{"id":8178,"date":"2024-08-18T18:38:58","date_gmt":"2024-08-18T11:38:58","guid":{"rendered":"https:\/\/hipkultur.com\/?p=8178"},"modified":"2024-08-22T20:39:10","modified_gmt":"2024-08-22T13:39:10","slug":"perjalanan-musik-dan-hidup-ryuichi-sakamoto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/perjalanan-musik-dan-hidup-ryuichi-sakamoto\/","title":{"rendered":"Ryuichi Sakamoto: Hidup Bersama Musik, Berkarya sampai Penghujung Usia"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau ditanya apa tujuan hidupmu yang sebenarnya, kamu akan jawab apa?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin nggak semua sudah tahu jawabannya. Ada juga, yang memang sudah tahu, dan berpegang teguh mencapai tujuan itu sampai akhir hayat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penggambarannya sedikit banyak ada di sosok mendiang Ryuichi Sakamoto.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kamu belum pernah dengar namanya, dia adalah komposer asal Jepang yang punya pengaruh besar di sejarah musik modern. Banyak juga yang menyebutnya sebagai pelopor genre musik elektronik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sakamoto memakai musik sebagai medium untuk memperjuangkan kelestarian alam dan menggugah kesadaran terhadap isu-isu sosial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak terjun ke dunia musik, Sakamoto memang tertarik dengan macam-macam genre, dari klasik hingga avant-garde.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama Yellow Magic Orchestra (<a href=\"https:\/\/www.japantimes.co.jp\/culture\/2023\/04\/05\/music\/ryuichi-sakamoto-legacy\/\">YMO<\/a>), karyanya mulai mempengaruhi banyak musisi di seluruh dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kamu pasti familiar jika mendengar karya solonya yang terkenal begitu indah juga emosional: <em>Merry Christmas, Mr. Lawrence<\/em> dan <em>The Last Emperor<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Ryuichi Sakamoto - Merry Christmas, Mr. Lawrence\" width=\"1240\" height=\"698\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/LGs_vGt0MY8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sakamoto nggak cukup puas jadi musisi. Ia juga dikenal sebagai aktivis lingkungan, terutama setelah bencana <a href=\"https:\/\/www.dw.com\/id\/jepang-peringati-satu-dekade-bencana-nuklir-fukushima\/a-56832983\">nuklir Fukushima<\/a> tahun 2011.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia selalu gigih mengkampanyekan pentingnya energi terbarukan dan mengajak banyak orang lebih peduli terhadap kondisi bumi. Contohnya lewat proyek-proyek seperti <em>Kizuna World<\/em> dan <em>Forest Symphony<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sifat rebel Sakamoto mulai muncul sejak kecil. Di sebuah wawancara dengan Financial Times (2018), Sakamoto cerita kalau dia punya jawaban berbeda saat diminta nulis cita-cita. \u201cSaya yakin, saya nggak mau tergabung dalam sesuatu. Saya cuma ingin jadi individu,\u201d kurang lebih itu yang selalu dia sebutkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahir di Tokyo, 17 Januari 1952, Sakamoto dibesarkan di lingkungan yang kental akan pemahaman budaya dan politik radikal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mulai usia (sekitar) tiga tahun, Sakamoto sudah belajar main piano. Menuju remaja, Ibunya sering membawanya ke konser-konser komposer John Cage dan Karlheinz Stockhausen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selera musiknya semakin berkembang. Sakamoto kuliah di Tokyo University of the Arts dan lulus tahun 1976 dengan gelar master komposisi musik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertengahan tahun 70-an, Sakamoto mulai dapat job main keyboard dan arranger. Dia juga aktif di kancah jazz bebas Tokyo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun 1976, publik mulai mengenal Sakamoto lewat performnya dengan Synthesizer (waktu itu Synthesizer belum dikenal secara <em>mainstream<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun itu juga, Sakamoto kolaborasi dengan pemain perkusi Toshiyuki Tsuchitori merilis album studio pertamanya, \u201cDisappointment-Hateruma\u201d. Di album itu, kelihatan sekali kecenderungan musik eksperimentalnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua tahun kemudian, 1978, Sakamoto diajak koleganya, Haruomi Hosono, membentuk Yellow Magic Orchestra (YMO). Proyek pertama mereka mengaransemen <em>Firecracker<\/em> Martin Denny menjadi disko elektrik chunky pakai synthesizer. Hanya butuh waktu beberapa bulan, album pertama mereka \u201cParaiso\u201d, langsung meledak.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.japantimes.co.jp\/uploads\/imported_images\/uploads\/2018\/11\/p10-nunez-ymo-a-20181122.