. Spot nongkrong yang dulu jadi lokasi andalan, kini sudah terpoles rapi dan terstruktur. Warung kopi yang dulu ngasih kebebasan saya buat meracik sendiri, dan bikin sungkan, sekarang bahkan sukses bikin saya gentar untuk melangkah masuk saja.

Semua proses perubahan itu terjadinya memang bertahap, tapi hasilnya sangat beda. Spontanitas raw ganti total jadi galeri yang khas pendekatan profesional, dengan tampilan yang lebih banyak white-space-nya.

Tapi ya nggak apa-apa. Saya juga nggak mau naif karena asyik bernostalgia.

Kota Malang sekarang nggak lagi sama dengan tahun 2014. Kayutangan balik lagi jadi ikon gaya hidup yang begitu populer. Kalau Bioskop Merdeka dan mbah Arifin saja sebegitu gampangnya orang lupa, apalagi Semeru Art dan HoutenHand yang segmented itu.

Jadi, waktu manajemen baru mengambil alih dan menyulap-mengembangkan Artmeru, saya milih untuk nggak melihatnya sebagai usaha mengganti sejarah. Beda spesifik dengan insiden timpa mural yang sempat hangat Agustus kemarin.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by ARTMERU (@_artmeru)

Seni adalah Mereka

Memang, ada bagian yang hilang dari sejarah di bangunan Jalan Semeru no. 12. Tapi, gagasan yang dibawa oleh manajemen yang baru juga masih sama, ngasih opsi alternatif di tengah ekosistem kreatif di kota ini.

Gayanya memang berubah, tapi baik pengelola lama maupun baru, semuanya masih sama-sama bersemangat kolektif-kolaboratif. Kalau dulu SAG dikenal spontan, maka Artmeru milih pendekatan lebih terstruktur, dan mungkin memang butuh yang kayak gini biar profesional dan umurnya lebih panjang.

Tanpa mengesampingkan seluruh karya yang pernah-dan masih-disuguhkan di sana. Transformasi ini sendiri, menurut saya, justru adalah “karya seni” paling menarik yang ada di tempat itu. Yang merekam tumbuhnya lokasi, gimana dia beroperasi sambil berdarah-darah, terbentur realita ekonomi kota, terus lahir lagi dalam wujud yang beda sama sekali.

Dan karya seni itu dibuat oleh semua orang yang pernah merawat tempat itu. Mulai dari yang berani mengambil risiko pertama tanpa jaminan apa-apa. Lalu yang pernah menghidupinya, yang ikut meramaikannya. Atau yang kemudian milih stop dan pindah biar yang lain bisa lanjutkan dengan cara mereka. Runtut ke wajah baru yang datang dengan sumber daya dan visi berbeda. Semuanya boleh disebut pemilik karya transformasi ini, bagian dari karya seni yang sama.

Kenangan soal kopi murah, obrolan 18+ tanpa pretensi, berisik musik yang ‘mengganggu’ pengendara lewat, dan riuh spontanitas di bawah naungan Semeru Art Gallery akan selalu tersimpan utuh di ingatan. Kalaupun sekarang nggak kelihatan bekasnya, nggak apa-apa, saat ini giliran Artmeru yang meramai-kembangkan dengan caranya sendiri.

Pameran Mukadimah jadi penanda awal bagi langkah Artmeru. Sementara bagi saya —dan mungkin kawan-kawan lama yang dulu pernah “bermarkas” di lokasi pameran itu—acara ini adalah monumen penutup yang manis. Karena itu, saya nggak punya alasan untuk nggak mendoakan yang terbaik buat keberlanjutan ini.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan