{"id":13004,"date":"2026-10-20T07:22:59","date_gmt":"2026-10-20T00:22:59","guid":{"rendered":"https:\/\/hipkultur.com\/?p=13004"},"modified":"2026-10-21T14:59:24","modified_gmt":"2026-10-21T07:59:24","slug":"syarat-agar-sesuatu-pantas-disebut-overrated-atau-underrated","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/syarat-agar-sesuatu-pantas-disebut-overrated-atau-underrated\/","title":{"rendered":"5 Syarat Sebelum Nempel Cap Overrated atau Underrated"},"content":{"rendered":"<p>Nyebut sesuatu <em>overrated<\/em> atau <em>underrated<\/em> adalah jalan pintas favorit banyak orang. Cukup satu kata, dan kita bisa langsung kelihatan punya selera yang unik dan beda, sekaligus punya musuh mendadak. Modalnya murah, risikonya rendah, paling cuma dicap elitis, nggak sampai diminta klarifikasi dan <a href=\"https:\/\/hipkultur.com\/en\/isu-timpa-menimpa-mural-di-malang-teks-umur-10-tahun-hilang-dalam-semalam\/\">minta maaf ke publik<\/a>. Setelah kata itu keluar, nanti biasanya berakhir dengan skenario yang sama. Disetujui, ditolak, atau didebat oleh khalayak yang ke-<em>trigger<\/em>.<\/p>\n<p>Ngasih vonis <em>overrated-underrated<\/em> itu terlalu gampang. Sayangnya jarang sekali yang sekalian membeberkan dasar klaim itu, apalagi secara komprehensif. Siapa yang ditaruh di atas atau bawah, apa pembandingnya, dan pakai timbangan yang mana? Opini yang punya bobot analisis seberat itu jarang banget kelihatan, entah karena malas atau memang nggak kepikiran.<\/p>\n<p>Jadi, mending sebelum bikin label, dipikir dulu biar nggak jadi angin lalu, apalagi sekadar luapan emosi sesaat. Di sini, saya cuma mau urun rembug soal syarat yang mungkin bisa jadi acuan sebelum nempel cap <em>overrated-underrated<\/em> ke sesuatu. Sekali lagi ini hanya acuan, jadi jangan dianggap hukum mutlak. Dan harap mafhum juga bahwa kalaupun pendapatmu bisa lolos di lima syarat ini, nggak otomatis dia jadi kebenaran tunggal. Setidaknya kamu punya klaim yang bisa diuji dan dibantah pakai data. Begini&#8230;<\/p>\n<h2>1. Apa yang kamu bilang overrated dan sepopuler apa?<\/h2>\n<p>Klaim <em>overrated<\/em> bisa nyasar ke dua hal berbeda. Apakah itu karyanya atau keriuhan di sekelilingnya? &#8220;Musiknya jelek tapi kok populer banget&#8221; itu bukan satu tapi dua klaim yang butuh dua bukti berbeda. Posisi diksi &#8220;tapi kok&#8221; itulah yang bikin kalimat ini punya nuansa klaim <em>overrated<\/em>.\u00a0Kalau dibalik, &#8220;Musiknya bagus tapi kok nggak populer&#8221;, nada klaimnya jelas berubah jadi <em>underrated<\/em>.<\/p>\n<p>&#8220;Musik jelek&#8221; berarti soal karyanya. &#8220;Populer banget&#8221; berarti popularitasnya.<\/p>\n<p>Menilai karya berarti perlu standar mutu yang jelas. Sementara kesepakatan soal itu susah terwujud di kancah seni. Jadi, mending kamu tentukan sejak awal gimana kriteria mutu yang kamu pegang, tanpa ragu. Ini nanti dibahas sendiri di poin keempat. Sementara ngukur popularitas juga butuh angka-angka, ini dibahas juga di poin kedua.<\/p>\n<p>Selain dua itu, ada satu hal yang seringnya luput dicermati, yaitu soal lingkupnya. &#8220;Populer di mana?&#8221;<\/p>\n<p>Di eksperimen terkenal oleh Salganik, Dodds, &amp; Watts (2006), 14.341 peserta diminta <em>download<\/em> lagu-lagu dari band nggak dikenal. Mereka dibagi jadi beberapa kelompok terpisah, tapi setiap orang cuma bisa lihat lagu mana yang paling banyak diunduh sama rekan satu kelompok. Hasilnya, lagu A bisa hits di kelompok A, tapi nggak laku sama sekali di kelompok B. Penyebabnya, begitu awalnya ada beberapa orang di suatu kelompok suka lagu A itu, berikutnya orang-orang yang lain cenderung ikut-ikutan.<\/p>\n<p>Jadi waktu kamu melihat sebuah lagu diulas berkali-kali di <em>timeline<\/em> pribadi, jangan langsung dianggap lingkup popularitasnya sudah seluas itu. Takutnya cuma <em>echo-chamber<\/em>.<\/p>\n<h2>2. Pakai angka apa, dapat dari mana?<\/h2>\n<p>Klaim &#8220;populer banget&#8221; butuh angka, dan angkanya nggak bisa seragam.<\/p>\n<p>Jumlah penonton konser dibatasi kapasitas venue dan harga tiket.\u00a0Soal jumlah pendengar bulanan di <em>platform streaming<\/em>, perolehannya nggak semua berasal dari pilihan sadar si pendengar. Masih ada fitur rekomendasi, dan jangan lupa <em>autoplay<\/em>. Terus, penjualan rilisan pun &#8216;cuma&#8217; bisa motret konsumen mampu, bukan penggemar secara keseluruhan. Jadi, selalu ada celah.<\/p>\n<p>Terus lagi, kalau pakai popularitas sebagai jalan pintas untuk menilai kualitas karya, sebaiknya jangan dulu.<\/p>\n<p>Angka popularitas cuma cocok buat jadi dasar klaim popularitas. Kalau dipakai menilai karya, misal &#8220;bagus, makanya laku keras,&#8221; atau &#8220;jelek jadi ngga laku,&#8221; itu namanya <em>offside<\/em>. Alat ukurnya sih akurat dan bagus, tapi satuan yang dipilih salah. Kalau mau ngukur panjang harusnya pakai penggaris atau meteran, eh ini keliru ambil termometer.<\/p>\n<p>Soal ini, <em>relate<\/em> banget sama kutipan satir penulis Henrik Ibsen di naskah drama <em>An Enemy of The People<\/em> (1882). &#8220;<em>The majority is always wrong; the minority is rarely right<\/em>,&#8221; kata karakter Dr. Thomas Stockman di drama itu.<\/p>\n<p>Jadi, angka mayoritas cuma membuktikan berapa banyak orang yang kumpul, bukan membuktikan siapa yang paling benar atau karya mana yang paling bagus.<\/p>\n<h2>3. Gimana perbandingannya?<\/h2>\n<p dir=\"auto\">Selain soal angka, masalah lain yang sering muncul adalah pembandingnya.\u00a0<em>Overrated<\/em> dan <em>underrated<\/em> di bahasa Inggris itu kata sifat, tapi ada nuansa perbandingan di dalamnya. Kalau ada satu musisi disebut overrated, berarti pujian kepadanya dinilai berlebihan dan musisi lain-lah yang lebih pantas. Di ranah pembanding inilah biasanya yang bermasalah, soalnya sering nggak apple to apple.<\/p>\n<p>Band progresif yang lagunya rata-rata sepuluh menit dibandingkan unit dengan lagu-lagu yang dirancang untuk radio. Solois pop versus folk akustik. Musisi peraih platinum lawan musisi yang baru muncul di era streaming. Tiga contoh ini keliru karena dasar perbandingannya nggak sama, beda aliran, beda format, beda zaman.<\/p>\n<p>Jadi, &#8220;bagus tapi kok nggak rame&#8221; atau &#8220;biasa aja tapi populer&#8221; ini sebaiknya disebutkan juga dibanding siapa.<\/p>\n<p>Pembandingnya juga harus sepadan, dengan aliran, generasi, dan skala yang kurang lebih sama. Kalau beda zaman, mending perbandingannya sesuai zamannya masing-masing. Karena satuan dan ukuran pasarnya sudah beda, jadi nggak adil kalau langsung membandingkan jumlah penjualan atau angka pemutaran bulanannya.<\/p>\n<p>Ini mungkin bisa jadi contoh perbandingan yang sepadan, yaitu Metallica dan Megadeth. Dua-duanya <em>thrash metal<\/em> dari generasi yang sama, bahkan Megadeth dibentuk Dave Mustaine yang pecatan dari Metallica. Karena aliran, zaman, dan akarnya sama, selisih popularitas keduanya layak dipertanyakan. Dan buat menentukan siapa lebih overrated-underrated dari siapa, tentu masih harus memenuhi syarat berikutnya.<\/p>\n<h2>4. Standar mutu yang mana?<\/h2>\n<p>Disinggung di poin pertama tadi, menilai karya musik butuh kriteria mutu yang jelas. Kata <em>over<\/em> dan <em>under<\/em> secara implisit berarti perlu titik acuan atau takaran ideal. Nah, makanya sekarang perlu ditemukan pantasnya diukur dari mana?<\/p>\n<p>Apa dari inovasi musiknya, tajam liriknya, teknik permainan instrumen atau rekaman, pengaruh, atau konsistensi kualitas dari album ke album? Kalau standar mutu ini nggak diungkapkan, arah klaimnya jadi nggak karuan.<\/p>\n<p>Balik ke eksperimen Salganik dkk. tahun 2006 di poin pertama tadi. Di situ selain ada faktor ikut-ikutan, ada pola lain yang juga unik. Lagu yang dinilai objektif paling bagus jarang berakhir di posisi buncit, dan lagu yang dinilai paling jelek hampir nggak pernah bisa sampai ke puncak. Ini berarti standar mutu masih punya cukup pengaruh.<\/p>\n<p>Bahkan di eksperimen lanjutan mereka (2008) yang melibatkan 12.207 peserta, peneliti sengaja merekayasa angka popularitas lagu. Hasilnya? Memang sebagian besar lagu terdongkrak oleh manipulasi angka itu, tapi lagu-lagu dengan kualitas terbaik pelan-pelan bisa naik lagi ke posisi atas dalam jangka panjang. Majalah Nautilus yang mengulasnya, bilang kalau fenomena adalah bukti bahwa kriteria mutu karya seni itu bukan ilusi, tapi beneran nyata dan punya daya tahan.<\/p>\n<p>Tapi, standar mutu itu pun sebenarnya dibentuk oleh posisi dan latar belakang si penilai. Selera yang dianggap &#8220;paling objektif&#8221; seringnya adalah produk dari lingkungan, edukasi, dan pergaulan. Jadi kesimpulannya, mutu yang nyata itu nggak punya standar tunggal yang disepakati. Makanya syarat keempat ini simpelnya kamu bebas milih dan menentukan standarmu. Tapi sebutkan dan akui secara terang-terangan sejak awal, lalu konsistenlah.<\/p>\n<h2>5. Ngaku aja, ini seleramu-itu bukan<\/h2>\n<p>Kalau empat syarat di atas sudah terpenuhi, berarti argumen <em>overrated-underrated<\/em>-mu sudah hampir valid dan nggak terbantahkan. Cuma, masih belum sempurna sebelum kamu kroscek ulang poin yang satu ini, yaitu efek personal.<\/p>\n<p>Efek sebuah karya ke personal seseorang nggak bisa dibuktikan pakai data. Ini murni selera.<\/p>\n<p>Kamu bisa mengklaim karakter vokal Bernadya itu bikin dada tenang, sekaligus nggak bisa nolak kalau ada orang yang bilang &#8220;nyanyinya kayak orang sleepcall&#8221;. Atau kamu merasa lagu-lagu Sheila on 7 terkesan cemen kalau dibawakan bapak-bapak kelas menengah WNI <em>in this economy. <\/em>Sementara buat bapak-bapak lainnya, lagu mereka jadi hiburan nostalgik yang aman buat &#8220;lari&#8221; sebentar dari tekanan.<\/p>\n<p dir=\"auto\">Dua-duanya sama-sama valid di versi masing-masing. Soalnya nggak ada data empiris yang bisa mengukur <a href=\"https:\/\/hipkultur.com\/en\/frisson-sensasi-merinding-saat-mendengarkan-musik\/\">efek Frisson\u00a0<\/a>(merinding pas denger lagu), atau jengah dan muaknya seseorang waktu mendengarkan lagu.<\/p>\n<p dir=\"auto\">Jadi lebih simpel lagi, syarat terakhir ini cuma perlu jujur. Ngaku jujur kalau menurut seleramu si A itu aneh kalo banyak yang suka, atau sebaliknya heran karena nggak sepopuler ekspektasimu. Itu sama sekali nggak salah dan kamu bisa membela argumenmu itu habis-habisan.<\/p>\n<p dir=\"auto\">Tapi yang jelas, karena nggak bisa dibuktikan dengan data empiris, akhirnya ya nggak ada menang-kalah. Kalau masih nggak bisa nahan diri untuk debat atau bilang <em>overrated-underrated<\/em>, ya silakan. Setidaknya kamu tahu mana yang data, mana yang selera. Dan selera tetap boleh dibela, asal beneran diaku sebagai selera.<\/p>\n<p dir=\"auto\">","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nyebut sesuatu overrated atau underrated adalah jalan pintas favorit banyak orang. Cukup satu kata, dan kita bisa langsung kelihatan punya selera yang unik dan beda, sekaligus punya musuh mendadak. Modalnya murah, risikonya rendah, paling cuma dicap elitis, nggak sampai diminta klarifikasi dan minta maaf ke publik. Setelah kata itu keluar, nanti biasanya berakhir dengan skenario [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":13151,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6377],"tags":[201,615,802],"class_list":["post-13004","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-idea","tag-media-sosial","tag-musik","tag-psikologi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13004","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13004"}],"version-history":[{"count":17,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13004\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13150,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13004\/revisions\/13150"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13004"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13004"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hipkultur.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13004"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}