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Yellow Magic Orchestra. (KYODO via The Japan Times)<br><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tahun itu juga, Sakamoto punya kesempatan merilis debut album solo pertamanya, \u201cThousand Knives of Ryuichi Sakamoto.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nama Sakamoto dan YMO semakin mendulang sukses di Jepang. Tahun 1980, YMO sudah merilis tiga album. Tapi, Sakamoto\u2014yang tidak bisa diam ini\u2014merasa dirinya perlu mencari gebrakan lain. Dia lalu terbang ke Inggris dan rekaman album elektronik surealis \u201cB-2 Unit\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kolab sama pemain bass dub-reggae dan produser Dennis Bovell, Sakamoto menciptakan lagu berjudul <em>Riot in Lagos. <\/em>Dia juga mengajak Andy Partridge dari XTC\u2014yang waktu itu lagi menduduki puncak tangga lagu Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lagu-lagu di \u201cB-2 Unit\u201d ini kedengaran sangat modern. Mungkin kalau sekarang kamu dengarkan lagi, rasanya sulit dipercaya kalau album itu dibuat 44 tahun yang lalu.<\/p>\n\n\n\n<iframe style=\"border-radius:12px\" src=\"https:\/\/open.spotify.com\/embed\/album\/7mcQUJ1DvUqk4F7sGSOZVU?utm_source=generator\" width=\"100%\" height=\"152\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"\" allow=\"autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture\" loading=\"lazy\"><\/iframe>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Layar Kaca \u2013 Layar Lebar<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahu 1982, Sakamoto menikah dengan pianis virtuoso dan penulis lagu Akiko Yano. Saat itu mereka jadi pasangan selebritis yang disorot publik internasional. Sakamoto juga mulai dapat job iklan televisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun 1983, Sakamoto dapat tawaran menjadi aktor dan komposer di film \u201cMerry Christmas, Mr. Lawrence,\u201d. Tentu saja dia nggak mau menyia-nyiakannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sakamoto dapat peran sebagai Kapten Yonoi, komandan Jepang yang ditugasi mengawasi tahanan perang Inggris yang diperankan oleh David Bowie.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/s3.us-east-1.amazonaws.com\/bomb-images\/_hiresolution\/BOMB114_16_krute1.jpg\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">David Bowie dan Ryuichi Sakamoto di&nbsp;<em>Merry Christmas Mr. Lawrence<\/em>.&nbsp;(Criterion Collection)<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sutradara film itu, Nagisa \u014cshima, membebaskan Sakamoto menuliskan sountrack-nya. Insting beliau sangat tepat, lagu <em>Merry Christmas, Mr. Lawrence<\/em> karya Sakamoto jadi karya paling dikenal di sepanjang karirnya. Setara dengan <em>Hey Jude\u00ad<\/em>-nya The Beatles atau <em>Landslide<\/em>-nya Fleetwood Mac.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">YMO bubar tahun 1984. Tapi Sakamoto sudah siap menjadi <em>jet-setter<\/em> internasional. Kolaborasi dengan banyak tokoh di Hollywood, termasuk Bernardo Bertolucci, Charlie Brooker, dan Alejandro Gonz\u00e1lez I\u00f1\u00e1rritu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fotografer Elizabeth Lennard membuatkan film dokumenter berdurasi satu jam tentang Sakamoto berjudul \u201cTokyo Melody,\u201d yang ditayangkan di TV nasional Prancis. Dengan riasan mata metalik dan setelan jas, di film itu Sakamoto berbicara tentang bagaimana waktu yang tidak lagi linear bagi para komposer. Juga dominasi Jepang di antara negara-negara kapitalis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dunia makin melirik Sakamoto setelah dia ikut berakting dan menuliskan sountrack <em>The Last Emperor <\/em>(1987). Sakamoto membawa pulang Grammy, Golden Globe, dan Academy Award Atas karyanya itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right wp-block-paragraph\"><strong><em>*pencet next<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/images.ctfassets.net\/3m6gg2lxde82\/4Z5TXm6IsujuWbnf69Nxfv\/ae28f949e7e782f3ea270cf1dd2c8341\/GettyImages-797668.jpg?w=1200&amp;fm=webp&amp;q=80\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ryuichi Sakamoto, David Byrne dan Cong Su backstage di 60th Academy Awards.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia cukup sering dapat job menulis <em>soundtrack<\/em> film, termasuk yang disutradarai Bertolucci (<em>The Sheltering Sky<\/em>), Pedro Almodovar (<em>High Heels<\/em>), Jun Ichikawa (<em>Tony Takitani<\/em>), dan Alejandro G. Inarritu (<em>The Revenant<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sakamoto lalu pindah ke New York di tahun 1990. Menetapkan diri sebagai seleb Jepang yang sukses <em>Go International<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sakamoto dan Gerakan Anti-nuklir<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hidup di negeri orang, tidak membuatnya bersikap cuek dengan tanah kelahiran. Meskipun mengancam prospek komersialnya di Jepang, Ryuichi Sakamoto selalu lantang melawan kebijakan pemerintah yang berpotensi mencemari lingkungan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satunya dengan meluncurkan kampanye <a href=\"http:\/\/stop-rokkasho.org\/\">Stop Rokkasho<\/a> pada tahun 2006 untuk memprotes pembukaan pabrik pengolahan ulang nuklir di desa Rokkasho, Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kampanye tersebut dibawa ke jenjang internasional lewat lagu karyanya berjudul <em>Rokkasho.<\/em> Bersama rapper Shing02 dan gitaris\/produser Christian Fennesz, di bawah nama grup Team 6.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lagu vokal dan instrumentalnya tersedia di bawah lisensi Creative Commons NonCommercial Sampling Plus. Jadi orang-orang bebas me-remix, men-sampling, dan mengubah lagu tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun 2007, Ryuichi Sakamoto mendirikan kelompok konservasi hutan More Trees (gerakan terakhirnya menulis surat buat Gubernur Tokyo Yuriko Koike, Februari 2023, memprotes rencana penebangan ratusan pohon di area Jingu Gaien sebagai bagian dari proyek pengembangan besar).<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.more-trees.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/ec6edd157dfc815fb12acbfc5b002457.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Foto: more-trees.org<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2009, dia merilis album \u201cOut of Noise\u201d, berisikan rekaman suara-suara alam yang diambil selama perjalanan ke Greenland untuk memeriksa dampak <a href=\"https:\/\/hipkultur.com\/en\/greta-thunberg-aktivis-gen-z-yang-gesit-protes-bab-perubahan-iklim\/\">perubahan iklim<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah insiden kebocoran nuklir Fukushima tahun 2011, Sakamoto semakin gencar memimpin gerakan anti-nuklir, bersama peraih Nobel Kenzaburo Oe. Sakamoto ikut mendirikan Tohoku Youth Orchestra, beranggotakan anak-anak korban bencana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Juni 2014, Sakamoto didiagnosa menderita kanker tenggorokan stadium III. Tapi itu tidak membuatnya patah semangat dan stop berkarya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun 2017, setelah menjalani perawatan kanker, Sakamoto merilis album \u201casync\u201d. Album itu sengaja dibuat <a href=\"https:\/\/www.newyorker.com\/culture\/culture-desk\/the-beautiful-unpredictable-life-of-ryuichi-sakamoto\">untuk dirinya sendiri<\/a>, bukan untuk label, klien, atau soundtrack film. Karya fenomenal itu menjadi salah satu subjek film karya Stephen Nomura Schible tahun 2018, &#8220;Ryuichi Sakamoto: Coda&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<iframe style=\"border-radius:12px\" src=\"https:\/\/open.spotify.com\/embed\/track\/6iJPqBW3vRze0trMHEvXqY?utm_source=generator&#038;theme=0\" width=\"100%\" height=\"152\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"\" allow=\"autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture\" loading=\"lazy\"><\/iframe>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Momen yang cukup berkesan di film itu adalah saat Sakamoto berdiri di taman dengan ember plastik di kepalanya, mendengarkan suara hujan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kanker kembali menyerang Sakamoto di tahun 2020. Dia sempat menuliskan perjalanan karirnya di jurnal sastra Shincho dan bersumpah akan hidup dengan musik sampai akhir hayatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ryuichi Sakamotomeninggal dunia pada 28 Maret 2023, di usianya ke 71 tahun. Tapi karya-karyanya abadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Musiknya tidak hanya indah didengar, tetapi menjadi medium yang menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan sosial.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau ditanya apa tujuan hidupmu yang sebenarnya, kamu akan jawab apa? Mungkin nggak semua sudah tahu jawabannya. Ada juga, yang memang sudah tahu, dan berpegang teguh mencapai tujuan itu sampai akhir hayat. Penggambarannya sedikit banyak ada di sosok mendiang Ryuichi Sakamoto. Kalau kamu belum pernah dengar namanya, dia adalah komposer asal Jepang yang punya pengaruh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":8180,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[217],"tags":[615,639,902],"class_list":["post-8178","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-profil","tag-musik","tag-profil","tag-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8178","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8178"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8178\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8180"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}